Bab 1

1.9K 64 13
                                        


Kinan selalu percaya bahwa seorang ibu seharusnya tahu segalanya.
Tahu kapan anaknya lapar, tahu cara menenangkan tangis, tahu bagaimana tetap kuat meski dunia terasa runtuh.

Ternyata, tidak.

Pagi itu—bertahun-tahun lalu—Kinan berdiri di depan cermin kamar mandi dengan mata sembab dan tangan gemetar. Bayi kecil di ranjang masih tertidur, napasnya halus, nyaris tak terdengar. Zevanya Arunika. Dua minggu. Terlalu kecil untuk tahu bahwa ibunya sedang berada di tepi dirinya sendiri.

Shanira dan Galenna sudah terbangun. Mereka menatap Kinan dengan mata yang sama—mata yang tidak bertanya, hanya menunggu. Seolah sejak kecil mereka tahu, ibu mereka sedang tidak baik-baik saja.

“Ayo,” kata Kinan pelan, memaksa suaranya stabil.
Ia tidak ingat bagaimana ia mengemas tas. Tidak ingat bagaimana kakinya melangkah keluar rumah. Yang ia ingat hanya satu hal: ia takut jika tetap tinggal, ia akan benar-benar hilang.

Ia meninggalkan rumah dengan membawa dua anak, dan satu rasa bersalah yang sejak hari itu tak pernah mau pergi.

Tahun-tahun setelahnya, Kinan menjalani hidup seperti seseorang yang terus menebus dosa yang tak pernah sempat ia jelaskan. Ia hadir di setiap acara sekolah. Menghafal makanan kesukaan anak-anaknya. Menjadi ibu yang “cukup”—setidaknya di mata orang lain.

Namun setiap malam, sebelum tidur, ia selalu memikirkan bayi yang ia tinggalkan.

Bagaimana suara tangisnya?
Siapa yang menggendongnya ketika demam?
Apakah ia pernah mencari ibu yang tidak ada?

Kinan tak pernah berani bertanya.

Sekarang, ketika Shanira hampir setinggi dirinya, ketika Galenna mulai punya rahasia sendiri, Kinan sadar satu hal yang tak bisa lagi ia hindari—

Waktu tidak menghapus apa pun.
Ia hanya menunggu keberanian.

Dan keberanian itu…
mungkin akan datang dari anak perempuan yang dulu ia bawa pergi, dan satu bayi yang pernah ia tinggalkan.

Bagaskara Christian baru menyadari rumah itu kosong ketika suara menjadi terlalu sunyi.

Tidak ada langkah kecil berlarian. Tidak ada suara Shanira memanggil ibunya. Tidak ada Galenna yang biasanya duduk diam di sudut ruang tamu dengan buku bergambar di tangannya. Bahkan suara mesin cuci pun tak menyala.

Yang ada hanya Zevanya.

Dua minggu. Terbungkus selimut tipis. Terlelap, tak tahu bahwa dunia barunya sudah berubah arah.

Bagaskara menjelajahi rumah seperti orang yang kehilangan sesuatu tapi belum tahu apa. Lemari terbuka. Beberapa pakaian Kinan hilang. Tas kecil anak-anak tidak ada. Jantungnya mulai berdegup terlalu cepat.

“Kinan?”
Tidak ada jawaban.

Hari itu berubah menjadi minggu yang tak punya ujung. Bagaskara mencari ke mana-mana—keluarga, teman lama, alamat yang pernah disebut istrinya sambil lalu. Tidak ada jejak. Tidak ada kabar. Kinan dan dua anaknya hilang, seolah sengaja menghapus diri dari hidupnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Bagaskara gagal.

Ia terbiasa mengendalikan segalanya. Angka bisa diprediksi. Risiko bisa dihitung. Bisnis selalu punya jalan keluar. Tapi kehilangan—tidak.

Zevanya tumbuh dalam keheningan ayah yang kelelahan. Tangisnya menjadi satu-satunya suara yang membuat Bagaskara tetap bertahan. Ia belajar mengganti popok dengan tangan kaku. Belajar menidurkan bayi sambil menatap ponsel yang tak pernah berbunyi.

