Dunia di mata Mikaela tidak pernah sederhana. Di saat orang lain hanya melihat kerumunan mahasiswa yang berlarian mengejar kelas, Mikaela melihat ribuan utas benang perak yang menjuntai dari leher mereka.
Ada yang tebal dan bersinar terang—pertanda umur yang masih panjang—dan ada yang tipis meredup, seolah siap putus kapan saja.
Sebagai mahasiswi hukum, Mikaela belajar untuk hanya mempercayai bukti fisik. Tapi, bagaimana dia bisa mengabaikan penglihatannya sendiri jika setiap kali benang seseorang berubah menjadi hitam, maut selalu menjemput mereka beberapa jam kemudian?
"Mikaela! Fokus, dong!"
Suara cempreng Jemima membuyarkan lamunan Mikaela.
Sahabatnya itu sedang sibuk mengamati kerumunan di kantin kampus dengan mata jeli khas anak Psikologi.
"Lo lihat dosen hukum perdata kita tadi? Pas dia lewat, lo pucat banget. Ada apa? Benangnya... hitam?" bisik Jemima pelan, hampir tak terdengar.
Mikaela mengangguk samar, tangannya gemetar menggenggam cangkir kopi.
"Tadi pagi masih perak. Pas di kelas tadi, warnanya berubah jadi jelaga. Pekat sekali, Jem."
Dua jam kemudian, kabar itu menyebar: Sang dosen meninggal karena serangan jantung di ruangannya.
"Penglihatan lo nggak pernah salah, Mikaela," gumam Jemima saat mereka berjalan menuju parkiran.
"Itu kutukan, atau anugerah?"
"Itu beban,"
jawab Mikaela pendek.
Sore itu, hujan turun membasahi Jakarta. Mikaela pulang ke rumah dengan perasaan lelah yang luar biasa.
Dia hanya ingin memeluk ibunya, mencium aroma masakan rumahan, dan melihat satu-satunya hal yang membuatnya merasa aman: Benang Perak di leher Ibunya.
Benang milik Ibunya adalah yang terindah. Paling tebal, paling bercahaya, dan selalu memberikan rasa hangat tiap kali Mikaela menatapnya.
"Ibu? Mikaela pulang," serunya sambil melepas sepatu.
"Di dapur, Sayang! Ibu buatkan ayam goreng kesukaanmu!" sahut suara dari dalam. Suaranya persis. Nadanya sama.
Mikaela berjalan ke dapur, senyum mulai terukir di wajahnya. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu.
Ibunya sedang berdiri membelakanginya, sibuk memotong ayam.
Tapi ada yang aneh. Ibu adalah orang paling kidal yang Mikaela kenal, namun sore ini, wanita itu memegang pisau dengan tangan kanan—begitu luwes, seolah dia sudah terbiasa melakukannya seumur hidup.
"Bu?" panggil Mikaela ragu.
Wanita itu berbalik. Wajahnya identik dengan ibunya. Lesung pipinya, kerutan halus di sudut matanya, semuanya sama. Dia tersenyum sangat lebar pada Mikaela.
"Kenapa diam saja? Ayo makan."
Darah Mikaela terasa membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat matanya turun ke arah leher wanita itu.
Kosong.
Tidak ada benang perak yang tebal. Tidak ada benang hitam yang menandakan maut.
Tidak ada cahaya sama sekali.
Kulit leher itu putih mulus, hampa, seolah-olah wanita di depannya ini hanyalah sebuah cangkang kosong yang bernapas.
"Bu... leher Ibu..."
bisik Mikaela, suaranya tercekat.
Wanita yang menyerupai Ibunya itu memiringkan kepala sedikit ke kanan. Gerakannya patah-patah, seperti boneka yang talinya ditarik paksa. Senyumnya tidak luntur, malah semakin lebar hingga sudut bibirnya tampak gemetar.
"Ada apa dengan leher Ibu, Mikaela? Apa ada yang salah?"
Mikaela mundur selangkah. Di cermin besar yang tergantung di dinding ruang makan, dia melihat pantulan wanita itu.
Di dalam cermin, sosok itu tidak sedang tersenyum. Sosok di dalam cermin sedang menatap Mikaela dengan tatapan lapar, dan di lehernya... melilit sebuah benang hitam yang sangat besar, mencekik bayangan ibunya yang asli yang meronta di kegelapan kaca.
Detik itu Mikaela sadar. Yang berdiri di hadapannya saat ini... bukan Ibunya.
Vote dan komen yaaa
____________________________________
See u the next chapter
YOU ARE READING
Bukan Ibu: The Stringless
Mystery / Thriller"Di leher setiap manusia, ada seutas benang perak yang menentukan sisa usia. Tapi di leher wanita yang mengaku Ibuku itu... semuanya kosong." Mikaela adalah mahasiswi Hukum yang hidup dengan rahasia besar: sepasang matanya mampu melihat Benang Tak...
