Bab 1: Resonansi Delapan Puluh Juta

74 3 0
                                        

"Aku belajar bahwa uang bisa membeli rumah, tapi tidak bisa membeli kehangatan di sudut ruang tamunya. Aku bisa membeli tiket ke Helsinki setiap tahun, tapi aku tidak bisa membeli seseorang yang menatap salju dengan binar mata yang sama denganku. Di Umbul Ponggok, aku belajar melihat menembus permukaan—bahwa yang jernih belum tentu tenang, dan yang tenang belum tentu dalam."Niskala Reo.

Di Klaten, waktu punya caranya sendiri untuk meluruh. Ia tidak berdetak lewat jarum jam mekanis yang menempel di pergelangan tangan, melainkan lewat pergeseran bayangan pohon talok di pelataran dan aroma tanah yang menguap setelah hujan sore hari. Bagi Niskala Reo, kesunyian adalah barang mewah yang ia tebus dengan harga yang sangat mahal. Sepuluh tahun masa mudanya habis terjual di antara belantara beton Jakarta dan keriuhan baja di Singapura. Kini, di usia tiga puluh dua, Reo memilih untuk berhenti mengejar dan mulai memperhatikan.

Reo duduk di teras rumah limasan modernnya. Bangunan itu adalah sebuah anomali yang manis—perpaduan antara dinding beton ekspos yang dingin dengan kayu jati tua yang ia pinang tunai, tanpa satu persen pun campur tangan bunga bank. Di garasi yang pintunya dibiarkan terbuka, dua mesin dalam kondisi prima terparkir rapi. Sebuah SUV tangguh untuk melibas medan berbatu dan satu sedan sport klasik yang hanya ia keluarkan saat ingin merasakan presisi teknik Jerman di jalanan aspal yang lengang.

Saldo di rekeningnya bukan lagi sekadar angka; itu adalah benteng. Dengan pendapatan delapan puluh juta rupiah setiap bulan sebagai Manager Regional sebuah firma logistik maritim, Reo telah mengamankan empat miliar di tabungan pensiunnya. Namun, hidup di kota kecil ini adalah tamparan bagi logika konsumerismenya dulu. Untuk kebutuhan sehari-hari—dari mulai sarapan soto garing hingga tagihan listrik rumah besarnya—ia jarang sekali menyentuh angka empat juta rupiah. Hidup di Klaten terlalu jujur untuk harga-harga yang selangit. Sisa gajinya? Biarkan ia mengendap seperti sedimen di dasar Umbul Ponggok—tenang, jernih, dan memberi kepastian yang sunyi.

Perjalanan mencapai titik ini tidaklah linier. Sebagai anak semata wayang dari ayah berdarah Jepang, Hiroshi, dan ibu berdarah Jawa, Raras, Reo tumbuh di antara dua kutub yang kontradiktif: disiplin baja yang hampir kejam dan ketenangan yang pasrah.

"Hanya ada satu peluru di senjatamu, Reo," ayahnya selalu berkata dalam bahasa Indonesia yang kaku namun tajam. "Karena kau tidak punya saudara untuk berbagi beban atau peluru cadangan. Pastikan setiap tembakanmu tepat sasaran."

Pendidikan adalah medan tempur pertamanya. Reo bukan sekadar lulusan sarjana yang mencari gelar untuk bekerja. Ia menyelesaikan studi Teknik Industri di ITB dengan predikat Cum Laude, sebelum terbang ke Tokyo untuk mengambil Master of Science di Waseda University. Di sana, ia belajar bahwa efisiensi bukan hanya soal memotong biaya, tapi soal menghargai setiap detik yang hilang. Ia memoles dirinya dengan sertifikasi Six Sigma Black Belt dan PMP, memastikan otaknya bekerja layaknya mesin yang terlumasi dengan baik.

Ia adalah mesin yang diprogram untuk optimasi. Dalam tujuh tahun, ia melompati tangga korporasi dengan kecepatan yang membuat rekan sejawatnya sesak napas. Namun, menjadi anak tunggal berarti memikul beban ekspektasi yang mutlak. Tidak ada jaring pengaman bernama saudara kandung. Tidak ada ruang untuk gagal ketika kaulah satu-satunya pewaris harapan.

"Investasi terbaik adalah saat kau bisa membeli waktumu kembali," tulisnya dalam jurnal pribadi suatu malam di Helsinki, saat sebuah perjalanan dinas terasa terlalu dingin untuk dinikmati sendiri. Kalimat itulah yang akhirnya membawanya pulang ke Klaten.

Keputusannya untuk "menepi" dari hiruk-pikuk ibu kota dua tahun lalu dianggap sebagai bunuh diri karier oleh rekan-rekannya. Namun bagi Reo, ini adalah kalkulasi yang paling masuk akal. Ia tetap bekerja secara remote—sebuah konsesi yang diberikan perusahaan karena kemampuannya yang sulit digantikan—dengan kunjungan lapangan ke pelabuhan-pelabuhan besar setiap dua minggu sekali.