Hingga suatu malam, ia sadar:
jika ia tetap tinggal di Indonesia, ia akan tenggelam.

Australia bukan pelarian—setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ia membawa Zea, satu-satunya yang tersisa, dan membangun bisnis dari jarak jauh. Dari sana, ia menata hidup baru yang rapi, terukur, dan terlihat berhasil.

Namun setiap kali Zea tertawa, Bagaskara selalu teringat dua anak lain yang seharusnya tumbuh di sekitarnya.

Ia tidak tahu apakah Kinan membencinya.
Ia tidak tahu apakah Shanira dan Galenna mengingatnya.
Ia hanya tahu satu hal: ia kehilangan lebih dari yang bisa ia perbaiki.

Dan ketika Zea suatu hari nanti bertanya tentang ibunya, Bagaskara sadar—ia tak lagi bisa bersembunyi di balik kesibukan.

Karena ada ikatan yang belum selesai.
Dan waktu, perlahan, sedang membawa semuanya kembali.

—

Zevanya Arunika tumbuh di antara jadwal.

Sekolah pagi.
Les musik sore.
Bela diri malam.
Akhir pekan diisi olahraga yang membuat lututnya penuh bekas luka—panjat tebing, renang, lari lintasan, apa pun yang membuat tubuhnya lelah hingga tak sempat berpikir.

Ayahnya bilang itu bagus.
Disiplin. Fokus. Kuat.

Zea tidak keberatan. Kesibukan membuat hari-harinya terasa penuh. Dan hidup yang penuh terasa lebih aman daripada hidup yang sunyi.

Mereka hidup berdua di Australia. Rumah itu besar, rapi, dan terlalu tenang. Ayahnya jarang bicara tentang masa lalu. Tentang ibu. Tentang dua kakak perempuan yang namanya bahkan tak pernah disebut. Seolah dengan tidak menyebut, luka itu akan mengecil sendiri.

Zea belajar tidak bertanya.

Ia lebih nyaman berteman dengan anak laki-laki. Tidak suka gaun. Rambutnya sering dipotong pendek. Tangannya lebih akrab dengan sarung tinju daripada boneka. Di sekolah, Zea dikenal sebagai anak yang tidak mudah disentuh—baik secara fisik, maupun emosional.

Namun kesibukan tidak selalu berarti arah.

Di usia 13 belas tahun, Zea mulai mencari sensasi yang lebih keras. Balapan sepeda motor kecil. Membolos. Perkelahian. Bukan karena ingin diperhatikan—melainkan karena ia tidak tahu bagaimana caranya berhenti.

Bagaskara dipanggil ke sekolah pada suatu sore yang dingin. Untuk pertama kalinya, ia menatap putrinya bukan sebagai bayi yang harus dilindungi, melainkan sebagai remaja yang sedang tersesat.

“Ayah marah?” tanya Zea waktu itu, datar.

Bagaskara tidak menjawab. Ia hanya sadar satu hal yang menyakitkan:
ia terlalu sibuk membangun segalanya… sampai lupa membangun rumah untuk anaknya.

Keputusan itu datang cepat. Terlalu cepat untuk Zea.

Jakarta.
Indonesia.
Sekolah baru.

Arunika School—sekolah bertaraf internasional yang dibangun Bagaskara 10 tahun lalu. Jenjangnya lengkap, dari SD hingga SMA. Tempat yang seharusnya netral, aman, dan jauh dari masa lalu.

Zea tidak tahu bahwa di kota yang sama, ada dua nama yang pernah terhubung dengannya lewat darah.

Ia hanya tahu, hidupnya akan berubah saat ia pindah, kelas dua SMP.

Dan tanpa mereka sadari, Arunika School bukan hanya tempat belajar—
melainkan simpul.

Tempat di mana jarak akan dipendekkan.
Di mana masa lalu dan masa kini akhirnya dipaksa bertemu.
Dan di mana takdir mulai menautkan kembali apa yang dulu terlepas.

—

Hallo cek ombak dulu guysss....
Lanjut nggak nihhh??

TautStories to obsess over. Discover now