Jennie Kim benci cermin. Bagi kebanyakan orang, cermin adalah alat untuk mengagumi diri sendiri, namun bagi Jennie, cermin adalah hakim yang paling kejam.
Malam ini, di dalam ruang rias seluas apartemen mewah di lantai teratas Grand Hyatt Seoul, Jennie menatap pantulannya dengan nafas yang tertahan di kerongkongan. Penata rias pribadinya baru saja selesai memulas lipstik merah menyala, warna yang dipilihkan ayahnya karena melambangkan dominasi dan kekuasaan. Namun di mata Jennie, warna itu tampak seperti darah yang merembes di atas kulit pucatnya yang lelah.
Gaun haute couture dari Chanel yang ia kenakan memiliki ribuan kristal kecil yang dijahit tangan. Indah, luar biasa indah. Namun beratnya mencapai lima kilogram, dan setiap kali Jennie melangkah, kristal-kristal itu terasa seperti duri yang menusuk kulitnya, mengingatkannya bahwa setiap inci kehidupannya adalah milik publik, milik pemegang saham, dan milik ambisi ayahnya.
"Tegakkan bahumu, Jennie. Jangan biarkan mereka melihatmu gemetar" suara bariton itu muncul dari balik pintu yang terbuka sedikit.
Mr. Kim masuk tanpa mengetuk. Ia tidak melihat putrinya, ia melihat sebuah mahakarya yang siap dipamerkan. Ia berjalan mendekat, memperbaiki posisi kalung berlian senilai jutaan dollar di leher Jennie. Jari ayahnya terasa dingin, lebih dingin dari logam perhiasan itu sendiri.
"Keluarga Manoban sudah tiba. Merger ini akan gagal jika kau terlihat tidak bahagia di depan kamera. Kau tahu apa yang terjadi jika saham kita anjlok lagi, bukan?"
Jennie hanya menunduk, menatap ujung sepatu stiletto-nya. "Aku mengerti, Ayah."
"Tersenyumlah. Meskipun hatimu sedang membusuk di dalam sana, pastikan dunia melihat bunga yang sedang mekar." Ayahnya menepuk bahunya sekali, sebuah gestur yang lebih mirip ancaman daripada dukungan, lalu melangkah keluar dengan langkah penuh kuasa.
Begitu pintu tertutup, Jennie merosot kembali ke kursinya. Ia merasa dadanya menyempit. Panic attack itu datang lagi–rasa panas yang menjalar dari perut hingga ke leher, membuat oksigen di ruangan ber-AC itu seolah-olah hilang. Ia menggenggam pinggiran meja rias marmernya hingga buku-buku jarinya memutih.
Tahan, Jennie. Hanya satu malam. Hanya satu sandiwara lagi.
Lobby hotel itu sudah menyerupai medan perang bagi para elit. Begitu pintu aula dibuka, Jennie disambut oleh simponi kebisingan yang ia benci: denting gelas kristal, tawa palsu para sosialita, dan yang paling menyakitkan, serangan kilatan blitz kamera yang membabi buta.
Langkah Jennie di atas karpet merah terasa goyah, namun topeng "Ice Princess" miliknya sudah terpasang sempurna. Dagu terangkat, mata tajam namun kosong, dan senyum tipis yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Ia mengalami para taipan, membiarkan para istri menteri mengagumi perhiasannya, dan menjawab pertanyaan wartawan dengan kalimat-kalimat yang sudah dihafalnya di luar kepala.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah anomali menarik perhatiannya.
Di sudut ruangan, dekat pilar marmer yang gelap dan jauh dari jangkauan lampu kristal utama, berdiri seorang gadis. Gadis itu tidak mengenakan jas formal atau gaun mewah. Ia memakai jaket kulit hitam yang tampak sering dipakai dan celana jeans gelap yang sudah sedikit pudar di bagian lutut. Ia tampak seperti sepotong kegelapan di tengah pesta yang terlalu terang ini.
Gadis itu tidak memegang kamera besar dengan lensa putih panjang yang biasanya dipakai jurnalis. Ia hanya memegang sebuah Leica M tua berwarna hitam kusam.
Ketika Jennie melewati barisan fotografer, semua orang berteriak memanggil namanya, meminta pose, meminta tatapan. Tetapi gadis berjaket kulit itu tetap diam. Ia tidak memanggil. Ia hanya berdiri dengan kaki yang dibuka sedikit lebar, stabil, dan membidikkan lensanya,
Saat mata Jennie secara tidak sengaja bertemu dengan lensa kamera tua itu, waktu seolah berhenti.
Jennie merasa telanjang, bukan secara fisik, tapi secara jiwa. Lensa kamera gadis itu tidak sedang mencari detail gaunnya atau kemilau berliannya. Lensa itu seolah-olah menembus masuk ke dalam retina Jennie, mencari retakan kecil di balik topeng kesempurnaannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Jennie merasa ada seseorang yang benar-benar melihatnya. Bukan sebagai "Pewaris Kim Group", tapi sebagai seorang gading yang sedang tenggelam.
Gadis itu menurunkan kameranya setelah mengambil satu jepretan. Ia memiliki rambut pirang gelap yang dibiarkan berantakan dan poni yang hampir menutupi matanya yang tajam. Ia memberikan seringai tipis–sebuah senyuman yang penuh ejekan, seolah-olah dia tahu bahwa Jennie sedang menderita.
Lalu, tanpa kata-kata, gadis itu berbalik dan menghilang ke arah pintu keluar darurat, meninggalkan aroma bensin, rokok, dan kebebasan yang terasa sangat asing di ruangan penuh parfum mawar ini.
"Siapa dia?" bisik Jennie pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
"Siapa, sayang?" tanya Hanbin, calon tunangannya yang tiba-tiba muncul di sampingnya dan menggenggam pinggangnya dengan posesif.
Jennie tersentak, kembali ke realitasnya yang menyesakkan. "Bukan siapa-siapa. Hanya... sebuah gangguan."
Tapi Jennie tahu, itu adalah gangguan paling menarik yang pernah ia alami. Ia tidak tahu bahwa gadis itu, Lalisa Manoban, bukan sekadar fotografer pengacau. Lisa adalah bayangan yang dikontrak untuk menghancurkan keluarga Kim. Dan malam itu, di bawah cahaya lampu kristal yang menipu, Lisa baru saja mendapatkan foto pertama yang akan memulai kehancuran Jennie.
Foto tentang seorang putri kesepian yang sedang meminta tolong melalui matanya.
YOU ARE READING
Shadows of the Spotlight
Fanfiction"Senyummu adalah harga saham kita, Jennie. Jangan biarkan mereka melihat retakannya." Jennie Kim adalah definisi kesempurnaan. Sebagai pewaris tunggal Kim Group, hidupnya diatur di atas meja marmer dan kontrak bisnis. Ia adalah burung dalam sangkar...
