Prolog

19 2 0
                                        

Penulis : Irza Setiawan

Sekolah Yang Kehilangan Cahaya

     Pagi itu, matahari terbit seperti biasa namun cahaya yang ia bawa terasa asing, seolah enggan menyentuh halaman sekolah yang berdiri angkuh di tengah kota, dinding-dindingnya tinggi, megah, namun bangunan itu bukan sebagai pelindung ilmu, melainkan benteng bagi luka yang disembunyikan, di sana ilmu tidak lagi diajarkan dengan hati, ia dipaksa tunduk, diinjak oleh kekuatan yang mengaku sebagai hukum.

       Lorong itu sunyi, tetapi sunyinya bukan kedamaian melainkan jeda sebelum sesuatu yang lebih keras pecah tanpa aba-aba, dinding-dinding menyimpan gema yang tak pernah benar-benar hilang, tawa yang melukai, langkah yang menekan, dan napas yang tertahan.

       Di sudut kelas yang setengah terbuka, seorang siswa berdiri gemetar, tubuhnya seperti bayangan yang hampir terhapus cahaya, seragamnya kusut, dan matanya menunduk, seolah lantai lebih layak ditatap daripada dunia yang sedang menghukumnya.

       Di depannya, tiga siswa berdiri seperti hukum yang tak tertulis, salah satunya melangkah maju, rahangnya keras, matanya dingin, dan senyumnya tipis seperti ancaman yang tak perlu diucapkan panjang.

       “Kalau aku bilang kau lemah… ya kau lemah, di sini, yang benar itu yang kuat. Bukan yang banyak bicara.”

       Tangannya mendorong bahu si korban. Tidak keras namun cukup untuk menjatuhkan harga diri yang sudah rapuh.

       “Berhenti.”

       Satu kata itu jatuh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang, tidak deras, tidak menggelegar namun cukup untuk mengubah udara.

       Guru itu berdiri di ambang pintu. Tatapannya tenang, tapi di dalamnya ada sesuatu yang tak mudah digoyahkan. Ia melangkah masuk perlahan, seolah setiap langkahnya membawa sisa-sisa keyakinan yang masih ia pertahankan di tempat yang telah kehilangan arah.

       “Lepaskan dia,” ujarnya, lembut namun tegas. “Sekolah bukan tempat untuk menjatuhkan satu sama lain.”

      Siswa yang paling depan menoleh, alisnya terangkat sedikit, lalu senyumnya melebar bukan karena hormat, melainkan karena merasa terhibur.

       “Pak…” ia mendekat beberapa langkah, suaranya turun menjadi bisikan yang lebih berbahaya daripada teriakan.

       “Bapak salah tempat kalau mau jadi pahlawan.”

       Guru itu tidak mundur.
       “Dan kamu salah jalan kalau mengira kekuatan adalah alasan untuk menyakiti.”

       Hening sejenak, udara menegang seperti tali yang ditarik terlalu kuat. Siswa itu tertawa kecil, pelan, hampir seperti mengejek kenyataan itu sendiri.

       “Bapak tahu saya siapa?”

       Ia menyilangkan tangan, menatap dari atas ke bawah dengan kesombongan yang terlatih.

       “Ayah saya… bukan orang sembarangan.”

        Guru itu menatapnya tanpa gentar.

       “Di dalam kelas ini, yang saya lihat hanya seorang siswa.”

       Kalimat itu sederhana, namun justru di situlah letak keberaniannya, senyum siswa itu menghilang perlahan, bukan karena takut melainkan karena tersinggung.

       “Kalau saya laporkan Bapak?” suaranya berubah dingin.
        “Kalau saya bilang Bapak menyentuh saya, menekan saya, mempermalukan saya?”
       Ia mendekat, nyaris berbisik di hadapan wajah gurunya.
       “Menurut Bapak… siapa yang akan dipercaya?”

       Detik itu, waktu seolah berhenti, siswa yang gemetar di sudut semakin menunduk, seakan ingin lenyap dari dunia yang tak memberinya ruang, sementara dua siswa lain saling pandang bukan ragu, tetapi menunggu bagaimana kekuasaan akan bekerja.

       Guru itu menarik napas panjang, bukan karena ia takut, tetapi karena ia sadar kebenaran di tempat ini bukan lagi perkara benar atau salah.

       Di dunia yang telah kehilangan nurani, kebaikan sering kali dianggap ancaman.
      
       Satu teguran berubah menjadi tuduhan.
       Satu niat baik berubah menjadi laporan.
       Dan satu kebenaran berubah menjadi kesalahan yang harus  dihukum.

        Hari itu, langit tidak benar-benar mendung, namun bagi guru itu, seluruh semesta runtuh tanpa suara, tangannya diborgol, besi dingin melingkar di pergelangan yang selama ini menulis harapan di papan tulis, mata-mata yang dulu menatapnya dengan hormat kini berubah sebagian penuh kemenangan, sebagian lagi penuh ketakutan, dan sisanya memilih untuk tidak melihat sama sekali. 

       Sekolah ini bukan lagi tempat belajar, ia telah menjelma menjadi arena di mana nilai ditentukan oleh pukulan, dan peringkat ditentukan oleh siapa yang paling mampu menjatuhkan.

BERSAMBUNG

PERINGKAT TERAKHIR - Ketika Yang Terlemah Mengubah Segalanya -Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang