Suara kereta dan pengumuman terdengar di tengah sunyinya stasiun yang hampir kosong. Kereta itu berhenti tepat di depan seorang pria bersama dengan dua anak laki-laki dan robot merah yang beranjak dari kursi tunggu. Hendak menaiki kereta yang datang menjemput mereka sore itu.
Pria itu berjongkok di hadapan anak laki-laki yang lebih pendek dan bertopi dino. "Boboiboy, jaga diri ya nanti."
Anak yang dipanggil Boboiboy itu mengangguk. "Baik, Ayah."
"Ayah, bila Ayah akan balik?" Lanjutnya.
"Ayah belum pasti. Tapi Ayah akan cuba untuk balik secepat mungkin, ya?" Tangannya terangkat untuk mengusap kepala putranya.
"Balik cepat tau, Boboiboy akan rindu Ayah." Dia memeluk ayahnya dengan erat. Ayahnya membalas pelukannya dengan senyuman hangat. "Ayah pun akan rindu Boboiboy."
"Aik? Rindu Boboiboy je? Tak rindu abang ke?" Ucap remaja laki-laki yang menyilang tangannya.
Sang Ayah hanya terkekeh pelan, ia melepaskan pelukan putranya yang kecil dan berdiri untuk menepuk bahu remaja itu. "Tak lah, Ayah akan rindu abang juga."
"Hm, mestilah. Kalau tak, abang tutup telefon Ayah nanti." Sudut bibirnya terangkat tipis dan ia memalingkan wajahnya.
"Eh, berani abang?"
"...Tak."
Robot merah di samping mereka ikut bersuara. "Kalau tak angkat telefon Ayah kau, mesti dia akan sedih dan merajuk tiap malam lah tu." Membuat Boboiboy tertawa.
Pria itu menghela nafas sebelum beralih ke arah anak-anaknya. "Berdikari ya, jangan susahkan Tok Aba."
Kedua putranya mengangguk. Boboiboy kemudian menoleh ke robot merah yang memegang bola sepaknya. "Mechabot, jaga Ayah elok-elok tau."
"Selamat tinggal, jangan nakal-nakal." Jawab Mechabot, melemparkan bola sepak itu ke arahnya.
Boboiboy menangkap bola itu dan tersenyum. "Nanti kita main mechanize-mechanize lagi ya."
Tiba-tiba suara pengumuman terakhir sebelum keberangkatan terdengar dari speaker stasiun. Mengalihkan perhatian mereka.
"Kereta api akan berlepas tidak lama lagi. Ayo cepat! Kalau lambat, tinggal!"
"Adakah pengumuman stesen macam tu?" Remaja itu menggelengkan kepala sebelum bersalaman dengan Ayahnya, diikuti dengan adiknya.
"Jumpa lagi ya anak-anak ayah."
"Bye Ayah, Assalamualaikum." Ucap keduanya.
"Wa'alaikumsalam." Balas Ayahnya.
Ia mengangkat tasnya dan melangkah ke gerbong bersama adiknya. Tepat didepan pintu, keduanya menoleh ke belakang dan melambaikan tangan pada Ayah serta Mechabot. Pria itu membalas dengan senyum hangat, sementara Mechabot mengangkat kamera handphone nya untuk memotret momen tersebut.
Mereka melangkah masuk dan segera mencari tempat duduk di dekat jendela. Begitu roda kereta mulai bergerak, keduanya refleks menoleh ke luar, mencari sosok yang akan mereka tunggu kepulangannya.
Sang Ayah berjalan mendekat dan menempelkan tangannya di jendela kereta, senyumnya tidak memudar. Langkahnya menjadi lari kecil saat kereta perlahan menambah kecepatannya.
Boboiboy tanpa sadar ikut menempelkan tangannya ke jendela, ia dapat merasakan kehangatan tangan Ayahnya walau terpisah oleh kaca. Seakan terinspirasi dari Mechabot, abangnya mengangkat handphone nya dan membuka kamera untuk merekam.
"Bye Ayah, hantar postcard tau!"
"Titip salam ke Tok Aba ya!"
Kereta itu semakin cepat, membuat sang Ayah berhenti berlari dan hanya bisa melihat anak-anaknya terbawa oleh kecepatan kereta dengan senyuman sedih.
YOU ARE READING
Abang?
HumorJadi abangnya Boboiboy itu melelahkan... Dan mengkhawatirkan. Kalau bukan bantu Tok Aba di kedai, ya lawan alien. Terus melamun di kamar sambil mikirin "kapan Ayah pulang, ya?" Waktu awal datang ke Pulau Rintis bersama Boboiboy, kamu pikir bisa bers...
