Prolog

7 3 1
                                        

•~~~~~~~~~~~~~•~~~~~~~~~~~~•

>Kehidupan Pertama: Ketika Langit Menghujani Bumi dengan Keajaiban<

Di sebuah era yang telah dihapus dari lembaran waktu, ketika dunia belum mengenal peta dan samudra masih berisik dalam bahasa penciptaan, bertahanlah sebuah entitas yang dikenal sebagai Sosok Cahaya. Ia bukanlah dewa yang dingin di atas singgasana, melainkan personifikasi dari kebebasan yang berjalan di atas bumi. Ke mana pun ia melangkah, rantai-rantai yang membelenggu jiwa manusia akan hancur dengan sendirinya, bukan karena pedang, melainkan karena getaran aneh yang keluar dari dadanya—sebuah irama genderang yang riuh, menenangkan sekaligus membakar semangat untuk memberontak terhadap kesunyian.

Sosok Cahaya ini adalah fajar yang menolak terbenam. Ia turun bukan untuk takhta, bukan juga untuk dipuja, melainkan untuk menciptakan kekacauan yang indah. Wujudnya bersinar, rambutnya seputih awan yang menari, dan tubuhnya bergerak dengan kelenturan yang melampaui logika. Ia berlari melintasi dunia, membebaskan raksasa yang dikurung di bawah gunung, dan mengajak para budak menari di atas reruntuhan penjara mereka.

Ia menari di tengah badai dan tertawa di hadapan air mata bagi mereka yang merasa memiliki dunia. Baginya, hukum adalah benang-benang rapuh yang hanya pantas diputus, dan tirani adalah awan hitam yang harus diusir oleh binar matanya.

Kekacauan itu indah, memabukkan, dan tentu saja ... mengundang perhatian entitas lain.

Di kedalaman dimensi yang paling sunyi, di antara tumpukan tulang dan napas waktu yang berhenti, bersemayamlah Sang Bayangan. Ia adalah perwujudan dari akhir segala sesuatu, sang penjemput yang menarik napas terakhir setiap makhluk hidup. Kehadirannya dingin, setajam bilah pedang yang baru ditempa. Ia tidak memihak; baginya kematian adalah kepastian. Tidak ada bedanya antara raja yang berkuasa seribu tahun atau serangga yang hidup satu hari.

Selama ribuan tahun, Sang Bayangan hanya mengenal keheningan absolut. Sampai suatu hari, suara tawa Sosok Cahaya menggetarkan dunianya yang gelap.

Di dorong oleh rasa penasaran yang belum pernah ia rasakan sejak awal penciptaan, Sang Bayangan melangkah keluar dari keheningannya. Ia mencari bukan untuk menghakimi, ia mencari hanya untuk memuaskan rasa penasarannya. Ia menemukan Sosok Cahaya di puncak sebuah tebing yang mengarah ke samudera abadi. Di sana, di bawah langit yang berwarna jingga keemasan, mereka bertemu. Sang Bayangan berdiri dengan jubah sehitam lubang semesta, membawa lambang keheningan di pinggangnya yang sanggup membelah dimensi.

"Kau berisik," ujar Sang Bayangan. Suaranya berat, seperti gesekan dua batu besar di dasar jurang. Auranya yang kelam biasanya membuat makhluk hidup manapun gemetar, namun sosok putih didepannya justru memiringkan kepala.

Sosok Cahaya itu berbalik, dan tersenyum-sebuah lengkungan yang lebih terang dari seribu bintang—membuat Sang Bayangan terpaku. "Dan kau terlihat membosankan! Kenapa wajahmu di tekuk begitu?" balas Sosok Cahaya itu sambil tertawa, sebuah suara yang terdengar konyol namun entah mengapa menghangatkan dinginnya aura sang pencabut nyawa.

"Aku datang untuk melihat kekacauanmu. Kau memperlambat kematian mereka yang seharusnya mati, dan mempercepat kematian mereka yang seharusnya hidup," kata Sang Bayangan sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

“Aku tidak peduli tentang hal itu! Aku hanya ingin mereka makan sampai kenyang, membuat mereka tertawa dan menari dengan bebas! Apa gunanya hidup lama kalau tidak bebas? Itu sama saja dengan mati, kan? Tidakkah kau ingin mencoba tertawa dan menari juga?”

Kata-kata itu sederhana, namun menghantam kesadaran Sang Bayangan lebih keras dari senjata apapun. Untuk pertama kalinya, Sang Bayangan merasakan ketertarikan.

"Kau aneh," gumam Sang Bayangan.

"Bergabunglah denganku!" ajak Sosok Cahaya, mengulurkan tangannya yang memancarkan cahaya yang hangat. "Dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi sendirian. Kau butuh hiburan, Tuan Pemurung! Kita akan tertawa dan menari bersama".

THE ETERNAL DAWNWhere stories live. Discover now