Di sini, statusnya sebagai anak tunggal tidak lagi terasa sebagai beban kesepian, melainkan sebagai kemandirian yang absolut. Ia tidak punya kakak untuk bersandar, tidak punya adik untuk dilindungi. Ia hanya punya dirinya sendiri, prinsipnya, dan ketenangan yang ia bangun di atas tanah seluas seribu meter persegi yang ia beli cash.

Pagi ini, Reo menyesap kopi hitamnya. Matanya menatap hamparan sawah hijau royo-royo di depan rumah. Hidupnya sudah mencapai presisi yang sempurna. Rumah tanpa riba, kendaraan tanpa cicilan, tabungan yang lebih dari cukup. Semuanya tampak lengkap, sampai ia menatap deretan kursi kosong di meja makannya.

Dalam setiap sistem yang paling efisien sekalipun, selalu ada satu variabel yang tak terduga. Sebuah variabel yang tidak bisa dihitung dengan algoritma logistik atau dioptimasi dengan Six Sigma.

Pendamping hidup.

Reo meletakkan cangkirnya. Gema sunyi di rumah besar itu tiba-tiba terasa sedikit terlalu nyaring. Ia menyadari bahwa membangun kerajaan sendirian adalah sebuah pencapaian, namun membiarkannya kosong adalah sebuah ironi. Sudah saatnya ia mulai mengurasi, mencari seseorang yang mampu menangkap simfoni di balik kesunyiannya.

Ada alasan mengapa Reo kini begitu protektif terhadap privasi hidupnya di Klaten. Sebelum limasan ini berdiri, sebelum ia belajar bahwa kebahagiaan bisa dibeli dengan sepiring nasi wiwit di pinggir sawah, Reo adalah target empuk di belantara kencan kelas atas Jakarta.

"Cinta itu investasi, Reo. Dan investasi membutuhkan transparansi," ujar seorang wanita di sebuah restoran rooftop SCBD, tiga tahun lalu. Wanita itu—seorang model yang juga merintis bisnis perhiasan—menatap Reo bukan dengan binar kekaguman, melainkan dengan kalkulasi yang terbaca jelas di matanya.

Bagi Reo, asmara di masa lalunya sering kali terasa seperti audit yang gagal. Ia pernah menjalin hubungan dengan seorang pengacara korporat yang menghitung worthiness Reo dari jenis mobil yang menjemputnya. Ia juga pernah hampir bertunangan dengan seorang putri pengusaha properti yang menghabiskan waktu kencan mereka dengan membicarakan rencana ekspansi aset, seolah-olah pernikahan adalah sebuah merger perusahaan.

Setiap kali ia membuka sedikit saja pintu tentang gajinya yang delapan puluh juta, atau fakta bahwa ia adalah anak semata wayang dari garis keturunan Hiroshi yang disiplin, dinamika hubungan itu berubah. Ketulusan menguap, digantikan oleh aroma ambisi yang amis. Wanita-wanita itu tidak jatuh cinta pada caranya menyeduh kopi atau kegemarannya pada sejarah maritim; mereka jatuh cinta pada jaring pengaman yang ia miliki. Mereka tergiur pada angka empat miliar yang diam di bank, pada rumah tunai yang menjanjikan masa depan tanpa cicilan.

"Kamu terlalu sempurna di atas kertas, Reo," bisik mantan kekasih terakhirnya sebelum mereka berpisah di bandara Changi. "Tapi kamu terlalu sulit digapai secara rasa. Kamu seperti brankas; aku tahu ada emas di dalamnya, tapi aku lelah mencoba memecahkan kodenya."

Kata-kata itu membekas, bukan sebagai luka, melainkan sebagai peringatan. Reo menyadari bahwa kemapanannya adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, itu memberinya kebebasan. Di sisi lain, itu adalah magnet bagi mereka yang hanya ingin menumpang di atas kapal yang sudah jadi, bukan mereka yang mau ikut berlayar menghadapi badai.

Itulah sebabnya, di Klaten, Reo membangun dinding yang berbeda. Ia menyembunyikan "angka-angka" itu di balik kemeja linen murah dan sandal jepit. Ia ingin melihat, adakah wanita yang mampu bertahan duduk bersamanya di tepi Umbul Ponggok, membicarakan riak air dan gema sunyi, tanpa sekali pun melirik ke arah arloji mahal atau menanyakan saldo rekeningnya.

Ia tidak lagi mencari pendamping yang ingin menjadi ratu di kerajaannya. Ia mencari seseorang yang mencintai rajanya, bahkan saat sang raja sedang menyamar menjadi rakyat jelata di sudut kota kecil yang terlupakan.

SIMFONI GEMA DI UMBUL PONGGOKHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora