BAB 1

2.2K 187 28
                                        

Matahari pagi menyusup melalui celah gorden sutra di lantai dua kediaman Suryaningrat, namun sinarnya seolah enggan menyentuh kulit Bagaskara Seandika Suryaningrat. Pemuda itu berdiri mematung di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang tampak asing. Kemeja putih seragamnya yang kaku terlihat terlalu lebar di bagian bahu, seolah tubuhnya baru saja menyusut dalam semalam.

Sean, begitu lingkungan memanggilnya menghela napas, sebuah aktivitas sederhana yang mendadak terasa seperti mendaki tanjakan terjal. Dadanya terasa kosong, dan kepalanya berdenyut seirama dengan detak jantung yang melambat.

Pandangan sean turun ke lengan kirinya. Di bawah kemeja yang ia kancingkan dengan jemari bergetar, terdapat sepetak memar kebiruan yang masih segar di lipatan siku. Bekas tusukan itu masih berdenyut, meninggalkan rasa ngilu yang menjalar hingga ke ujung jari. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir rasa pening yang membuatnya hampir limbung.

Tok 
Tok

Pintu kamarnya terbuka tanpa menunggu izin. Seorang remaja laki-laki masuk dengan langkah ringan, hampir melompat. Wajahnya cerah, pipinya kemerahan, dan matanya berbinar penuh energi.

" Sean! Lama banget sih? Ayah sama Bunda udah nunggu di bawah," seru Sasangka Keandika Suryaningrat, yang di panggil dengan singkat Kean. Ia menghampiri sena dan menepuk bahu kakaknya dengan keras sebuah tepukan persahabatan yang bagi sean terasa seperti hantaman batu besar.

Sean meringis kecil, namun segera menyembunyikannya di balik senyum tipis yang dipaksakan. " hemm.. duluan aja."

Kean tertawa, lalu bercermin di samping sean. Ia merapikan rambutnya yang hitam sehat, sangat kontras dengan rambut sean yang terlihat sedikit kusam pagi ini 

" Gue ngerasa seger banget hari ini se.. kayak punya tenaga buat lari maraton!"

Sean menatap bayangan kean di cermin. Sean terlihat begitu hidup, begitu penuh dengan warna, sementara dirinya sendiri tampak seperti sketsa pensil yang mulai dihapus perlahan. Ada rasa syukur yang pedih di hati kean melihat binar itu, namun di sudut gelap pikirannya, sebuah suara berbisik: ck.

"Baguslah," gumam Bagaskara singkat. Suaranya serak. "Ayo turun. Jangan bikin Bunda nunggu."

Kean merangkul bahu sean, menyeret kakaknya yang berjalan dengan langkah berat menuju ruang makan. Di koran-koran sosial, mereka sering disebut sebagai kembar identik yang sempurna. Namun pagi ini, saat mereka berjalan berdampingan di lorong mansion yang sunyi, mereka tampak seperti dua sisi koin yang berbeda: yang satu adalah bulan yang baru saja memenangkan cahayanya, dan yang satu adalah Matahari yang hampir padam karena memberikan seluruh apinya.

-

-

Ruang makan itu terlalu luas untuk hanya diisi empat orang. Di atas meja marmer panjang yang sanggup menampung dua puluh tamu, Adrian Suryaningrat dan Eleanor Maheswari duduk di ujung meja dengan punggung tegak, seolah-olah sedang memimpin rapat dewan direksi daripada sekedar sarapan keluarga.

Begitu Sean dan Kean muncul, pandangan Eleanor langsung terkunci pada Sean. Wanita itu meletakkan serbet kainnya, matanya menyipit penuh selidik.

" sean, jalanmu lambat sekali.. Kamu merasa pusing ?" Suara Bunda tenang, namun ada nada tuntutan di sana yang membuat Sean tidak punya pilihan selain menegakkan punggungnya yang pegal.

" ngantuk aja bun " jawab Sean singkat. Ia menarik kursi berat di sebelah Kean.

Di hadapan Sean, sebuah gelas berisi cairan merah pekat sudah menunggu. Bukan jus stroberi segar seperti milik Kean, melainkan sari bit dan bayam dengan aroma tanah yang tajam. Di sampingnya, terdapat deretan suplemen yang harus Sean telan setiap pagi.

NOCTIS SOLARISWhere stories live. Discover now