Bab 1: Ini enak!

6 1 0
                                        

EXPLOSION CEO ‘DYNAMIGHT’
FEMDEKU X BAKUGO
MHA BELONGS KOHEI HORIKOSHI
Fiction by Shiraishi Connan

Bab 1: Ini enak!

Lantai 44 DYNAMIGHT CORP berbau seperti kesuksesan dan kecemasan yang akut.
Midoriya Izuku merapikan rok pensilnya untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima menit. Di usianya yang ke 25 tahun, ia akhirnya berdiri di sini—jantung dari industri fashion yang ia puja. Namun, impiannya terasa sedikit berguncang saat ia melihat sekretaris sebelumnya keluar dari ruangan berpintu jati dengan mata sembab dan tumpukan kertas yang berantakan.

"Semoga beruntung," bisik wanita itu singkat. Dia sedang dalam mode inferno.
Izuku menelan ludah. Ia menarik napas dalam, membetulkan pakaiannya kembali dan dengan tablet di pelukannya, ia mengetuk pintu.

TOK TOK.

"MASUK!"

Suara itu bukan sekadar sahutan, itu adalah bentakan yang membuat bingkai foto di dinding seolah bergetar. Izuku melangkah masuk. Ruangan itu luas, minimalis, dan sangat mewah, dengan pemandangan kota di balik dinding kaca raksasa. Namun, fokusnya langsung tertuju pada pria yang duduk di balik meja kerja marmer hitam.

Bakugo Katsuki. Sang jenius di balik desain-desain revolusioner, pria yang wajahnya sering menghiasi sampul majalah bisnis maupun gaya hidup. Rambut ash-blondenya berantakan, dengan dasi yang sudah ditarik longgar.

"Kau sekretaris baru?" Bakugo bahkan tidak mendongak dari sketsa di depannya. Matanya yang merah tajam masih memindai garis-garis desain dengan intensitas yang mengerikan.

"I-iya, Pak. saya Midoriya Izuku, saya yang ditugaskan untuk—"

"Aku tidak butuh perkenalan dramatis, Deku," potongnya kasar. Ia akhirnya mendongak, tatapannya menyapu Izuku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan nada meremehkan. "Tugasmu sederhana: jangan buat aku mengulang perintah, jangan lambat, dan jangan sekali-kali menyediakan kopi jika suhunya sudah turun lebih dari 10 derajat. Mengerti?"

Izuku tertegun. Deku? Dia bahkan baru berada di ruangan ini selama tiga puluh detik dan sudah diberi nama panggilan yang terdengar seperti penghinaan.

"Tapi, Pak, nama saya Mido—"

BRAK!

Bakugo menggebrak meja, membuat Izuku terjengit. "Aku tidak peduli! Ambil jadwal ini, atur ulang pertemuan dengan vendor dari Paris, dan pastikan mereka tahu kalau desain mereka sampah! Jika kau tidak bisa melakukannya dalam satu jam, silakan angkat kaki dan cari pekerjaan di toko kain kiloan!"

Izuku mengepalkan tangannya di balik tablet. Rasa takut itu ada, tapi api kecil di dalam dirinya—tekad yang membawanya sampai ke posisi ini—mulai menyala. Ia tidak akan membiarkan pria pemarah ini menghancurkan kariernya di hari pertama.

"Baik, Pak Bakugo," sahut Izuku, suaranya kini lebih stabil dan tegas. "Jadwal akan siap dalam empat puluh lima menit. Dan untuk kopinya... saya pastikan suhunya akan selalu sempurna untuk mendinginkan kepala Anda."

Bakugo berhenti menulis. Ia menyipitkan mata, menatap sekretaris barunya dengan ekspresi antara kesal dan sedikit tertarik. "Cepat pergi dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran."

Izuku membungkuk sopan dan berbalik. Saat pintu tertutup di belakangnya, ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya.

Selamat datang di neraka yang paling modis di dunia.

.
.

Izuku benar-benar mengingat bagaimana susahnya untuk masuk perusahaan ini.
Dengan portofolio desain yang ia kerjakan selama bertahun-tahun dengan penuh peluh. Namun, selalu saja di tolak. Di karenakan tidak sesuai dengan permintaan atau mode pada tahun-tahun tertentu. Tapi itu bukanlah akhir, itu bisa menjadi awal izuku agar selalu improve dengan apa yang akan ia buat.

Dan pada akhirnya semua itu menjadi kenyataan, diusianya yang sudah genap 25 tahun Izuku akhirnya mendapatkan pekerjaannya di perusahaan fashion paling terkenal dia negri ini atau bahkan dunia.
Namun hal yang sangat ia inginkan pada akhirnya menjadi tidak berjalan lancar, di karenakan saat mendengar seorang HRD yang meberitahunya.

"Posisi desainer sudah penuh, Nona Midoriya. Tapi, kami butuh seseorang dengan ketelitian dan kesabaran sepertimu untuk posisi Sekretaris Eksekutif CEO. Gajinya jauh lebih tinggi, dan kau akan berada di jantung perusahaan ini. Bagaimana?"
mengigat kembali tawaran HRD itu Izuku benar-benar ingin tertawa nanar.

Sekertaris Eksekutif CEO

Tawaran yang sangat menjanjikan dan juga ‘berbahaya’.  Izuku benar-benar masuk dalam perangkap.
Kalau tidak sekarang, kapan lagi ia bisa bekerja di perusahaan ini. Mengingat usianya juga sudah mencapai batas usia yang di perlukan dan di butuhkan perusahaan ini.

Memang aneh dengan perusahaan Dynamigth corp  yang membatasi setiap pelamar, yang ingin bekerja di perusahaannya.
Mungkin karna si pendirinya yang berusia sangat muda saat mendirikan perusahaan dan sukses besar di usia 25 tahun, Pada akhirnya menjadikan batas usia itu untuk batas melamar pekerjaan di perusahaan yang di kelolanya.

.
.

Tepat 45 menit berlalu, Izuku dengan santai mengetuk pintu dan suara “MASUK”  yang tidak akan pernah berubah intonasinya terdengar.
dengan cepat Izuku masuk.

“Permisi, Ini saya bawakan kopinya” Ujar Izuku berjalan mendekat dan meletakan secangkir kopi dengan suhu yang di inginkan CEO itu tepat di samping tumpukan kertas di atas meja marmer berwarna hitam.

"Dan ini jadwal vendor Paris yang anda inginkan. Saya sudah memperbaikinya karena ada beberapa kesalahan teknis di versi sebelumnya." meletakan kembali kertas portofolio tepat di bawah tatapan mata Bakugo.

Bakugo terdiam sejenak. Ia menyipitkan mata, menatap wanita berambut hijau di depannya yang tidak tampak gemetar sama sekali.
"Kau melamar untuk bagian desainer, kan? Aku melihat namamu di daftar pelamar sebelumnya."

"Benar. Tapi karena posisi itu sudah terisi, saya di tawarkan untuk menjadi sekertaris. Mengingat bahwa itu salah satu tawaran yang sangat bagus pada akhirnya saya menerimannya dan disinilah saya saat ini, di hadapan anda Pak Bakugo," balas Izuku dengan keberanian yang muncul tiba-tiba.

Bakugo mendengus, sebuah senyum miring yang berbahaya muncul di wajahnya. "Berani juga kau. Dengar, Deku—aku tidak butuh sekretaris yang hanya bisa membuat kopi. Aku butuh seseorang yang bisa mengikuti kecepatan otakku. Jika kau lambat sedetik saja, kau keluar."

"Saya tidak akan lambat," Izuku menantang balik. "Dan saya harap Anda juga bisa mengikuti kecepatan saya dalam mengatur hidup Anda yang berantakan itu."

Bakugo tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar seperti percikan api. "Kita lihat saja berapa lama kau bertahan, Deku."

Izuku yang mendengarnya hanya menunduk hormat, “Baiklah Pak Bakugo, saya terima tantangan dari anda. Kalau tidak ada yang perlu saya lakukan lagi saya akan undur diri, Permisi” Tunduknya lagi. Izuku perlahan berjalan menuju pintu dan keluar dengan tenang.
Entah apa yang tadi dia ucapkan, seolah mulut dan pikirnnya tidak saling singkron, Dimana otaknya menyarankan untuk tidak main-main dengan atasannya namun mulutnya benar-benar berkata lain.

‘Apa itu ? tantangan?’ Izuku memukul kecil kepalanya ‘BAKA, aku benar-benar bodoh’.

.

Sementara itu di dalam ruangan, Bakugo tersenyum sambil menyesap kopinya.

’Ini enak!’ batinya meneliti kopi yang baru saja di resapnya.












.
tbc

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 21 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

EXPLOSION CEO 'DYNAMIGHT'Where stories live. Discover now