[A crazy and irrational story⚠️]
Bianca Francisco selama ini tidak pernah sadar jika dirinya diawasi bayangan dari masalalunya yang selalu Bianca tutup rapat-rapat. Masalalu yang bisa saja membuat karir dan hidup Bianca hancur jika terbuka.
Dan bay...
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
──── ୨୧ ────
"Dia adalah monster yang tanpa mahkota. Dia kejam, dingin, dan tidak punya hati—kecuali saat dia menatapku, di mana aku bisa melihat kegilaan yang ia sebut sebagai cinta."
—Bianca Francisco
──── ୨୧ ────
Menatap fisik Rhovan adalah seperti menatap sebuah mahakarya yang dibangun dari kekerasan. Tubuhnya tinggi tegap, dengan bahu lebar yang seolah mampu memikul beban seluruh dunia yang ia hancurkan.
Setiap gerakannya presisi, tenang, namun penuh ancaman—seperti macan tutul yang sedang mengincar mangsa.
Wajahnya memiliki garis rahang yang sangat tegas, seolah dipahat dari batu granit yang dingin. Rambut hitamnya selalu tertata rapi, namun ada beberapa helai yang sering jatuh di dahinya saat dia sedang kehilangan kendali, memberikannya kesan liar yang tersembunyi.
Tapi matanya—matanya adalah bagian paling berbahaya. Gelap, tajam, dan memiliki kilatan predator yang membuat siapa pun ingin menunduk.
Dan di balik kemeja mahalnya yang selalu kancingnya tertutup rapat, aku tahu ada kegelapan lain. Tato yang merayap di kulitnya, menutupi dada dan lengannya—sebuah peta hitam yang menceritakan sejarah darahnya. Tangannya besar, dengan buku jari yang keras, namun anehnya, tangan yang sama itu bisa menyentuhku dengan kelembutan yang menyakitkan.
Belum lagi dengan bekas luka berbentuk garis panjang menghiasi punggungnya. Sebuah bukti seberapa kejamnya dunia yang Rhovan jalani. Punggung yang terkadang menjadi tempat bagiku berlindung saat ada yang mencoba mencelakai ku, sekaligus punggung yang menjadi kanvas untukku cakar dengan kuku panjang ku.
Sifat Rhovan adalah perpaduan antara kedinginan es dan panasnya api yang menghanguskan. Dia tidak mengenal kata 'tolong' atau 'permisi'; baginya, dunia adalah miliknya, dan aku adalah permata paling berharga di dalamnya.
Dia tidak mencintaiku dengan cara yang manis. Cintanya adalah rantai. Dia ingin tahu setiap detik keberadaan ku, setiap pikiran di kepalanya harus tentang dia. Dia lebih suka melihatku menangis di pelukannya daripada tertawa di pelukan orang lain.
Dia akan menghancurkan apa saja yang membuatku tidak nyaman. Tapi ironisnya, dialah sumber ketidaknyamanan terbesarku. Dia melindungiku dari dunia, tapi tidak ada yang melindungiku dari dirinya sendiri.
Rhovan adalah monster yang ku ciptakan sendiri.
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
──── ୨୧ ────
"Dia adalah satu-satunya keindahan di dunia yang penuh darah ini. Dia tidak perlu mencintaiku sekarang, dia hanya perlu tahu satu hal: aku adalah pemiliknya, penculiknya, dan pelindungnya. Bianca adalah napas yang tidak akan kubiarkan lepas."
—Rhovan Moretti
──── ୨୧ ────
Menatap Bianca adalah seperti menatap matahari; menyilaukan, namun kau tidak bisa memalingkan wajah meski matamu terbakar. Matahari yang seharusnya tidak terus ku pandangi dan tidak pernah bermimpi untuk menggapainya. Panasnya yang bisa membuat ku terbakar.
Dia memiliki keanggunan yang lahir dari tulang-tulangnya, cara dia berjalan di koridor sekolah itu seolah-olah lantai marmer di bawah kakinya adalah takhta yang diciptakan khusus untuknya. Dan itu membuat aku begitu ingin menariknya jatuh dari takhtanya. Hingga kami akan setara.
Kulitnya seputih pualam, begitu halus dan tampak rapuh, seolah-olah sidik jariku yang kasar akan meninggalkan bekas permanen di sana—dan jujur saja, aku memang ingin meninggalkan bekas itu. Rambut hitamnya jatuh seperti tirai sutra yang wangi, selalu menggoda jemariku untuk merenggutnya.
Tapi matanya—matanya adalah bagian favoritku. Besar, jernih, namun penuh dengan api pemberontakan seolah ingin membakar ku hidup-hidup dengan tatapan itu. Aku suka bagaimana matanya berkilat marah saat aku menekannya ke dinding; kemarahan itu membuatnya terlihat jauh lebih cantik daripada saat dia tersenyum palsu pada orang lain.
Dia memiliki bibir yang ranum dan kemerahan, yang selalu ingin ku buat bungkam hanya dengan kehadiranku. Bibir yang selalu berkata manis, namun dibaliknya ada kata-kata yang sangat pedas jika sifat aslinya terlihat.
Bianca adalah badai yang terperangkap dalam tubuh seorang dewi. Dia tidak mudah menyerah, dan itulah yang membuat perburuan ini begitu menarik bagiku.
Dia benci aku, dan dia tidak takut menunjukkannya. Setiap kata tajam yang keluar dari mulutnya adalah musik di telingaku. Di depan orang lain, dia adalah primadona yang tak tersentuh.
Tapi hanya aku yang tahu bagaimana napasnya memburu dan betapa gemetar tubuhnya saat aku membisikkan namanya. Dia menyimpan api di dalam esnya, dan aku adalah satu-satunya yang diizinkan untuk terbakar.
Tanpa dia sadari, dia menarik perhatian semua orang. Dan itu membuatku ingin mencungkil mata setiap pria yang berani menatapnya lebih dari sedetik. Dia adalah milikku—milikku sepenuhnya—dan dia harus belajar bahwa setiap inci dari jiwanya telah tertulis namaku.
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
TBC
──── ୨୧ ────
Halo, jangan lupa tinggalkan jejak dan vote ya 🙂↕️.