PRLOG

40 13 7
                                        

Banyak orang bilang, dunia sihir yang penuh keajaiban dan hal-hal di luar nalar manusia itu hanyalah dongeng belaka. Sesuatu yang eksklusif, yang hanya bisa ditemui dalam lembaran buku fiksi tebal atau durasi terbatas dalam film layar lebar. Namun bagiku, batas antara fiksi itu dan realitas terasa begitu tipis, bahkan nyaris lebur. Ingatan tentang dunia itu samar-samar melintas di dalam kepalaku, tidak persis seperti mimpi, tapi lebih menyerupai sebuah kenyataan yang tertinggal. Bukan mimpi indah yang manis, melainkan mimpi buruk panjang. Sebuah mimpi yang tidak dimulai saat mata terpejam dan berakhir saat pagi menjelang, melainkan mimpi yang justru dimulai saat kesadaran pulih hingga nanti aku menutup usia selamanya.

Aku tersentak bangun di atas tempat tidur dengan napas memburu, seolah paru-paruku baru saja dikuras habis. Hal pertama yang kulakukan secara refleks adalah menyambar pergelangan tangan kiri. Arloji perak merek Casio dengan penunjuk angka Romawi yang selalu melingkar di sana masih berdetak normal. Tik-tak-tik-tak. Suaranya terdengar begitu nyaring dan konstan di telingaku, menjadi satu-satunya penanda realitas yang bisa kupegang saat ini. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit, tetapi udara kamar yang menyentuh kulitku terasa jauh lebih menusuk dari biasanya.

Dingin itu membuatku waswas untuk sekadar menyibak gorden yang menutup rapat jendela kamar. Pikiranku masih terjebak pada bayangan langit yang terhalang dahan-dahan pepohonan raksasa, seolah-olah aku sedang berada di tengah hutan belantara antah berantah.

Dengan tangan sedikit gemetar, perlahan aku mengintip keluar jendela. Semburat sinar matahari pagi langsung tertangkap mataku. Dengan gerakan kasar karena tak sabar, aku menyentak gorden hingga terbuka lebar. Helaan napas lega seketika lolos dari bibirku. Tidak ada yang aneh. Semuanya tampak normal seperti pagi-pagi biasanya dari balik jendela kamar guru asrama Orenz. Tidak ada pohon-pohon raksasa yang mencekam, tidak ada deretan bangunan berasitektur Eropa klasik yang asing. Pun tidak tercium aroma manis kue panggang yang bercampur dengan udara hutan yang sejuk namun menyesakkan dada.

“Huft... Kayaknya Cuma mimpi, deh,” gumamku lirih, memecah kesunyian kamar pagi ini.

Aku masih terdiam, duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk, mencoba menenangkan jantung yang sedari tadi berdegup tidak karuan.

Ting!

Bunyi nyaring notifikasi ponsel mengejutkanku. Benda pipih itu tergeletak cukup jauh, memaksaku sedikit merangkak untuk meraihnya. Ternyata hanya pesan tidak penting yang bisa kubalas nanti. Namun, layar yang menyala itu memancing ingatanku yang sedikit kabur untuk mengecek kembali catatan digital yang biasa kukirimkan ke nomor pribadiku sendiri sebagai pengingat.

Mataku menyusuri barisan teks di layar. Tertulis daftar nama siswa kelas sembilan dengan sebuah catatan rekapitulasi di baris paling bawah: tiga puluh lima terdaftar, dua tidak.

Dahiku berkerut dalam. Aku tidak ingat kapan atau mengapa aku menulis rincian spesifik seperti ini, namun ada sesuatu yang terasa ganjil dan mengganjal di ulu hati. Apa maksud dari “terdafta” dan “tidak”? Memang benar, ada dua siswa yang drop out dari angkatan mereka. Namun, rasanya bukan itu alasannya. Jika dihitung dengan dua siswa yang keluar, seharusnya total siswa ada tiga puluh sembilan, bukan tiga puluh tujuh seperti hasil penjumlahan catatan ini.

Lalu, ke mana sisa hitungannya? Apa maksud semua angka ini?

Aku terdiam, tenggelam semakin dalam ke dasar pikiranku sendiri. Tubuhku mematung, mataku terpejam erat mencoba menggali ingatan dengan sungguh-sungguh. Namun, yang kudapat hanyalah rasa pening yang menghantam kepala dengan hebat. Nihil. Benar-benar kosong. Ketidaktahuan ini membuat tarikan napasku kembali memberat dan jantungku seolah didekap perasaan gelisah yang tak beralasan.

Benarkah selama beberapa hari terakhir ini tidak terjadi apa-apa? Atau aku yang melupakan sesuatu yang fatal?

The Hidden European Town [END]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora