Logika Lantai Dua Puluh Dua

4 1 0
                                        

Jakarta selalu memiliki cara untuk mengingatkan penghuninya bahwa waktu adalah komoditas yang paling mahal. Di lantai 22 Gedung Dirgantara Group, deru mesin pendingin ruangan yang halus menyatu dengan ketukan sepatu hak tinggi di atas lantai marmer yang mengilap. Di sini, di pusat saraf perusahaan investasi paling berpengaruh di ibu kota, kesalahan sekecil apapun bisa berarti kehilangan angka nol yang sangat banyak dalam laporan keuangan.

Kala Anindya Tunggal Ayu berdiri di depan kaca besar yang menghadap kearah Gedung-gedung pencakar langit. Jilbab segi empat bewarna nude yang ia kenakan tersemat sempurna, tanpa ada satu helai rambut yang keluar dari jalurnya. Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya dari debar jantung yang sebenarnya sudah terbiasa dengan ritme kerja yang gila ini.

Delapan tahun. Sudah delapan tahun ia merantau dari kehangatan kayu jati kediamannya menuju dinginnya beton Jakarta.

"Mbak Anin, Pak Arkan minta laporan evaluasi aset sekarang. Tadi suaranya di telepon... yah, Mbak tahu sendiri, kaku kayak es batu," bisik Dodi, staf admin yang mejanya tepat di luar area privasi asisten pribadi

Anin hanya memberikan senyum tipis jenis senyum yang sopan namun mengandung pembatas yang jelas. "Terima kasih, Pak Dodi. Saya sudah siapkan."

Anin meraih map kulit bewarna biru tua dengan sebuah nampan kecil. Di atas nampan tersebut terdapat air mineral. Tidak ada kopi. Tidak ada teh. Hanya air mineral. Ia melangkah menuju pintu kaca yang menujulang tinggi, berat. Tanpa ragu, ia mengetuk dua kali.

"Masuk." Singkat, tajam, dam terdengar otoriter yang tidak dapat dibantah.

Anin mendorong pintu. Di balik meja besar yang terbuat dari kayu mahoni gelap, duduklah Arkana Pradipta Dirgantara. Pria itu adalah definisi dari kata 'presisi'. Kemeja putihnya tidak memiliki satu pun kerutan, rambutnya tertata rapi, dan matanya yang tajam sedang terpaku pada monitor yang menampilkan grafik fluktuasi pasar saham global yang bergerak liar.

"Laporan evaluasi untuk proyek pengembangan di Jawa Tengah sudah saya sinkronisasi ke email Bapak sepuluh menit yang lalu. Dan ini salinan fisiknya untuk Bapak tanda tangani," ucap Anin. Suaranya rendah, lembut, namun memiliki kejelasan yang didapatnya dari bangku kuliah. Di sana, ia belajar bahwa dalam situasi kritis, suara yang tenang adalah obat pertama.

Arkan tidak mendongak. Jemarinya lincah di atas keyboard. "Saya minta kopi, Anindya. Bukan map."

Anin tidak bergeming. Ia meletakkan gelas air mineral itu tepat di sisi kanan Arkan, jauh dari jangkauan kabel tapi cukup dekat untuk diraih. "Bapak sudah mengonsumsi dua cangkir hitam pagi ini. Menurut catatan aktivitas Bapak, asupan kafein berlebih sebelum jam sepuluh pagi hanya akan meningkatkan tremor halus di tangan dan mengganggu fokus jangka panjang. Bapak ada rapat maraton sampai jam lima sore. Saya sarankan air mineral ini dulu."

Arkan menghentikan ketikannya. Ia mendongak. Matanya yang tajam menatap Anin dari balik kacamata bacanya. "Saya mempekerjakan asisten pribadi, bukan suster pribadi, Anindya. Sejak kapan kamu mengatur apa yang masuk ke lambung saya?"

Anin tetap pada posisinya. Dagunya terangkat sedikit, menunjukkan ketegasan yang dibalut kesantunan. "Tugas saya adalah memastikan aset terpenting perusahaan ini—yaitu kesehatan Bapak—tetap dalam kondisi prima untuk mengambil keputusan. Jika Bapak mengalami gangguan lambung di tengah rapat nanti, jadwal Bapak selama seminggu ke depan akan berantakan. Secara hitungan finansial, itu adalah inefisiensi yang besar."

Arkan terdiam sejenak. Ia selalu benci saat Anin menggunakan logika bisnis untuk membenarkan perhatian medisnya. Namun, ia tidak bisa membantah. Anin selalu benar soal data, termasuk data biologisnya sendiri.

Arkan meraih gelas air mineral itu dan meminumnya hingga separuh. "Puas?"

"Sangat, Bapak," jawab Anin tanpa ekspresi. "Map itu perlu tanda tangan Bapak di halaman dua belas."

Arkan menarik map itu, membacanya sekilas dengan kecepatan yang luar biasa. "Kenapa kamu memasukkan variabel 'fasilitas kesehatan masyarakat' di draf investasi lahan ini? Itu bukan urusan kita."

"Itu urusan keberlanjutan, Bapak. Jika kita membangun kawasan industri di sana tanpa memperhatikan akses kesehatan warga lokal, risiko resistensi sosial akan meningkat 30%. Pendekatan preventif jauh lebih murah daripada menangani demonstrasi warga di kemudian hari," jelas Anin panjang lebar.

Arkan menatap Anin lebih lama kali ini. Anin bukan sekadar asisten yang mencatat jadwal. Dia adalah orang yang melihat celah yang dilewatkan oleh para analis lulusan luar negeri. "Kamu terkadang terlalu idealis untuk orang yang bekerja di bidang keuangan, Anindya."

"Saya hanya mencoba menjadi praktis, Bapak," jawab Anin pendek.

Arkan membubuhkan tanda tangan yang berlekuk tajam. "Siapkan mobil jam satu siang. Kita ada pertemuan di luar."

"Baik, Bapak. Saya permisi."

Anin keluar dari ruangan itu dengan langkah yang sama tenangnya saat ia masuk. Di luar, ia duduk di mejanya, menatap layar komputer yang menampilkan jadwal Arkan yang padat. Di sudut hatinya, ada rasa lelah yang ia simpan rapi. Menjadi asisten Arkan berarti harus menjadi benteng yang tidak boleh retak. Ia harus profesional, dingin, dan efisien.

Ponsel pribadinya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Saka.

"Nin, jangan lupa nanti malam ada janji sama vendor dekorasi. Jangan dimatiin HP-nya kayak minggu lalu. Kamu itu kalau kerja jangan keterlaluan sampai lupa urusan rumah."

Anin memejamkan mata sejenak. Saka adalah bagian dari dunianya di Jogja, tunangan yang dipilihkan oleh kedekatan keluarga besar. Namun di Jakarta, di antara gedung-gedung tinggi ini, suara Saka terasa seperti beban tambahan yang sulit ia pikul. Saka tidak pernah mengerti tekanan di lantai 22. Bagi Saka, pekerjaan Anin hanyalah "membantu bos kaya".

Ia tidak membalas pesan itu. Ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Bagi Anin, jam kerja adalah waktu di mana dunia pribadinya harus mati. Ia adalah bayangan Arkana Pradipta Dirgantara, dan bayangan tidak punya urusan pribadi.

Jam menunjukkan pukul 12.45. Anin berdiri, merapikan blazernya, dan memastikan tas kerja Arkan sudah siap di depan pintu. Ia adalah asisten yang sempurna, namun di balik itu semua, ia adalah seorang wanita yang merindukan aroma vanila dan tepung di dapur, jauh dari angka-angka yang menuntut ini. Ia melangkah menuju lift, bersiap menghadapi paruh kedua hari yang melelahkan.

Mending Resign!Where stories live. Discover now