PROLOG

12 4 3
                                        

Bau sisa pembersih lantai dan putaran kipas angin yang tenang di langit-langit UKS jadi hal pertama yang Azalea sadari. Kepalanya masih terasa agak berat, sisa dari upacara bendera yang panasnya luar biasa pagi ini.

Aza mencoba duduk perlahan. Di samping kasurnya, tirai pembatas sedikit terbuka. Ada seorang pemuda yang duduk rapi di kursi kayu, sedang asyik membaca komik kecil yang diselipkan di dalam buku cetak Biologi.

Seragamnya putih bersih, kancingnya lengkap sampai atas, dan aromanya bukan bau keringat lapangan, tapi wangi sabun bayi yang lembut.

"Eh, udah bangun?"

Pemuda itu menoleh pada Aza. Itu Orion. Teman satu angkatannya yang terkenal "anak baik-baik" tapi entah kenapa jarang terlihat di barisan upacara.

"Minum dulu, Za. Pelan-pelan aja." Orion menyodorkan segelas air putih dengan gerakan yang tenang. "Tadi lo ambruk pas amanat pembina. Rekor lho, baru menit kesepuluh padahal."

Aza menerima gelas itu, sedikit bingung. "Makasih ... kamu ... kok di sini? Sakit juga?"

Orion terkekeh pelan, menunjukkan deretan giginya yang rapi. Dia membetulkan posisi duduknya yang tegak. "Nggak sih. Gue cuma nggak terlalu cocok sama panas matahari. Daripada pingsan beneran kayak lo, mending gue 'mengamankan diri' di sini lebih awal, kan?"

"Bolos upacara maksudnya?" tanya Aza polos.

"Istilahnya 'evakuasi mandiri', Za. Kedengarannya lebih keren, kan?" Orion mengedipkan sebelah mata, gerakan yang sederhana tapi sukses membuat jantung Aza yang tadinya lemas jadi berdetak sedikit lebih cepat.

Aza cuma bisa mengangguk kecil. Sebagai introvert yang terbiasa tenggelam di antara keramaian, dia jarang sekali diajak bicara seakrab ini oleh cowok seperti Orion. Di rumah pun, orang tuanya lebih sering menanyakan nilai ujian daripada menanyakan apakah dia sudah sarapan atau belum. Kehadiran Orion yang soft ini terasa asing, tapi nyaman.

"Lo pucet banget. Nanti istirahat jangan ke kantin dulu, gue bawain roti aja ke sini. Mau rasa apa? Coklat? Keju?" tanya Orion, suaranya tulus, tidak ada kesan flirting yang berlebihan.

Belum sempat Aza menjawab, pintu UKS terbuka. Jafal, kakak kelas yang juga anak basket, muncul dengan napas yang agak terengah. Dia membawa botol minuman isotonik.

"Aza? Tadi kata anak-anak lo pingsan?" Jafal mendekat, wajahnya cemas. Sebagai teman satu tempat les, Jafal memang sering perhatian pada Aza. "Nih, minum dulu biar segeran."

Orion yang tadinya sedang santai, langsung menutup komiknya. Dia berdiri, merapikan seragamnya yang sudah rapi itu, lalu tersenyum sopan ke arah Jafal.

"Udah bangun kok, Bang. Tadi udah gue kasih minum juga," ucap Orion lembut, tapi posisinya berdiri tepat di antara Jafal dan kasur Aza, seolah-olah secara halus menandai wilayahnya.

Di ambang pintu, Dita—teman sekelas Aza yang sejak tadi mencari keberadaan Orion—berhenti melangkah. Dia melihat pemandangan di dalam: Azalea yang dikelilingi dua cowok paling menonjol di sekolah.

Dita meremas ujung roknya. Dia tahu Aza itu pendiam, tapi dia tidak menyangka kalau diamnya Aza justru menarik perhatian Orion, cowok yang selama ini selalu bersikap "lempeng" dan susah didekati siapa pun.

Dunia Aza yang tadinya sepi, mendadak jadi pusat perhatian yang tidak pernah dia minta. Dan Orion, dengan segala sikap manisnya, baru saja memulai sebuah permainan rasa yang Aza sendiri tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.

--------

Author's Note :
Terima kasih, jangan lupa tinggalkan Vote dan Komentar.

Dunia AzaleaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora