Namaku Alvin Wijaya. Usiaku 31, usia istriku 29. Selisih yang tidak pernah terasa karena dia lebih dewasa dari usianya dan aku... ya, aku juga berusaha.
Aku adalah ilmuwan material kuantum. Terjemahan bebasnya: aku menghabiskan waktu mempelajari benda-benda yang terlalu kecil untuk dilihat mata telanjang, berperilaku dengan cara yang tidak masuk akal, dan membuat kepalaku pusing setiap kali harus menjelaskannya kepada orang awam. Termasuk istriku sendiri.
Tapi aku menyukainya. Bukan karena aku ingin terlihat pintar. Tapi karena dunia partikel kuantum itu... kacau. Tidak terduga. Seperti teka-teki yang tidak pernah selesai. Dan aku adalah tipe orang yang tidak bisa berhenti sebelum menemukan jawabannya.
Sayangnya, kegigihan itu kadang membuatku lupa hal-hal lain. Seperti makan. Seperti tidur. Seperti memberi tahu istriku bahwa aku akan pulang telat.
Untungnya, Dewi, istriku sudah terbiasa.
---
Namanya Dewi Aulia. Usia 29. Seorang desainer interior. Kami menikah empat tahun lalu. Belum punya anak. Tidak ada yang spektakuler. Bukan cinta kilat atau kisah rumit. Kami bertemu ketika sudah bekerja, berteman, lalu suatu hari aku sadar bahwa aku tidak ingin kehilangan dia. Dia bilang dia juga merasa hal yang sama. Maka kami menikah.
Sederhana. Seperti itu.
Tapi sederhana bukan berarti dangkal. Aku tahu persis siapa Dewi. Dia wanita yang tidak akan ragu menegurku jika aku lupa makan siang. Dia yang selalu ingat membelikan bahan makanan saat persediaan di kulkas habis, padahal aku tidak pernah bilang. Dia yang bisa diam selama sejam saat aku asyik dengan hitungan-hitungan di laptopku, lalu tanpa marah menyodorkan secangkir kopi ketika aku mendesah frustrasi.
Dia juga wanita yang tidak suka dibohongi. Bahkan untuk hal kecil.
Aku ingat pernah berbohong tentang seberapa mahal perlengkapan lab yang kubeli. Dia hanya diam, menatapku, lalu berkata: "Mas Alvin, aku lebih sakit karena kamu bohong, bukan karena kamu belanja mahal."
Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi.
---
Ayahku dulu juga ilmuwan. Lebih tua, klasik, lebih mapan, lebih... tradisional.
Dia meninggal dua tahun sebelum aku menikah. Meninggalkan banyak hal, termasuk satu perangkat yang tidak pernah selesai dia kerjakan. Sebuah resonator kuantum, katanya. Alat untuk membaca frekuensi dasar alam semesta.
Aku tidak terlalu memikirkannya dulu. Aku sibuk dengan karir, dengan Dewi, dengan kehidupan yang sedang aku bangun. Perangkat itu kubawa dan aku simpan di sudut laboratorium kecil di rumah, ruang yang aku khususkan untuk pekerjaan pribadi di luar jam kantor.
Tapi belakangan, aku mulai penasaran.
Mungkin karena pekerjaanku di kantor terasa terlalu "aman". Terlalu terstruktur. Aku hanya menjalankan proyek yang sudah ditentukan, menghitung data yang sudah diprediksi, menghasilkan hasil yang sudah diharapkan.
Aku rindu teka-teki. Aku rindu ketidakpastian yang membuat jantung berdebar.
Maka aku mulai membongkar perangkat ayahku.
Awalnya hanya sekadar melihat-lihat. Lalu membaca catatan-catatan yang dia tinggalkan. Lalu membandingkannya dengan teori-teori terbaru yang aku pelajari.
Dewi melihat perubahan ini. Dia tidak protes. Tapi suatu malam, saat aku masih asyik di lab hingga pukul sebelas, dia muncul di ambang pintu dengan piyama dan rambut tergerai.
"Apa yang sedang kamu kejar, Mas?" tanyanya.
Aku menoleh. "Aku tidak tahu. Mungkin jawaban."
"Untuk pertanyaan apa?"
YOU ARE READING
Dunia Baru
Science FictionWARNING: Gender Bender Hanya fiksi belaka Namaku Alvin Wijaya. Ilmuwan material kuantum. Semua berawal dari perangkat peninggalan ayahku. Seharusnya aku hanya mengkalibrasi ulang frekuensi resonansi. Tapi satu hal kecil yang berakibat besar bahkan t...
