Tatapanku tak beralih pada Narcissius yang mulai mekar, kelopaknya agak bening, sehingga aku dapat melihat serangga yang sedang bersembunyi di bawahnya, mahkota tengah berwarna kuning pada bunga ini mulai bermekaran membentuk terompet cawan. Aku mengambil air dengan telapak tanganku, lalu menyiramkan ke bunga cantik ini. Satu tetesan air yang jatuh mengenai inti pada mahkotanya langsung membuat mereka semakin merekah dan warnanya lebih menyala. Melihat itu, wanita tua di sebelahku ternganga kagum, senyumannya lepas begitu saja sembari ia menarik tanganku untuk berdiri.
"Kau benar-benar hebat, Kenneth! Kita bisa saja lebih hemat dan tetap memiliki taman yang cantik kalau kau yang merawatnya!" Wanita itu memberi pujian kepadaku atas apa yang baru saja kulakukan. Padahal, sehari yang lalu ia masih merasa ragu untuk menerimaku sebagai muridnya di sini.
"Ah, itu bukan hal yang besar, Nyonya Dynn!" jawabku canggung.
Nyonya Dynn lalu mengajakku berkeliling di taman unik ini. Di mana, aku bisa melihat beberapa pohon benar-benar saling menari, burung-burung yang berkicau di atasnya ikut bernyanyi, dan bunga-bunga di sini bisa berbicara antara satu dengan yang lainnya.
Aku pikir, tadi aku cuma salah dengar dan salah lihat. Sebab, hal-hal semacam itu langka terjadi di luaran sana, bahkan aku sendiri belum pernah menyaksikan tanaman menjadi sebahagia itu. Namun, inilah Akademi Stelios Kourelis dengan segala keunikannya.
"Kalau ini, bisa?" tanya Nyonya Dynn sambil menyebarkan benih bunga poppy di tanah, dan wah! Bunga itu langsung tumbuh dalam hitungan detik-ya, meskipun langsung layu dalam sepuluh detik setelahnya.
Aku mengangguk sambil tersenyum miring. Hal-hal seperti ini bukan hal yang aneh lagi bagiku, sebab aku memang terlahir dengan kemampuan untuk bisa menumbuhkan tanaman hanya dengan sekali sentuh, makanya aku dipaksa masuk ke akademi ini, karena Akademi Stelios Kourelis memang tempatnya orang-orang berbakat unik untuk menyalurkan bakatnya pada hal yang berguna.
Tanpa banyak bicara, aku langsung menyebarkan benih bunga poppy di tempat lain. Dalam sekejap, bunga poppy milikku langsung tumbuh, dan durasi pertahanannya lebih lama daripada milik Nyonya Dynn. Melihat itu, Nyonya Dynn kembali bertepuk tangan memberi apresiasi.
Kami lanjut jalan, rencananya akan ke aula utama untuk melaksanakan makan siang bersama dengan akademia lain. Selama di perjalanan ini, aku melihat kijang bersayap yang kemarin sore membawaku ke tempat ini. Seolah tahu kalau aku senang padanya, kijang itu mengepakkan sayapnya beberapa kali.
Aku dan Nyonya Dynn sibuk mengobrol sembari menyaksikan banyak kupu-kupu yang hinggap di bunga, lalu terbang membentuk lingkaran di udara, sampai-sampai kami tak sadar jika di hadapan kami ada demigod amatiran yang jatuh sambil menunggangi kijang bersayap lainnya.
"Wohoo, waaaaah!" teriak anak laki-laki itu setelah tubuhnya terbanting ke tanah. Kijang bersayap yang baru ia tunggangi ikutan merintih.
"Ya ampun, Alaric! Siapa yang menyuruhmu menaiki kijang itu? Kamu jangan bermain-main, ya! Kijang-kijang di sini bukan kendaraan pribadimu!" omel Nyonya Dynn sambil menjewer telinga demigod yang bernama Alaric itu.
Alaric mengaduh kesakitan sambil berguling-guling di lantai, beberapa detik kemudian, tiba-tiba ada air yang mengguyur tubuh Nyonya Dynn. Aku cuma melongo di tempat.
"AL-LA-RIC!" teriak Nyonya Dynn. Alaric berusaha bangkit dan mendekati Nyonya Dynn, tetapi tangannya langsung ditepis. Aku berinisiatif membantu Nyonya Dynn, untungnya dia mau menerima uluran tanganku.
Nyonya Dynn mengusap mukanya yang kuyup, lalu menatap Alaric dengan penuh amarah. Matanya yang berwarna biru menyala laksana lapis lazulli mengeluarkan cahaya, sampai-sampai aku dan Alaric harus menunduk karena sangat silau.
YOU ARE READING
SWITCH TO WITCH
FantasySetelah mengalami tragedi kelam di Akademi Stelios Kourelis bersama Carmelo Zephyr, Deirich Kenneth melanjutkan kehidupannya sebagai roh malang yang setiap hari datang ke akademi hanya untuk melihat teman-temannya, dan merasa seolah dia masih menjad...
