Om Adik

61 20 0
                                        


Om adik itu panggilan si kembar untuk Dikta yang notabene adalah adik dari Mama mereka.

Saat usia si kembar 5 tahun, Dikta beberapa kali datang ke rumah, dan mereka ingat itu. Kata Ibu mereka, Dikta itu adik satu-satunya dan juga kesayangannya. Maka dari itu, saat Dikta suatu malam datang sambil hujan-hujanan dan juga penuh luka, Ibu mereka langsung memberi Dikta pelukan.

Dulu baik Vian maupun Vion hanya bermain dekat Dikta tanpa mau mengajak sebab mereka melihat sisi 'kurang menyenangkan' dari pemuda itu. Mereka mengira jika Dikta adalah orang yang tak akan mereka temui lagi setelah pemuda itu pergi setelah sebulan tinggal. Tapi ternyata takdir berkata lain.

Kini Vian dan Vion ada di rumah pemuda itu. Dan lebih pentingnya lagi, mereka berdua ada di bawah pengawasan Dikta. Si Om adik yang kurang menyenangkan untuk diajak bermain.

"Om adik gak berubah ya, dek? Dalam ingatan abang, Om adik itu sosok yang ngebosenin, dan ternyata masih sama. Malah kayaknya makin parah," Vian si mulut segudang kata-kata nyeleneh berbisik pada adik kembarnya. Padahal sebetulnya mereka kini hanya berdua di kamar, tapi si sulung tetap berbisik seolah sedang mempraktekkan tata cara bergosip.

"Kurang-kurangin gosip kayak ibu-ibu komplek kita dulu, abang. Kita ini anak cowok, jangan malah cerewet dan suka gosip kayak cewek." tegur si bungsu tanpa menatap si sulung. Dia sedang sibuk memberi belalang yang sempat ia tangkap di pagar depan tadi omong-omong.

"Abang ini cuma ngomong, bukan gosip. Kamu jangan nuduh gitu!"

Vion menghembuskan napasnya mendengar kalimat Vian. "Ngeles banget jadi orang. Pokoknya jangan ngomongin orang dibelakangnya, gak baik!" tegasnya.

Vian merenggut kesal. Vion ini memang susah diajak bergosip. Padahal kan gosip itu lumayan seru kata ibu-ibu komplek, kenapa pula dia malah menolak?

Pada akhirnya si kembar pun sibuk menata barang.

Berbicara soal menata barang, kamar mereka disini ternyata cukup besar dan tertata dengan baik. Entah ide dari mana dan siapa yang mencetuskan, tata letak kamar ini diatur sedemikian rupa sampai rasanya begitu nyaman dan enak dilihat. Belum lagi gaya minimalis khas anak muda membuat Vian maupun Vion merasa betah dan secara alamiah membentuk teritorial mereka sendiri tanpa berebut.

*****

Selesai merapikan barang-barang di kamar, tak terasa waktu ternyata sudah menunjukkan jam makan malam. Secara naluriah dua anak kembar itu turun ke dapur seolah masih di rumah sendiri.

"Habis beres-beres perut abang laper. Kira-kira Om adik udah masak belum ya?"

Vian tak menjawab pertanyaan sang kakak, bocah itu fokus berjalan saja tanpa mau bersuara.

Sesampainya di ruang makan ternyata masakan sudah tersedia. Beberapa lauk sederhana yang mudah dimasak namun tetap menggugah selera telah tersaji dengan apik seolah minta disantap.

Sebagai individu pecinta makan, Vion langsung mengambil tempat walau masih dengan sikap tenangnya. Namun walau Vion terlihat tenang, binar mata anak itu tak bisa berbohong. Dia ingin segera makan.

"Om adik, masakannya boleh langsung dimakan gak? Adek aku udah ngiler!" seru Vian dengan jahilnya.

Tentu saja ia sadar jika si bungsu sudah ingin menyantap hidangan itu. Hanya saja karena Vion sadar mereka dimana, anak itu memilih menunggu Dikta yang masih terlihat beres-beres bekas masak. Namun niat baiknya itu malah dibuat buruk dengan celetukan menyebalkan dari kakak kembarnya. Anak itu sama sekali tak merasa malu walau tindakannya cukup memalukan di hari pertama ini.

Memang manusia satu itu suka sekali asal bicara dan nyeleneh.

"Om maafin dia ya? Anaknya emang agak ajaib, jadi jangan didengerin!" Vion memberikan klarifikasi secara tidak langsung.

Mendengar semua itu, Dikta hanya mengulas senyum tipis. Agak sedikit menahan kesal sebab jujur saja waktunya yang biasa terasa hening dan tenang malah jadi ramai seperti sekarang.

"Kalian makan aja. Jangan berantem ya, Om mau ngerjain tugas." ucap Dikta.

