1

975 8 1
                                        

"Bunda, jangan tinggalin Sita." Sita menangis memeluk ibunya yang sudah terbujur kaku.

"Yang sabar ya nak Sita. Ikhlaskan kepergian bundamu." Ujar bi Darmi yang merupakan pembantu sekaligus pengasuh Sita sejak kecil di rumah itu.

Ratih sudah lama menderita penyakit kanker payudara, sudah hampir 3 tahun ini ia harus bolak balik kemoterapi serta berbagai macam terapi agar bisa sembuh dari penyakit yang ia derita. Sempat di nyatakan sembuh, namun ternyata penyakit itu muncul kembali. Aji sebagai sang suami sangat setia menemani istrinya tersebut untuk berobat dan merawat istrinya denga0n se0baik mungkin.

Tapi kali ini tuhan berkata lain, Ratih pun kembali ke pangkuan sang Ilahi. Meninggalkan duka yang mendalam untuk Aji dan putri semata wayang mereka Sita Ayodhya Diandra.

"Aji, aku turut berduka cita atas meninggalnya Ratih." Ucap Rosa.

"Ros, aku meminta maaf jika mungkin Ratih pernah ada salah baik dari perkataan maupun perbuatan terhadap mu." Ujar Aji seraya menyatukan kedua tangan tanda permintaan maaf di hadapan Rosa.

"Ratih wanita yang sangat baik. Ia tak pernah sedikit pun menyakiti perasaan siapa pun baik dari sikap maupun perkatan." Ujar Rosa seraya menyentuh pundak Aji untuk menguatkan lelaki itu.

Di lain sisi, Arka mendekati Sita yang tengah menangis tersedu-sedu di hadapan jenazah sang bunda.

"Sita." Panggil Arka seraya menyentuh pundak gadis cantik berlesung pipi itu.

"Arka. Aku kehilangan bunda." Sita reflek berhambur ke dalam pelukan Arka.

Tangis pilu terdengar jelas dari gadis itu meskipun wajahnya ia sembunyikan di dada bidang Arka. Arka memeluk gadis itu, yang merupakan sahabatnya sejak kecil.

"Sit, menangislah jika itu memang bisa mengurangi rasa sakitmu atas kepergian tante Ratih." Ujar Arka memeluk erat Sita.

"Aku gak bisa hidup tanpa bunda. Aku gak mau kehilangan bunda." Ujar Sita.

Arka masih memeluk gadis itu sambil menenangkannya seraya mengusap rambut Sita.

Proses pemakaman telah selesai, semua pelayat telah pulang. Kini hanya tersisa, Sita, Ayahnya, Mama Arka dan juga Arka beserta bi Darmi.

"Sita, kita pulang yuk. Hari sudah mulai sore, bukankah kita akan mengadakan tahlilan selepas magrib untuk bunda." Aji membujuk putrinya, yang masih saja terduduk seraya memeluk nisan yang bertuliskan nama Ratih.

"Sita masih mau disini sama bunda." Ujar Sita dengan ucapan yang bergetar.

"Tapi sayang." Belum selesai Aji berkata, Rosa pun mendekat.

"Biar aku yang membujuknya." Ucap Rosa yang kemudian di setujui oleh Aji.

"Sita, sayangkan sama bunda? Kalau Sita terus menangis seperti ini, pasti bunda akan sedih juga disana. Kasihan bunda jika melihat Sita terus seperti ini." Ucap Rosa lembut seraya merangkul pundak Sita.

Sita pun menoleh ke arah Rosa dan menatap wanita itu.

"Tante." Sita memeluk Rosa, wanita itu membalas pelukan gadis cantik yang biasanya terkenal periang namun kini tawa itu hilang.

"Kita pulang dulu ya nak. Jangan sedih lagi, kita harus belajar untuk mengikhlaskan kepergian bundamu." Ujar Rosa.

Akhirnya Sita pun menuruti perkataan Rosa, mereka semua kembali pulang ke kediaman Aji.

Acara tahlilan telah selesai, semua tamu pun sudah banyak yang pulang.
Sita duduk sendiri di ayunan yang ada di teras samping rumahnya. Ia tertunduk menyembunyikan kesedihannya.
Sampai akhirnya Arka datang menghampiri gadis itu dan duduk di sampingnya.

"Sudah cukup nangisnya, kasihan tante Ratih jika terus melihat kamu bersedih." Ucap Arka.

