Pagi itu, embun masih memeluk padang rumput di kaki bukit dengan erat, menciptakan lapisan perak yang berkilau saat tersentuh cahaya fajar yang masih malu-malu. Nael berdiri di sana, dikelilingi oleh suara gemerisik rumput dan bunyi lonceng kecil dari leher domba-domba yang mulai sibuk mencari sarapan.
Pekerjaannya adalah tentang kesabaran. Nael harus memastikan setiap domba mendapatkan rumput terbaik di lereng bukit, sambil terus waspada terhadap celah bebatuan yang licin. Bunyi gesekan rumput yang diinjak kaki-kaki mungil dombanya menjadi melodi yang menemani kesendiriannya setiap hari.
"Ayo, tetaplah di sini," gumam Nael lembut pada seekor domba yang mulai menjauh, namun pikirannya melayang melampaui pagar perbatasan.
Nael hanyalah seorang pengembala, dan dunianya adalah tanah dan wol. Mengenakan kemeja kain kasar yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kuat namun ramping karena terbiasa mengangkat karung pakan dan menghalau ternak yang tersesat. Sesekali, ia menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu kembali menancapkan tongkat kayunya ke tanah yang lembap.
Ketenangan padang rumput tiba-tiba terusik oleh suara derap kaki kuda yang beritme cepat dan denting baju zirah logam. Dari kejauhan, Nael menyipitkan matanya, menghalau silau matahari yang mulai meninggi. Ia melihat rombongan penjaga istana dengan seragam gagah sedang mengawal sebuah kereta kuda kerajaan yang megah, melintasi jalan setapak di perbatasan bukit.
Jantung pemuda itu berdegup lebih kencang saat iring-iringan itu melambat. Dan di sana, di antara barisan pengawal yang kaku, Nael melihatnya.
Putri Callista sedang menunggangi salah satu kuda putih pilihan, berada di tengah-tengah pengawalan. Angin pagi yang berembus kencang memainkan rambut hitam pendeknya yang rapi, membuatnya terlihat sangat kontras dengan latar langit biru. Nael terpaku diam di tempatnya berdiri, seolah waktu berhenti berputar saat ia menangkap binar mata violet sang putri yang teduh, menatap ke arah hamparan hijau tempat Nael berada.
Callista tampak begitu agung dalam balutan gaun biru tua keunguan yang berkerah tinggi. Sebuah pita putih kecil menghiasi lehernya, memberikan kesan manis di tengah kewibawaannya sebagai bangsawan. Sebuah jubah hitam yang anggun tersampir di bahunya, berkibar lembut mengikuti gerakan kuda yang ia tunggangi.
Nael meremas tongkat kayunya erat-erat. Tangannya yang kusam oleh debu dan kakinya yang beralaskan sandal kulit tua terasa semakin berat di atas tanah. Ia sadar, meski jarak mereka kini hanya terpisah beberapa puluh meter, aura agung yang dipancarkan Callista menciptakan dinding yang tak kasat mata namun mustahil untuk ditembus.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~|||~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Malam telah jatuh, menggantikan birunya langit dengan pekat yang dingin. Suasana di dalam bar "Wooden Lantern"tempat favorit para pekerja kasar dan pengembala di desa itu terasa hangat dan riuh. Bau kayu terbakar dari perapian bercampur dengan aroma gandum dari gelas-gelas besar yang berjajar di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk.
Di salah satu sudut yang agak remang, Nael duduk berhadapan dengan Arima, sahabat karibnya yang bekerja sebagai tukang kayu. Suara gelak tawa pengunjung lain dan denting gelas menjadi latar belakang obrolan mereka.
"Kau melamun lagi, Nael," tegur Arima sambil menyobek roti gandum keras di piringnya. "Domba-dombamu pasti tertawa melihat tuannya bengong sepanjang sore."
Nael tersenyum tipis, matanya menatap api lilin yang bergoyang di tengah meja. "Aku melihatnya lagi hari ini, Arima. Di perbatasan bukit timur."
Arima menghentikan kunyahannya, alisnya terangkat. "Siapa? Putri Callista?"
Nael mengangguk pelan. "Dia lewat bersama pengawal kerajaan. Hanya sebentar, tapi..." Ia terdiam sejenak, membayangkan kembali rambut hitam pendek yang rapi dan jubah hitam anggun yang berkibar ditiup angin pagi tadi. "Dia tampak sangat berbeda dari kita. Begitu agung, dengan gaun biru tua keunguan dan pita putih di lehernya. Bahkan dari jauh, mata violetnya seolah bisa menembus kabut."
YOU ARE READING
Princess & Shepherd
RomanceNael, seorang pemuda pengembala sederhana di Kerajaan Valerion, hanya bisa mengagumi Putri Callista dari kejauhan. Namun, sebuah petisi teman pena dari istana mengubah segalanya. Di tengah ribuan surat mewah para bangsawan, Callista yang merasa kese...
