Bab 1 - Pagi yang memaksa bangun

185 126 88
                                        

"LIORAA, BANGUN!!"

Suara yang selalu kudengar setiap pagi itu kembali memaksaku membuka mata dari tidur yang masih terasa begitu nyaman. Siapa lagi kalau bukan suara ibuku.

Ibuku adalah seorang janda. Ayahku telah lama meninggal, meninggalkan kami bertiga-aku, ibu, dan adikku yang kini berusia tujuh tahun. Saat ayah pergi untuk selamanya, adikku masih sangat kecil.

Hari itu... hari ketika ayah meninggal, adalah hari paling menyakitkan dalam hidupku. Aku masih ingat jelas bagaimana tubuhnya terbaring kaku, wajahnya pucat, tanpa kehidupan. Orang yang paling kusayang... pergi begitu saja.

Aku menangis tanpa henti. Sampai akhirnya aku tertidur sendiri di ruang tamu, kelelahan oleh duka.

"Liora, bangun!!"

Suara ibu menarikku kembali ke masa sekarang.

"Iya, Bu..." jawabku pelan sambil bangkit dari tempat tidur.

"Bangunin adikmu juga."

"Iya, Bu."

Setiap pagi, ibu selalu membangunkanku lebih dulu. Aku harus membantu membereskan rumah sebelum kami semua memulai aktivitas masing-masing. Ibu pergi ke pasar untuk berjualan, aku kuliah, dan adikku pergi ke sekolah.

Hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah. Hari pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru-PKKMB.

Saat aku hendak berangkat, jam sudah menunjukkan pukul 06.50. Tiba-tiba ibu memanggilku.

"Liora..."

Aku menoleh. "Iya, Bu? Ada apa?"

"Nanti kalau sudah sampai kampus, kabarin ibu ya, Nak."

Aku hanya mengangguk. "Iya, Bu."

Setelah berpamitan, aku segera keluar rumah.

Aku kuliah di kampus yang masih berada di sekitar kota. Ibu tidak mengizinkanku kuliah jauh-jauh. Mungkin karena sekarang hanya aku yang bisa ia andalkan, apalagi adikku masih kecil.

Padahal dulu aku sempat mendaftar ke kampus yang cukup terkenal dengan kualitas bagus. Tapi aku ditolak beberapa kali. Akhirnya, aku mengikuti keinginan ibu.

Baru saja aku hendak berangkat, ponselku berdering.

Kring... kring...

Ternyata Alika, sahabatku.

"Halo, Liora."

"Iya, Alika."

"Lo udah berangkat ke kampus?"

"Belum. Baru mau berangkat, keburu lo telepon."

"Hehe, maaf ya. Eh, kita berangkat bareng yuk?"

"Boleh. Mau pakai motor gue atau lo?"

"Pakai motor gue aja. Nanti gue jemput."

"Oke, gue tunggu."

Tak lama, Alika sampai di rumahku. Kami langsung berangkat karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.10.

Kami sedikit terburu-buru... dan benar saja, kami terlambat.

Saat masuk gerbang kampus, kami langsung dicegat oleh panitia BEM.

"Kalian telat. Lihat ini sudah jam berapa?"

"Maaf, Kak..." ucapku pelan.

"Maaf, Kak..." sahut Alika.

"Kali ini saya maafkan. Tapi kalau kalian telat lagi, ada hukuman. Paham?"

"I-iya, paham, Kak..." jawab kami bersamaan.

Berawal Dari KampusStories to obsess over. Discover now