Pemukiman kumuh itu selalu terbangun lebih cepat dari matahari. Bau sampah yang belum terangkut bercampur dengan asap rokok dan udara lembap yang mengendap di lorong-lorong sempit. Cat tembok mengelupas, pipa-pipa tua berkarat, dan suara televisi tetangga yang menyala terlalu keras menjadi alarm pagi yang tak pernah absen.
Apakah ada yang menginginkan lingkungan seperti ini?
Tentu tidak.
Namun di sinilah Uchinaga Aeri berdiri setiap pagi—di depan cermin kecil yang kacanya buram dan retak di sudutnya, di kamar mandi apartemen sempit yang dindingnya menguning dimakan usia. Lampu neon di atas kepalanya berkedip pelan, membuat bayangannya terlihat samar dan tak utuh.
Aeri menatap pantulan dirinya dalam diam.
Wajah itu cantik—dengan garis yang lembut dan proporsi yang rapi. Matanya besar dan gelap, bulu matanya lentik alami tanpa maskara. Hidungnya kecil, bibirnya tipis namun manis tanpa lipstik. Jika ia berdiri di sekolah elit atau pusat kota Tokyo, mungkin banyak orang akan memujinya.
Namun kulitnya putih pucat. Bukan putih sehat yang bercahaya, melainkan putih yang terlalu sering kurang tidur dan terlalu sering menahan tangis. Ada bayangan tipis di bawah matanya, sisa malam-malam yang tak pernah benar-benar tenang.
Rambut hitamnya panjang hingga melewati bahu. Indah, sebenarnya. Tapi kini terlihat kering dan sedikit kusut. Sampo murah yang ia beli karena harganya paling rendah hanya membuat rambutnya terasa kesat. Ujung-ujungnya bercabang halus. Rambut hitamnya ia sisir dengan jari karena sisir plastiknya patah minggu lalu.
Aeri perlahan memandangi tubuhnya sendiri. Ia berputar sedikit ke kanan, lalu ke kiri, memperlihatkan siluetnya di cermin sempit itu.
Tubuhnya ramping. Bahunya kecil. Pinggangnya terbentuk alami.
Seragam sekolah membalutnya—putih dan hijau tua.
Seharusnya warnanya terlihat cantik.
Namun seragam itu tampak kusam. Ia sudah mencucinya berkali-kali. Mengucek kerahnya sampai tangannya memerah. Mengeringkannya dengan hati-hati. Tapi entah sebersih apa pun ia mencucinya, warnanya tetap pudar.
Seperti hidupnya yang tak pernah benar-benar cerah.
Aeri menyentuh kerahnya pelan.
"Kenapa tetap terlihat jelek..." gumamnya lirih.
Tiba-tiba—
Brak!
Gedoran keras menghantam pintu kamar mandi tepat di belakangnya. Suaranya memantul di ruangan sempit itu, membuat jantung Aeri serasa jatuh ke perutnya.
"Aeri! Lama sekali kau di dalam sana!"
Suara itu berat, parau, dan penuh sisa alkohol yang belum hilang sejak semalam.
Aeri memejamkan mata sejenak..
"Iya, Ayah! Sudah selesai!" jawabnya cepat, suaranya sedikit bergetar.
"Kalau sudah selesai, cepat keluar! Kau pikir air itu gratis?!" bentak suara lelaki paruh baya itu. Parau, kasar, dan penuh emosi yang mudah meledak. "Kau cuma tahu berdandan dan bercermin!"
Aeri menunduk menatap wastafel retak di depannya.
"Aku tidak berdandan..." balasnya pelan.
"Jangan membantah!" bentaknya lagi. "Cepat keluar sebelum aku dobrak pintunya!"
Tanpa menjawab lagi, Aeri merapikan rambut dan seragamnya asal-asalan. Ia menarik napas dalam, lalu membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, tubuh ayahnya yang tinggi langsung menerobos masuk, membuatnya terpaksa melangkah mundur.
YOU ARE READING
Collateral Daughter.
Short StoryPengacara muda Aeri Uchinaga hidupnya berubah sejak ia tanpa sengaja membongkar identitas anggota geng kriminal Bonten. Ancaman misterius muncul di sekelilingnya, simbol aneh, dan sosok gelap yang mengintai membuat setiap langkahnya berisiko. Untuk...
