Bab1: Hilang Dalam Kedipan Mata

8 2 0
                                        

Matahari siang itu seolah berada tepat di atas ubun-ubun, memanggang aspal jalanan menuju komplek perumahan dengan sisa-sisa panas yang menyengat. Roy berjalan dengan langkah gontai, jemarinya memijat pelipis yang berdenyut kencang. Wajahnya ditekuk, menyiratkan kekalahan telak setelah dua jam bertarung melawan angka-angka di atas kertas ujian.

​"Sumpah, Ngga... kepala gue berasa mau meledak," keluh Roy, suaranya parau tertelan deru angin sepoi yang kering. "Itu soal Matematika tadi bener-bener nggak ada akhlak. Otak gue ngebul, serius!"

​Angga, yang berjalan di sampingnya dengan langkah lebih ringan, hanya terkekeh. Ia melirik sahabatnya itu dari balik bingkai kacamata yang sedikit melorot. "Makanya, kalau semalam itu buku paket yang dipelajari, bukan komik yang dikhatamin sampai subuh."

​"Nggak ngaruh!" Roy mendengus, menyeka peluh di dahinya. "Mau gue begadang sampai fajar menyingsing pun, kalau namanya Matematika, emang dasarnya nggak sudi mampir di otak gue. Mental semua, Ngga. Kayak air di daun talas!"

​Tiba-tiba, langkah Roy terhenti. Tali sepatu kanannya terurai, menyapu debu jalanan. Tanpa aba-aba, ia berjongkok untuk merapikannya. Sementara itu, Angga yang masih asyik dengan wejangannya, terus melangkah maju tanpa menyadari bahwa ia kini berbicara pada angin.

​"Makanya kalau belajar itu yang serius, pakai hati. Fokus," lanjut Angga, tangannya bergerak-gerak di udara seolah sedang memberikan kuliah umum. "Lu kalau udah niat, sesusah apa pun rumusnya pasti—"

​Di belakangnya, tepat di samping sebuah tembok kusam yang ditumbuhi lumut kering, sesuatu terjadi. Dalam keheningan yang janggal, sebuah tangan muncul dengan kecepatan yang tak masuk akal dari balik bayangan tembok. Tanpa suara, tanpa teriakan, tubuh Roy tersentak, ditarik paksa ke dalam kegelapan di balik dinding itu seolah-olah gravitasi telah berpindah arah. Roy lenyap dari aspal dalam satu kedipan mata.

​"—pasti bakal masuk juga ke kepala. Lu denger nggak sih, Roy?" Angga menghentikan kalimatnya. Merasa tidak mendapat respons, ia berhenti melangkah namun belum menoleh.

​Hening. Hanya suara gesekan daun kering yang tertiup angin di kejauhan.

​Angga menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya. "Lah?"

​Jalanan di belakangnya kosong melompong. Aspal yang beberapa detik lalu dipijak Roy kini hanya menyisakan bayangan tiang listrik yang memanjang. Tidak ada jejak kaki, tidak ada suara tawa, tidak ada siapa pun di sana.

​"Tadi ngeluh puyeng mau pulang, sekarang malah balik lagi ke sekolah. Ketinggalan apaan lagi sih lu, Roy? Hadeh..." Angga menggeleng-gelengkan kepala, merasa jengkel dengan kelakuan sahabatnya yang ia kira tiba-tiba putar balik karena ada barang tertinggal.

​Angga pun melangkah kembali ke arah sekolah, melewati tembok kusam itu tanpa menyadari bahwa di balik sana, dunia baru saja menelan sahabat baiknya bulat-bulat.

POJOKWhere stories live. Discover now