Prolog

3 0 0
                                        

Haaaaaiiiiiii
Ada yang suka karakter BBB alias Boboiboy??

Nah, Yura mau coba nih bawain cerita tentang salah satu elemen dari tujuh elemen yang di punyai oleh Oboi

Yaitu THORN!!!

Si bocil daun yang suka berantem sama Solar
Hehehe

Aku suka dia karna kepolosannya (yaa nyerempet bego sih, TAPI LUCU)

Udah sih, itu aja

Hehehe

Mari kita baca prolognya dulu yuuuukkk
































×××

Prolog~
























Hidup seorang Tan Wei Fang itu selalu... teratur.

Setiap detik dalam hidupnya terhitung dengan presisi kalkulatif yang hampir mekanis. Bangun tepat pukul 05.30. Sarapan gizi seimbang disajikan tepat pukul 06.00. Berangkat menuju kantor tempatnya memimpin tepat pukul 06.45.

Semua berjalan seperti garis lurus-rapi, presisi, tanpa celah untuk kesalahan sekecil apa pun. Tidak ada ruang untuk keterlambatan. Tidak ada ruang untuk improvisasi spontan. Apalagi... sebuah kekacauan domestik yang tidak masuk akal.

Sampai suatu hari... garis lurus yang dibangunnya dengan begitu kokoh itu bertabrakan hebat dengan badai kecil bernama Leticia Thorn Ardinata.

Dan sekarang-

"FANG!!!"

Suara teriakan bernada tinggi itu menggema memecah ketenangan dari dalam rumah, cukup keras untuk membuat beberapa ekor burung gereja yang hinggap di dahan pohon mangga halaman depan terbang panik seketika.

Fang yang baru saja melangkah menyeberangi ambang pintu utama langsung menghentikan gerakan kakinya. Rahangnya menegang seketika. Alis tebal di balik kacamata tajamnya sedikit berkerut, mendeteksi sinyal gangguan frekuensi harian. Tangannya yang masih memegang tas kerja kulit hitam perlahan turun ke samping tubuhnya.

Ia memejamkan mata sebentar, merasakan pening samar mulai merayap di pelipis. Menarik napas panjang untuk mengisi paru-parunya dengan sisa-sisa kesabaran. Menghembuskannya perlahan, mencoba mempertahankan ketenangan profesionalnya.

"...baru juga pulang," gumamnya datar, suaranya pelan namun sarat akan kepasrahan implisit.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh untuk menanggalkan sepatu pantofelnya, sosok istrinya sudah muncul melintasi lorong tengah rumah. Langkahnya cepat-tidak, lebih tepatnya setengah berlari dengan koordinasi tubuh yang agak canggung-memamerkan raut wajah yang campur aduk secara ekstrem.

Cemberut.
Kesal.
Dan... nyaris menangis dengan binar air mata yang menggenang di sudut kelopak matanya.

Rambut bahagian atasnya sedikit berantakan akibat gesekan bantal, kaus rumah berbahan katun kebesaran yang dikenakannya tampak kusut di beberapa bagian, dan yang paling menyita perhatian-perut yang mulai membulat itu terlihat jelas, menegaskan keberadaan kehidupan baru yang kini tumbuh di dalamnya.

Thorn berhenti tepat satu langkah di depan Fang. Menatap suaminya dengan mata bulat hijau yang berkaca-kaca, bibirnya yang berwarna merah alami bergetar pelan, seolah menahan gelombang emosi yang meluap-luap.

Onze Reis Stories to obsess over. Discover now