PROLOG

682 36 0
                                        

Rongga menganga di dada Joachim Drew Tedja tidak pernah mencapai fase kesembuhan selama lima tahun terakhir.

Bukan karena ia tidak berupaya.

Drew telah memiliki segalanya sekarang.

Tampan? Iya. Mapan? Iya.

Tidak memungkiri, di pencapaiannya, selalu ada satu retakan kecil yang mengingatkannya pada sebuah sore di koridor SMA. Sore di mana ia membiarkan egonya bicara lebih keras daripada hatinya.

Lima tahun.

Dunia bergerak maju, berkembang pesat mengikuti pergantian zaman. Namun Drew seperti terjebak dalam sebuah rekaman kaset rusak.

Ia masih bisa mendengar getaran suara itu. Suara yang dulu selalu meminta maaf meski tak bersalah.

Ia masih ingat bagaimana tatapan mata itu meredup, perlahan-lahan padam karena api emosi yang Drew sulut sendiri.

Caramu bertutur, seperti semua karenaku.

Perpisahan itu menghantuinya. Menjadi melodi sumbang yang menemaninya setiap kali ia menatap layar ponsel, mencari satu nama yang telah lama terhapus dari daftar kontak, namun terpatri mati di ingatan.

Trystan Laksana Putra Andreas.

Tidak ada kata putus.

Tidak ada salam perpisahan.

Hanya keheningan yang menyesakkan, seolah Trystan menguap bersama udara Jakarta tepat di hari mereka seharusnya berbahagia haru.

Malam ini, di tengah malam bisu ditemani cahaya lampu kamar yang temaram, Drew kembali menemukan sesuatu.

Sebuah unggahan di media sosial berupa potret punggung yang sangat familiar, berdiri di antara kerumunan orang di sudut galeri seni.

Foto itu sengaja dibuat buram oleh sang pemilik akun.

Ada perasaan deja vu yang menghantam Drew begitu keras hingga ia lupa cara bernapas.

"Sialnya... sayangnya..." gumam Drew pada kegelapan kamarnya. "Aku masih percaya kamu ada di luar sana."

Jika semesta memberinya satu celah kecil saja, Drew bersumpah akan menelan egonya bulat-bulat sampai kenyang.

Ia akan mencari akhir yang berbeda.

Bahkan jika ia harus mengejar hingga ke palung kecewa yang paling dalam.

Karena, tertawa lagi hanya akan masuk akal jika ia melakukannya bersama Trystan.

Hanya Trystan.

— DEWTEE SHORT STORY —

Bahagia Lagi; Fase di mana dua orang yang pernah bersama, menjadi asing, lalu perlahan-lahan mencairkan kembali tembok dingin di antara mereka. Menggapai penghujung kisah untuk menebus keheningan yang menyesakkan.

Adaptasi dari lagu "Bahagia Lagi" - Piche Kota.

Bahagia Lagi || DewTee [COMPLETED]Stories to obsess over. Discover now