Sita pun mengangkat pandangannya. Arka merentangkan kedua tangannya memberi kode untuk gadis itu masuk ke dalam pelukkannya.

Gadis itu pun kembali berhambur masuk ke dalam pelukan pria yang tinggi nan tampan itu. Sita kembali menangis sejadi-jadinya.

"Sit, yang pergi tak akan pernah kembali. Sama seperti waktu aku kehilangan papa, dulu aku masih suka menangis merindukannya. Tapi hidup harus tetap berjalan, biarlah mereka yang pergi tetap hidup dalam ingatan kita." Ujar Arka seraya mengelus punggung Senja.

"Aku ikhlas, tapi aku sakit." Ucap Sita.

Arka menarik nafas panjang dan menghembusnya pelan.

"Ayo kita masuk, tidak baik lama-lama di luar." Ajak Arka.

Arka pun menghantarkan Sita kembali ke kamarnya dan menemani gadis itu hingga tertidur lelap.

"Arka, makasih sudah bantu om untuk menghibur Sita." Ucap Aji kepada Arka yang baru saja keluar dari kamar itu.

"Hmmm, aku tumbuh bersama Sita sejak kecil. Bagiku Sita sudah seperti adikku sendiri om. Aku menyayanginya, sudah menjadi tugasku untul menghiburnya di kala seperti ini." Ujar Arka.

"Arka, ayo kita pulang nak. Bukankah kamu besok ada mata kuliah pagi." Ajak Rosa.

"Ros, terima kasih untuk semuanya. Ku lihat kau sangat repot sekali membantuku mengurus semua ini. Bahkan kau sampai turun tangan untuk menenangkan putriku, Sita." Ujar Aji menatap Rosa.

"Kau, aku dan Ratih sahabat sejak dari SMA. Bagiku kalian sudah seperti keluargaku, bahkan Sita pun sudah ku anggap seperti putriku sendiri. Jadi semua ini sudah jadi tanggung jawabku untuk membantu semuanya." Ujar Rosa seraya menyentuh pundak Aji.

"Terima kasih banyak Ros." Ucap Aji yang reflek menangis.

"Kami pamit pulang dulu ya. Jika butuh sesuatu atau terjadi sesuatu dengan Sita, tolong kabari kami." Ucap Rosa.

"Baik Ros. Terima kasih." Jawab Aji.

"Aku sama mama pulang dulu ya om." Ujar Arka yang kemudian menyalami tangan Aji.

"Iya, hati-hati di jalan nak." Jawab Aji.

Rumah yang ramai tadi pun kini terasa sepi, semua tamu yang melayat dan mengikuti tahlil pun sudah pulang semua. Termasuk semua kerabat mereka pun juga sudah kembali ke kediaman masing-masing.

Kini hanya tinggal Aji, Sita, bi Darmi dan kang Soleh yang merupakan kedua pembantu mereka di rumah itu.

Aji pun masuk ke kamar Sita, memandangi putrinya yang tertidur lelap dengan air mata yang mengering di pipi.
"Sekarang hanya tinggal kita berdua nak,  ayah akan selalu ada untuk Sita." Ucap Aji yang kemudian mencium kening putrinya dan kembali meninggalkan kamar Sita.

Aji pun masuk ke kamarnya sendiri, kamar tempat dimana Aji dan Ratih sering menghabiskan waktu bersama. Kini kamar itu sudah berbeda suasananya, tak ada lagi suara lembut Ratih yang selalu terdengar setiap saat.

Aji berjalan mendekati meja rias tempat Ratih biasa duduk untuk mempercantik dirinya. Di ambilnya sebuah bingkai foto kecil yang terletak di pojok meja rias tersebut.

Bingkai yang berisikan foto keluarga kecil mereka. Senyum sumringah tampak menghiasi foto itu, ini foto keluarga yang mereka ambil saat Sita berulang tahun ke 17 dan sebelum Ratih ketahuan mengidap penyakit kanker payudara.

Aji menangis sejadi-jadinya sambil memeluk foto itu, sesak di hatinya tak tertahan. Ia kuat ketika semua orang masih ada, tapi ketika sendiri rasa sakitnya tak tertahan atas kepergian Ratih.
"Aku merindukanmu, Ratih. Aku rasanya tak sanggup tanpa dirimu." Ujar Aji menangis pilu.

"Aku janji akan merawat Sita dan menjaga anak kita. Aku akan selalu membersamainya, Ratih." Ucap Aji.

Neraka ArkaWhere stories live. Discover now