- Raymond - The Night I Ran

14 2 0
                                        

Aku tidak tahu sudah berlari sejauh apa. Tidak tahu sampai kapan aku harus terus bergerak. Bahkan aku tidak yakin berhenti itu pilihan.

Udara malam menusuk paru-paruku. Rasanya dingin, tapi tidak sedingin darah yang mulai mengering di kulitku.

Aku menerobos kerumunan di jalanan New York yang penuh lampu dan suara perayaan. Malam ini adalah malam tahun baru. Di mana orang-orang tertawa, berpelukan, menghitung mundur sesuatu yang bahkan sekarang rasanya tidak lagi masuk akal bagiku.

Lalu mereka melihatku.

Langkah mereka melambat, lalu tatapan mereka mulai berubah. Dari bingung... menjadi takut. Beberapa orang mundur, dan kebanyakan dari mereka mengangkat ponsel.

Aku bisa mendengar satu kata yang sama berulang kali.

"911."

Wajar. Pria berlumuran darah berlari di tengah kota saat semua orang merayakan hidup mereka. Aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Tapi aku tidak punya waktu untuk peduli. Aku bahkan tidak tahu darah ini milik siapa. Atau... apakah aku ingin tahu.

"Tahan dia!"

Suara itu memotong pikiranku.

Dua polisi berdiri beberapa meter di depanku. Mata mereka langsung terkunci padaku, pada darah di sekujur tubuhku, pada napasku yang kacau, pada sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak bisa jelaskan.

Sial.

Aku berputar sebelum mereka sempat bergerak. Kakiku mencoba berlari lagi, tapi tubuhku mulai melawan karena alam bawah sadarku sudah menyerah saat polisi mulai mengepung semua sudut jalan dan aku tidak bisa lari ke arah mana pun.

"Stop! Police!"

Aku mencoba peruntunganku sekali lagi, langkah kakiku menghantam aspal dengan sangat cepat. Aku hampir berhasil melewati tikungan sebelum sesuatu menghantamku dari samping. Tubuhku jatuh keras ke tanah, napasku hilang seketika saat tanganku ditarik ke belakang. Aku bisa merasakan dingin logam mengunci pergelangan tanganku.

"Don't move."

Aku tidak melawan. Bukan karena aku patuh, tapi karena aku tahu ini sudah selesai.

"Apa yang kau lakukan?" suara salah satu dari para polisi.

Aku menelan ludah, tapi tenggorokanku terasa kering.

"Aku... tidak tahu."

Kedengarannya lemah. Bahkan di telingaku sendiri.

"Ya, tentu saja," balasnya datar.

Aku menggeleng pelan, napasku masih berantakan.

"Aku tidak tahu apa-apa. Aku bersumpah."

Mereka tidak menjawab. Dan dari cara tangan mereka menahanku, dari cara mata mereka melihatku, aku mulai sadar, tidak ada yang akan percaya ucapanku.

Conviction Where stories live. Discover now