- Bintang yang Mati Tanpa Nama -
Carmen mati tanpa pernah benar-benar hidup.
Ia bukan siapa-siapa di dunia yang menggilai panggung.
Bukan trainee berbakat.
Bukan visual unggulan.
Bukan anak orang kaya yang bisa bertahan meski gagal berkali-kali.
Ia hanya gadis miskin dengan mimpi keras kepala.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun menjadi trainee di agensi kecil yang bahkan tidak punya gedung sendiri-hanya lantai tiga bangunan tua yang atapnya bocor saat hujan. Ia menyanyi sampai tenggorokannya berdarah, menari sampai kakinya gemetar, tersenyum di depan cermin sambil berlatih aegyo yang terasa memalukan bagi gadis yang sudah terlalu sering menangis sendirian.
"Kurang bakat."
"Tidak punya aura bintang."
"Terlalu biasa."
Kalimat itu menghantuinya lebih lama daripada rasa lapar.
Hari pemecatan itu datang tanpa peringatan.
Tidak ada evaluasi.
Tidak ada penjelasan.
Hanya satu surat pendek: Kontrak dihentikan.
Di hari yang sama, berita tentang debut idol favorit seorang fans fanatik memenuhi layar ponsel. Carmen berdiri di depan gedung agensi, tas kain lusuh di bahu, dunia terasa terlalu berisik untuk seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.
Dan kesalahpahaman itu terjadi.
Ia disangka sasaeng.
Disangka pembenci.
Disangka ancaman.
Pisau itu dingin.
Cepat.
Dan dunia yang selalu menolaknya akhirnya mengambil nyawanya tanpa meminta izin.
Carmen mati dengan satu pikiran terakhir yang ironis:
"Aku bahkan tidak sempat gagal di panggung."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
- Intermezzo - Dewa yang Berwujud Kelinci -
Kematian tidak gelap.
Justru terlalu terang.
Carmen membuka mata-dan mendapati dirinya melayang di ruang penuh cahaya bintang, duduk di hadapan makhluk... aneh.
Seekor kelinci putih.
Memakai jubah berkilau.
Dengan mata emas yang memantulkan galaksi.
"Aduh, nasibmu benar-benar buruk," kata kelinci itu santai. "Trainee miskin, tanpa bakat, mati karena kesalahpahaman. Statistikmu jelek sekali."
Carmen ingin marah.
Tapi ia terlalu lelah.
"Kalau aku pergi ke surga, apakah mimpiku ikut masuk?" tanyanya pelan.
Kelinci itu terdiam. Lalu tersenyum licik.
"Bagaimana kalau opsi kedua?"
Ia menjentikkan jari. Cahaya berputar.
"Lahir kembali. Dunia yang sama. Tapi-"
Nada suaranya berubah lembut.
"-tubuh yang lebih baik. Darah yang lebih kuat. Takdir yang lebih dekat dengan panggung. Kesempatan untuk menjadi bintang besar yang dicintai dunia."
Carmen tertawa getir.
"Kedengarannya seperti kontrak agensi."
"Oh, ini jauh lebih jujur," jawab sang kelinci. "Aku Dewa Bintang dan Cahaya. Aku tidak menjanjikan kebahagiaan. Hanya kemungkinan."
Diam lama.
"Jika aku gagal lagi?" tanya Carmen.
"Kali ini," kata sang dewa, "kegagalanmu akan disorot kamera."
Carmen menutup mata.
"Kalau begitu... aku terima."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
- Aku Lahir di Dalam Skandal -
Tangisan bayi memecah keheningan kamar VIP rumah sakit.
Carmen membuka mata-dan dunia terasa terlalu besar.
Terlalu terang.
Terlalu... dekat.
Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar. Tangannya kecil. Napasnya pendek. Dan saat ia menangis, suara itu... bukan suaranya.
Panik.
Lalu sebuah wajah muncul di atasnya.
Cantik.
Lelah.
Dengan mata rusa yang berkaca-kaca.
Im Yoona.
Bahkan dalam kehidupan lamanya, Carmen tahu wajah itu. Semua orang tahu. Bintang nasional. Dewi Korea. Wanita sempurna yang senyumnya bisa menaikkan harga saham.
"my baby..." suara Yoona bergetar saat menyentuh pipi kecil Carmen.
Otak Carmen berhenti.
Tunggu.
Apa?!
Belum sempat mencerna, sosok lain berdiri di belakang-tinggi, tenang, terlalu rapi untuk situasi ini.
Lee Yohan.
Nama itu seperti petir.
Putra kedua Lee Soo-man.
Pewaris tak resmi SM Entertainment.
Tuan muda dingin sempurna yang tak tersentuh atau bisa didekati dunia.
Dan kini... ayahnya?
Carmen ingin tertawa.
Ingin menangis.
Ingin protes ke kelinci sialan itu.
Kau bilang "darah yang lebih baik", bukan "skandal nasional!"
Yoona memeluknya erat-seolah dunia di luar kamar itu adalah monster yang siap memangsa mereka.
"oppa lihat diam lucu sekali aku ingin memperlihatkan pada dunia tapi.... aku tidak bisa" bisik Yoona.
Yohan mengangguk. Rahangnya tegang.
"Dunia ini tidak ramah pada ibu idol dan bayi kita satang maaf," katanya dengan rasa bersalah " tapi aku janji rahasia kecil kita ini akan aman dan tumbuh dengan penuh cinta kita berdua"
Carmen menatap wajah mereka dari balik kelopak mata bayi.
Di kehidupan pertamanya, ia mati karena sisi gelap industri.
Di kehidupan ini...
Ia lahir di dalamnya.
Dan jauh di dalam dada kecilnya, satu janji terbentuk pelan, berbahaya, dan ambisius:
Jika dunia ini kejam pada bintang kecil,
maka kali ini... aku akan bersinar cukup terang untuk membakarnya.
YOU ARE READING
Born Under Spotlight (But I Remember the Dark)
FanfictionAU Carmen baby version genre: dunia entertainment - reinkarnasi - bayi- keluarga - persahabatan - komedi romantis- dan sisi gelap industri K-Pop #Aku lee Im Carmen Lahir kembali di kehidupan kedua di Dalam Skandal# Tangisan bayi memecah keheningan...
