Dunia Kirana hancur saat usianya delapan belas tahun. Bukan karena nilai ujiannya jatuh, atau karena dia diputusin cowok, tapi karena ayahnya membawa "keluarga baru" ke rumah mewah mereka. Hari itu, hujan gerimis tipis saat sebuah mobil hitam berhenti di depan teras. Ayah turun bersama seorang wanita cantik yang tampak lembut, dan seorang remaja laki-laki berusia empat belas tahun yang wajahnya terlihat sangat ketakutan.
"Kirana, ini Tante Sarah, mama barumu. Dan ini Raka, adikmu," ucap Ayah dengan nada yang sangat ceria, seolah-olah dia baru saja membawakan Kirana hadiah ulang tahun.
Kirana hanya berdiri di atas tangga dengan tangan bersedekap. Matanya yang tajam menatap Raka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Raka saat itu masih sangat kecil untuk ukuran anak empat belas tahun, badannya kurus, dan dia memegang pinggiran baju ibunya dengan erat.
"Aku nggak butuh adik," gumam Kirana ketus sebelum berbalik dan membanting pintu kamarnya.
Sejak hari itu, kehidupan Raka menjadi neraka. Kirana merasa posisinya terancam. Ayahnya yang dulu hanya fokus padanya, kini sering membicarakan tentang "masa depan Raka" atau "sekolah Raka".
Setiap kali Ayah dan Tante Sarah pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis-yang mana itu sangat sering-Kirana akan berubah menjadi monster.
"Sini kamu, anak pembawa sial!" bentak Kirana suatu sore, saat mereka baru setahun tinggal bersama.
Raka yang saat itu baru pulang sekolah langsung gemetar. Kirana menarik kerah seragamnya dan menyeretnya ke gudang di bawah tangga. Gudang itu gelap, pengap, dan penuh dengan barang-barang lama yang berdebu.
"Jangan, Kak... Raka takut gelap," isak Raka.
Kirana tidak peduli. Dia justru mengeluarkan sebuah kalung aneh dari sakunya. Kalung itu terbuat dari rantai besi kecil yang sudah agak berkarat dengan liontin berbentuk gembok tua yang berat.
"Pakai ini. Ini tanda kalau kamu itu cuma peliharaan di rumah ini. Kalau aku lihat kamu nggak pakai ini, aku bakal pastiin kamu nggak makan tiga hari."
Dengan tangan gemetar, Raka memakai kalung itu. Dan sejak saat itu, kalung tersebut menjadi bagian dari dirinya. Raka pernah mencoba mengadu pada ibunya, Tante Sarah. Sambil menangis, dia menunjukkan luka lebam di lengannya karena dicubit Kirana.
"Ma, Kak Kirana jahat... Raka disuruh tidur di gudang," adu Raka sesenggukan.
Tante Sarah hanya menghela napas, sibuk merapikan koper untuk keberangkatannya ke Singapura.
"Raka, jangan manja. Kirana itu cuma bercanda, dia kan baru belajar jadi kakak. Kamu yang harus lebih nurut sama dia supaya dia suka sama kamu. Jangan bikin Mama pusing, ya?"
Jawaban itu mematikan harapan Raka. Dia sadar, tidak ada yang akan menolongnya. Maka, dia memilih diam. Dia memilih patuh. Jika Kirana menyuruhnya masuk gudang, dia akan masuk. Jika Kirana memakinya, dia akan menunduk. Lambat laun, rasa takut itu berubah menjadi sesuatu yang aneh-sebuah ketergantungan yang menyakitkan.
Sekarang, tahun telah berganti. Kirana sudah berusia dua puluh dua tahun dan duduk di bangku universitas semester akhir, sementara Raka sudah delapan belas tahun dan berada di tingkat akhir SMA.
Namun, Kirana yang sekarang bukan lagi Kirana yang dulu.
Dilla menguap lebar sambil menatap langit-langit kamar yang sangat mewah. Sudah seminggu dia terbangun di tubuh ini. Sebagai orang yang aslinya sangat cuek dan easy-going, Dilla awalnya panik. Tapi setelah menyadari dia punya kartu kredit tanpa limit dan wajah secantik dewi, dia memutuskan untuk menikmati hidup saja.
"Ribet banget sih jadi Kirana yang lama," gumam Dilla sambil memoleskan lip tint ke bibirnya.
"Kenapa juga harus repot-repot nyiksa orang kalau bisa foya-foya?"
YOU ARE READING
The invisible Chains
Fantasy"Kebebasan itu hanyalah sebuah ilusi jika kuncinya masih berada di tangan orang yang sama." Dilla mengira kematian adalah akhir, namun takdir menariknya masuk ke dalam tubuh Kirana-seorang gadis kaya yang hidup dalam kemewahan, namun terjebak dalam...