Tanpa menunggu jawaban, pemuda itu meninggalkan dua anak kembar itu di meja makan. Sejak awal Dikta memang tak berniat makan bersama sebab jujur ia masih kurang nyaman, belum lagi tugasnya memang betulan sedang deadline, jadi pemuda itu memutuskan untuk membiarkan si kembar makan sendiri.

Sementara itu, si kembar yang barusan mendengar titah sang paman pun saling melempar tatap. Sedikit merasa tak enak hati makan tanpa tuan rumah di rumah orang lain.

"Om adik gak suka ada kita kayaknya. Dari dulu setiap mau dideketin pasti susah. Om adik gak berubah." ucap si sulung.

Vion yang tadinya hanya fokus dengan makanannya kini menghentikan suapannya. Anak itu berbalik ke arah perginya sang paman sejenak.

"Om katanya lagi ada tugas. Jangan berprasangka buruk." peringan si bungsu Vion.

Yah, walau sebetulnya Vion juga terganggu dengan omongan Vian, anak itu memilih untuk abai dengan prasangkanya. Lagi pula kata ayah mereka, semuanya akan baik-baik saja. Dan Vion? Ia ingin mempercayai itu untuk saat ini.

Ya. Untuk saat ini.

*****

Alih-alih mengerjakan tugas di rumah, Dikta lebih memilih rumah sahabatnya Yoan Adiwicaksana untuk tempatnya mengerjakan pekerjaan rumahnya. Selain karena memang Dikta ingin menghabiskan waktu sejenak disini, dia juga masih lebih nyaman berada di rumah Yoan ketimbang rumahnya sendiri.

"Ponakan lo masih Day one di rumah lo kenapa lo malah kesini, sih? Kasian mereka ditinggalin."

Yoan berkomentar setelah kembali dari dapur dengan minuman dan beberapa camilan.

"Gue belom terlalu nyaman sama mereka di rumah. Lagian kenapa sih emang kalo gue maen? Perasaan lo juga sering nginep deh, gak ada tuh gue negur atau sekedar ngomong tentang kedatengan lo."

Ah, Dikta dan mulut merepetnya yang tersembunyi.

Yoan yang barusan terkena dengan omelan Dikta hanya bisa menghela napas. Hidup sebagai sahabat selama lebih dari 7 tahun membuat sadar jika omelan Dikta barusan adalah bentuk rasa tak terima atas apa yang Yoan ucapkan.

"Perasaan gue ngomong cuma dikit deh, kenapa balesnya malah panjang banget?"

"Oke lupain. Yang jelas emang kenapa lo gak nyaman sama mereka? Ada masalah? Atau ... Mereka nakal kayak si Hayi?"

Dikta terdiam sejenak. "Nakal sih enggak, cuma ya gue ngerasa kalo hidup gue bakalan lebih rusuh dari yang dulu. Ya lo tau sendiri apa cita-cita gue, kan?" Yoan mengangguk.

"Hidup tenang, lurus dan bebas hambatan." jawab Yoan.

"Nah itu. Dan lo tau sendiri gimana anak seumuran mereka? Pasti bakal rusuh banget hidup gue, terus dimana letak tenangnya coba?"

Yoan menatap Dikta takjub. Manusia di depannya ini entah mengapa sangat memuja yang namanya ketenangan. Bisa dibilang, Dikta ini karakter Squidward versi manusianya.

"Kalo emang gak suka mereka ada, ngapain nerima permintaan ngurusin mereka sejak awal coba? Kan bisa lo tolak baik-baik, gue yakin ipar lo gak akan marah sama lo. Dia keliatan baik tuh."

Yoan benar. Ia memang bisa menolak semua sejak awal. Tapi bukan itu poinnya. Jelas bukan karena takut kakak iparnya marah makanya dia mau menerima dua keponakannya tinggal bersama. Ada alasan yang lain.

"Gue sebenernya juga pengen nolak. Tapi hati gue bilang gue harus terima. Dan itu bukan karena gak enak sama Mas Bisma."

"Lah, kalo bukan karena kakak Ipar lo, terus karena apa?"

Untuk pertanyaan itu, Dikta tak menjawabnya. Pemuda itu malah membereskan barang-barang yang ia bawa dan langsung pergi begitu saja dari rumah Yoan.

Yoan sendiri hanya melongo melihat tingkah sahabatnya itu. Namun ia juga tak ambil pusing, ia pikir mungkin Dikta jadi sadar setelah obrolan mereka barusan dan memutuskan untuk kembali ke rumah guna menemani dua ponakannya di rumah yang asing bagi mereka.

_______________________


Gimana nih ceritanya?
Udah nemu vibesnya? Udah nemu gimana alurnya bakal jalan?
Kalo udah, silahkan menebak-nebak sampai saatnya tiba Ryuu update lagi🤪

OM KALEM & PONAKAN KEMBARWhere stories live. Discover now