Warning: Suicide content!
LYRA
Pernahkah kau bertanya-tanya, apakah setiap helai napas yang kita hirup adalah sebuah pilihan, atau sekadar kutukan takdir dari paru-paru yang terlalu keras kepala untuk menyerah?
Kita sering menyebut hidup sebagai sebuah anugerah. Namun, apa aku salah kalau berpikir bahwa hidup hanyalah rangkaian utang yang harus dibayar dengan rasa lelah. Setiap pagi, aku terbangun di dalam sebuah kamar sempit yang baunya seperti jamur dan rasa muak yang menyesakkan. Di luar pintu, suara statis dari televisi beradu dengan lengkingan amarah ibuku dan geraman mabuk ayahku. Bantingan, pecahan, amukan. Itulah udara yang kuhirup selama sembilan belas tahun. Campuran antara keegoisan, duka cita, dan debu-debu mimpi yang sudah lama kuanggap mati.
Kau mungkin berpikir aku menyedihkan. Ya, kuakui. Aku merasa sedih? Tidak juga. Sedih itu terlalu sederhana untuk mengartikan perasaan apa yang ada dalam dadaku. Atau mungkin, aku memang sudah mati rasa dan hidup karena jantungku memaksa untuk terus bekerja. Bila kudefinisikan diriku sendiri, aku lebih cocok berada di titik nadir, titik di mana matahari tidak mungkin bisa menjangkauku lagi, karena pada akhirnya, aku memang sudah berhenti menggelantungi hidup. Tanpa harapan, apa makna nyawa ini masih bertahan?
Kutatap permukaan sungai yang arusnya bergerak tenang, melihat samar pantulan diriku yang tak bergeming, tanpa ekspresi. Suara yang kudambakan berbisik lembut di telinga, menjanjikan satu hal yang paling kubutuhkan. Berhenti.
Tubuhku terayun dengan lambat di dalamnya. Seperti sehelai kain yang disambut dengan tarikan pelan, tapi pasti.
Melalui lapisan air yang keruh dan berat, aku menatap ke atas. Cahaya bulan menembus permukaan, tampak seperti piringan perak yang retak dan menari-nari. Indah, karena ia tidak bisa menyentuhku di sini. Tatkala tekanan air terasa seperti pelukan yang paling jujur yang pernah kuterima. Ia membungkus kulitku dengan dingin yang menggigit, membelenggu kakiku agar tidak perlu lagi merangkak ke atas dan memijak tanah keras dengan realita menyakitkan.
Pikiranku kosong. Sebuah kemewahan yang tak pernah mampu kubeli di dunia luar. Aku membiarkan udara terakhir lolos dari paru-paruku, naik ke permukaan sebagai gelembung-gelembung kecil yang membawa sisa-sisa rohku.
Aku sudah siap untuk benar-benar menjadi hening. Aku sudah siap untuk tidak lagi menjadi beban bagi dunia, dan dunia tidak lagi menjadi beban bagiku. Kegelapan ini hampir saja mendatangkan kelegaan setelah bertahun-tahun...
Sampai tiba-tiba, cahaya perak di atas sana pecah.
Dorongan yang besar dan liar menghantam air, mencabik-cabik kedamaianku. Aku merasakan sepasang tangan yang panik mencengkeram bahuku, menarikku dengan paksa. Aku ingin memberontak. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak butuh diselamatkan. Tapi air masuk ke tenggorokanku, membungkam amarahku.
"Tidak! Tidak, jangan! Kumohon, tetaplah bersamaku!"
Suara itu menjerit, pecah oleh kepanikan dan kepedulian yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku terseret ke tepian yang berlumpur. Aku terbatuk hebat, memuntahkan air sungai yang kotor bersama dengan seluruh rasa kecewaku. Paru-paru yang seharusnya sudah mati itu kini terbakar, memberontak karena dipaksa kembali menghirup udara yang menyesakkan. Setiap tarikan napas terasa seperti sayatan tipis di tenggorokan.
Saat penglihatanku mulai jernih di bawah temaram rembulan, aku melihatnya.
Seorang gadis. Dia terengah-engah, rambutnya yang basah menempel di wajah yang tampak terlalu sempurna untuk berada di tempat sekotor ini. Dia begitu bersih, begitu bercahaya, bahkan dalam keadaan kacau sekalipun. Matanya dipenuhi kecemasan yang tulus, seolah-olah kepergianku yang nyaris sempurna adalah mimpi buruk yang baru saja ia saksikan.
Dia adalah Ione.
Ione adalah segalanya yang bukan aku. Dia adalah matahari yang bertahta di puncak langit, dibalut pakaian mahal dan aroma kehidupan tanpa cela. Dia adalah simfoni yang didamba setiap gadis, sementara aku hanyalah suara statis dari televisi tua di rumahku. Malam itu, seharusnya dia berada di balik seprai sutranya, di balik dinding rumah megah yang melindunginya dari dunia nyata yang sesungguhnya.
Aku menatapnya dengan kebencian yang mendendam. Pertolongannya adalah sebuah kemalangan bagiku.
"Kenapa...?" suaraku keluar hanya sebagai bisikan serak yang menyakitkan. "Kenapa kau lakukan itu?"
Ione hanya bisa gemetar di bawah jaket cashmere-nya yang kini basah dan kotor. Dia menatapku lamat-lamat, tapi bukan rasa terima kasih yang ia temukan di mataku. Dia menatap ke dalam sebuah ngarai yang dalam--jauh lebih dalam daripada sungai yang baru saja ia terjang--dan untuk pertama kalinya, sang matahari melihat kegelapan yang tidak bisa ia sinari.
Ione tidak mengerti apa yang salah. Dan memang sudah seharusnya tuan puteri ini tidak perlu mengerti... karena ia hanya menyelamatkan musibah yang akan datang padanya.
TBC
This is just a short story. Bakal ada beberapa chapter pendek ke depannya buat mengisi waktu luang biar sayanya nggak stress mikirin masalah lain T,T
Sekalian nambah produktivitas gara-gara brainrot kebanyakan konsumsi short video.
YOU ARE READING
WANHOPE
RomanceSemua berawal dari sunyi malam di tepi sungai, di mana sebuah tangan yang asing merobek keheningan yang hampir saja menjadi abadi. Pertemuan di tengah malam itu menyeret dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan ke dalam satu pusaran yang sama. Di...
