Pita Biru

127 7 0
                                        


















































Pukul 10.15 pagi. Bel istirahat SMA Merdeka baru saja berbunyi, dan seperti biasa, koridor kelas 10 langsung berubah menjadi medan tempur. Di tengah hiruk-pikuk siswa yang berlarian demi semangkuk bakso, sebuah teriakan melengking yang sudah sangat akrab di telinga penghuni sekolah kembali terdengar.

"RAIN! TUNGGUIN, SAYANG!"

Langkah kaki seorang cowok jangkung dengan seragam yang sangat rapi-bahkan tanpa satu pun lipatan yang salah-berhenti sejenak. Rain Askara memejamkan mata, menghela napas pendek yang hampir tak terdengar, lalu kembali melangkah. Wajahnya datar, seolah-olah dia sedang berjalan di tengah hutan sepi, bukan di koridor penuh manusia.

"Rain, ih! Kamu jalannya pakai mesin ya? Cepet banget!"

Shena Alora akhirnya berhasil menyalip, melompat kecil untuk berdiri tepat di depan Rain, memaksa cowok itu melakukan pengereman mendadak. Shena berdiri dengan napas yang memburu, rambut pendeknya sedikit berantakan, dan pita biru yang menjadi ciri khasnya tampak sedikit miring.

"Liat nih," Shena menyodorkan kotak makan berwarna merah muda terang.

"Nasi goreng sosis bentuk hati. Aku bangun jam empat pagi cuma buat motong sosisnya supaya mirip kamu, ganteng tapi kaku!"

Shena tersenyum lebar. Sangat lebar, hingga matanya menyipit. Namun, jika ada yang melihat lebih dekat, ada gurat kelelahan yang nyata di sana. Kulitnya sedikit pucat, dan ada bekas luka bakar kecil di punggung tangannya-hasil dari kecerobohannya saat menggoreng donat di tempat kerja part-time tadi malam.

Rain menurunkan pandangannya, menatap kotak makan itu seolah-olah itu adalah benda asing yang berbahaya.

"Minggir," suara Rain terdengar rendah, dingin, dan benar-benar irit emosi.

"Makan satu suap aja, Rain. Habis itu aku janji nggak bakal ganggu kamu sampai jam pulang sekolah. Gimana?" tawar Shena dengan nada negosiasi yang gigih.

Rain tidak menjawab. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Hm."

"Hm itu artinya mau, kan?" Shena mulai membuka tutup kotak makannya, aroma nasi goreng yang gurih menyerbak.

"Ayo, buka mulutnya, Rain-"


TAK.


Rain menepis pelan tangan Shena yang memegang sendok, bukan dengan kasar, tapi cukup untuk membuat senyum Shena goyah. Rain melangkah memutar, bahunya sempat bersenggolan dengan bahu Shena yang mungil.

"Nggak selera," ucap Rain pendek sebelum menghilang di balik kerumunan siswa yang menuju kantin.

Vano, Erick, dan Arga-tiga teman Rain yang sejak tadi menonton dari kejauhan-berjalan mendekat sambil tertawa renyah.

"Shen, jujur deh, lu punya stok kesabaran berapa ton sih?" Vano merangkul pundak Erick sambil menggeleng heran.

"Rain itu jangankan nasi goreng, dikasih perhatian gratisan aja dia nggak mau. Mending buat gue aja nasinya, laper nih!"

Shena langsung memeluk kotak makannya erat-erat, kembali memasang wajah "Cegil" andalannya.

"Enak aja! Ini cuma buat Rain. Lagian, batu karang aja bisa hancur kena ombak terus, apalagi cuma hati kulkas dua pintu kayak Rain. Liat aja nanti, dia bakal sujud-sujud minta nasi goreng ini!"

"Halu lu ketinggian, Shen!" seru Erick sambil berlalu menyusul Rain.





🌧️🌧️🌧️




Begitu jam sekolah berakhir, "Shena si Ceria" menghilang. Ia berganti menjadi "Shena si Pekerja Keras".

Di sebuah gang sempit, ia memarkirkan sepeda tuanya di depan rumah kontrakan kecil yang ia tinggali sendiri sejak kepergian Aldi dan Amora.
Rumah itu dingin. Tidak ada aroma masakan ibu atau sapaan hangat ayah. Hanya ada foto keluarga yang sudah mulai menguning di atas meja kecil. Shena mengusap foto itu sebentar, mencium tangan ibu dan ayahnya lewat kaca bingkai, lalu segera berganti pakaian.

"Ayah, Ibu, Shena berangkat kerja ya. Doain Shena dapet tip banyak hari ini buat bayar SPP," bisiknya lirih.

Sore itu, Shena bekerja di sebuah kafe aesthetic yang sedang ramai. Dia berlari ke sana kemari, mencatat pesanan, membersihkan tumpahan kopi, dan sesekali dimarahi pelanggan yang tidak sabar. Kakinya terasa berdenyut nyeri, sisa kelelahan dari semalam belum benar-benar hilang.

Di tengah kesibukannya, ia tak lupa untuk memberi kabar Rain lewat ponsel di saku celemeknya .

WhatsApp - Rain My Future 🥶

Shena: Rain, tadi nasi gorengnya dimakan Vano, katanya enak bgt! Besok aku bawain lagi ya buat kamu.

Shena: Rain, kamu udah di rumah? Jangan lupa mandi pake air anget ya, mendung soalnya.

Shena: Semangat belajarnya, Rain! (Sticker kucing kirim cinta)

Shena menghela napas saat melihat pesan-pesannya hanya dibaca (centang dua biru) tanpa ada balasan satu huruf pun. Rasanya sesak, tapi dia sudah terbiasa.

Namun, Shena tidak tahu. Di salah satu meja paling pojok kafe itu, tersembunyi di balik pot tanaman besar dan cahaya lampu yang temaram, seorang cowok dengan jaket hoodie hitam dan masker sedang duduk diam.

Rain Askara ada di sana. Di depan mejanya hanya ada satu cangkir kopi hitam yang sudah mendingin. Matanya tidak lepas dari sosok gadis berpita biru yang sedang kesulitan membawa nampan berisi lima gelas minuman besar.

Saat Shena hampir tersandung kaki meja, tangan Rain otomatis mencengkeram pinggiran mejanya sendiri, matanya menajam, siap untuk melompat jika gadis itu jatuh. Begitu Shena berhasil menyeimbangkan diri dan kembali tersenyum pada pelanggan, Rain baru bisa bernapas lega.

Dia selalu ada di sana. Menjaga dalam diam, memantau dalam persembunyian. Baginya, membiarkan Shena mengejarnya adalah cara terbaik agar gadis itu tetap terlihat di matanya, tanpa harus membiarkan Shena masuk ke dalam dunianya yang juga penuh kerumitan.

Rain merogoh ponselnya, melihat rentetan pesan dari Shena, lalu mengetik sesuatu di kolom chat namun kemudian menghapusnya lagi.

Shena Alora, kenapa kamu nggak pernah nyerah? batinnya sambil menatap punggung kecil gadis itu dari kejauhan.





























































Shena Alora, kenapa kamu nggak pernah nyerah? batinnya sambil menatap punggung kecil gadis itu dari kejauhan

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

masukkk masukkkk geyess 😚 🤟🏼


















Vote wehhhh voteeeee 😡

 𝐒𝐢𝐧𝐜𝐞𝐫𝐞 𝐋𝐨𝐯𝐞 [𝐄𝐍𝐃]Where stories live. Discover now