‼️ Hai ini cerita Blackpink dan BTS ‼️
‼️ Tolong jangan hujat ya, tokoh di dalam buku ini‼️
***
Bagi Lisa, kenaikan kelas 11 seharusnya menjadi awal dari ambisinya untuk meraih peringkat atas. Namun, impian itu langsung buyar saat ia menginjakkan ka...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Hari pertama sekolah itu seharusnya diisi dengan semangat baru, buku tulis wangi, dan resolusi buat jadi anak rajin. Tapi bagi Lisa, hari ini diawali dengan menahan napas sampai muka merah padam di depan papan pengumuman.
Bambam, sahabat karibnya yang mulutnya memang sudah setelan pabrik—pedas dan jujur—hanya bisa memijat pelipis. "Ini mah kumpulan anak gak bener semua, bjir. Lihat tuh daftar namanya," gumam Bambam.
"Gausah nakutin ya, anjink. Masih terlalu awal buat nakutin gue," sahut Lisa galak. Padahal, dalam hati kecilnya, Lisa sudah memasang target ambisius: Tahun ini gue harus masuk peringkat atas! Tapi melihat daftar nama teman sekelasnya, optimisme itu mendadak menguap, digantikan rasa was-was.
Kelas mereka ada di posisi paling strategis sekaligus tragis: ujung koridor, tepat di samping tangga, dan yang paling parah—hanya dipisahkan satu dinding tipis dari toilet yang sirkulasi airnya sering "ngambek". Konon, di balik tembok belakang kelas itu dulunya adalah pemakaman noni Belanda. Bau pesing yang menguar di area itu bahkan bisa membuat nyali orang paling berani sekalipun ciut.
Saat Lisa memberanikan diri membuka pintu kelas, sebuah pemandangan horor menyambutnya.
Huwekk!
Tiga gadis berhamburan keluar dari kelas, memegangi perut dan mulut mereka. Otak Lisa yang memang hobi overthinking langsung bekerja cepat. Baru hari pertama masuk, masa udah ada yang hamil duluan?!
"Hah? Kenapa kalian? Hamil?!" tanya Lisa panik, menatap Jennie, Jisoo, dan Rose yang tampak pucat pasi.
"Mulut lo ya, dija—huekk!" Jennie bahkan tak sanggup menyelesaikan umpatannya.
Tanpa banyak tanya, Lisa menyodorkan botol parfum dari dalam tasnya. "Nih, pakai dulu! WOI, INI SIAPA SIH YANG ABIS KENCING GAK DISIRAM?! BAUNYA BIKIN MUNTAH NJIR!" teriak Lisa lantang ke arah dalam kelas.
Syukurlah, mereka cuma mual karena bau, bukan karena hal lain. Namun, saat mata Lisa tertuju ke dalam kelas, matanya membelalak. Di sana, tujuh cowok sedang duduk santai, seolah-olah bau pesing yang menusuk hidung itu cuma aroma aromatherapy buat mereka. Bahkan, salah satu dari mereka—cowok dengan senyum selebar matahari—sedang asyik membagikan gorengan di atas meja guru.
"Nih, nama gue J-Hope. Masuk aja, nggak usah malu-malu, ini gorengan gratis buat perkenalan," seru J-Hope dengan ceria, seolah-olah dia bukan sedang berada di dalam "ruang gas".
Jisoo menatap ke dalam kelas dengan pandangan jijik. "Bisa-bisanya kalian makan di tempat bau begini?" tanyanya. Ia kemudian menoleh ke arah Lisa yang tampak anteng-anteng saja di ambang pintu. "Lisa? Kok lo nggak muntah?"
"Gue lagi flu, hidung gue tersumbat total. Gabisa cium apa-apa," jawab Lisa santai.
Rose seketika mundur tiga langkah, menjauhi Lisa. "Covid lo ya?!"