BAB 1

23 1 0
                                        

"HAL-HAL YANG BIASA"

Pagi di Fakultas Hukum Universitas Dharma Satya tidak pernah benar-benar sunyi, tetapi selalu berhasil terlihat tenang bagi siapa pun yang hanya melintas tanpa benar-benar memperhatikan. Gedung itu berdiri dengan kesan kokoh dan teratur, seperti institusi yang tahu persis bagaimana dirinya harus dilihat, sementara di dalamnya, segala sesuatu bergerak dengan ritme yang lebih rumit daripada yang tampak di permukaan. Mahasiswa datang silih berganti, beberapa dengan langkah tergesa karena hampir terlambat, beberapa lainnya berjalan santai sambil membuka catatan atau sekadar berbincang, seolah waktu di kampus bisa dinegosiasikan. Di tangga depan, sekelompok mahasiswa berdebat tentang suatu pasal dengan intensitas yang terlalu tinggi untuk ukuran pagi hari, sementara di sisi lain, papan pengumuman dipenuhi orang-orang yang berhenti hanya cukup lama untuk membaca judul sebelum melanjutkan aktivitas mereka. Semua terlihat biasa. Terlalu biasa, bahkan.

Di antara keramaian yang tidak pernah benar-benar berhenti itu, Mahesa Pradipta berdiri sedikit lebih lama dari yang lain di depan papan pengumuman. Ia tidak sekadar melihat, melainkan membaca. Setiap lembar kertas yang ditempel di sana ia perhatikan dengan cara yang sama, dimulai dari bagian atas, perlahan turun, tanpa melewatkan satu baris pun. Bukan karena semua informasi itu penting, melainkan karena ia tidak pernah merasa nyaman jika harus memutuskan mana yang boleh diabaikan dan mana yang tidak. Ada sesuatu dalam dirinya yang menolak kemungkinan kesalahan sekecil apa pun, bahkan untuk hal-hal yang bagi orang lain tidak lebih dari formalitas kampus yang akan segera dilupakan.

Kresna Adhikara sudah berdiri di sampingnya sejak beberapa detik yang lalu, meskipun Mahesa tidak langsung menyadarinya. Ia bersandar pada dinding dengan satu kaki sedikit menekuk, memperhatikan Mahesa dengan ekspresi yang sulit dijelaskan antara heran dan sudah terlalu terbiasa untuk benar-benar mempertanyakan. Baginya, kebiasaan Mahesa itu bukan hal baru, hanya saja tetap terasa berlebihan setiap kali dilihat secara langsung.

“Lo kalau baca gitu, sekalian hafal juga nggak?” ucapnya akhirnya, nada suaranya santai seperti obrolan yang tidak benar-benar membutuhkan jawaban serius.

Mahesa tidak langsung menoleh. Matanya masih tertuju pada baris terakhir yang sedang ia baca sebelum akhirnya ia menjawab dengan singkat, “Kalau perlu.”

Kresna menghela napas pelan, lalu menggeser posisinya sedikit tanpa benar-benar menjauh. “Itu pengumuman kegiatan sama administrasi doang, Hesa. Bukan undang-undang negara.”

Kali ini Mahesa berhenti. Ia menutup fokusnya pada papan itu, lalu menoleh dengan gerakan yang tidak tergesa. Tatapannya tenang seperti biasa, tanpa kesan tersinggung atau terganggu. “Semua yang ditempel di sini tetap punya konsekuensi,” katanya, datar, seolah pernyataan itu tidak perlu diperdebatkan.

Kresna menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Lo tuh ya… cocok banget jadi buku berjalan.”

Mahesa tidak membalas komentar itu. Ia hanya merapikan posisi tas di bahunya, memastikan semuanya berada pada tempatnya, sebelum akhirnya berbalik dan mulai berjalan meninggalkan papan pengumuman. Kresna tidak perlu diajak untuk ikut. Ia sudah bergerak lebih dulu, seolah memang selalu tahu ke mana arah mereka berikutnya, dan Mahesa, seperti biasanya, menyusul tanpa perlu banyak kata.

Kantin Fakultas Hukum berada tidak jauh dari gedung utama, tetapi suasananya hampir selalu berbeda dari ruang kelas maupun lorong. Jika ruang kelas dipenuhi dengan struktur dan aturan, maka kantin adalah tempat di mana semuanya dilepas setidaknya di permukaan. Meja-meja penuh oleh mahasiswa yang berbicara dalam volume yang beragam, mulai dari sekadar bercanda hingga perdebatan yang terdengar seperti sidang kecil tanpa moderator. Kata-kata seperti “pasal”, “unsur”, dan “interpretasi” melayang begitu saja di udara, bercampur dengan suara gelas yang diletakkan terlalu keras dan tawa yang tidak selalu berasal dari sesuatu yang lucu.

Forum Tanpa PutusanWhere stories live. Discover now