Hai. Kalian dapat cerita ini dari siapa?
Hehe, terlalu to the point ya? Sebelum nya, terimakasih karena telah mau membaca berita absurd yang aku aja bahkan ngga pernah kepikiran mau buat cerita ini.
Hari ini, aku akan mempersembahkan satu bab yang akan membuat kalian tertarik untuk masuk ke dalam nya? Ya. Mungkin ada, mungkin juga engga.
Btw, aku Deya. Salam kenal.
.
.
.
“Kamu terlalu hancur untuk di perbaiki, Lie. Retakan kaca mu telah dibuang ke senjana untuk dibakar. Kini, untuk melihat diri mu saja, kau tidak bisa.”
“Kalau begitu, berikan aku kaca baru. Jangan kalian buat aku seakan aku ini hanya lebu yang akan kalian hancurkan saat ia berdebu!”
“Maaf perihal waktu nak.”
“Waktu bahkan ngga berikan aku kesempatan, ma.”
“Berbicara dengan angin, seolah aku disamping mu. Itu tindakan yang paling bodoh, lie.”
“Kalau capek istirahat, bukan pergi.”
.
.
.
Langkah kecil Aralie terasa memberat. Ia menuruni tangga dan menemukan meja makan tanpa orang. Rasa nya, ia ingin memutar waktu dahulu. Namun Aralie sadar, waktu itu mahal, sama mahal nya dengan obrolan keluarga Aralie.
Dengan gontai, gadis itu duduk di meja. Menatap piring yang kosong, dan masih bersih. “Hari ini mereka masih belum pulang, non.” Suara itu mengejutkan Aralie yang termenung.
“Hm... Udah dikabarin papa tadi.” bohong. Aralie berbohong. Bahkan Christy tidak menyimpan nomor nya.
“Syukurlah. Setidak nya non Aralie ngga khawatir.” Balas bi Anin.
Aralie hanya mengangguk samar. Khawatir? Ia bahkan selalu khawatir dengan keluarga nya yang sekarang. Dimana percakapan hanya dilakukan jika ada keperluan. “Bibi ngga masak?” Tanya Aralie. Anin mengerutkan kening nya. “Loh, tadi si bapak bilang ngga usah masak non. Kata nya non diajak makan sama temen nya non.” Jawab Anin jujur. Ia memang mendapat kabar itu tadi.
Paham dengan kondisi saat ini, Aralie hanya kembali mengangguk. Ia menghela napas sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk berdiri, “Ya udah. Aku berangkat ya, bi.” Pamit nya. Dia beranjak dari meja makan menuju pintu utama.
Anin menunduk hormat. “Nggeh.” Lalu menatap majikan nya dengan perasaan aneh. Anin yakin, ada sesuatu yang disembunyikan keluarga ini, sejak pertama kali dia masuk. Bibi ini tidak diberitahu apapun, hanya disuruh profesional mengurus rumah. Dan gaji nya cukup tinggi.
.
.
“Pagi, cewek!” Tidak perlu menjadi bagian kelas 12 IPA 3 lagi untuk mendengar godaan dari Nala. Orang yang penuh energi dan ceria hingga menghibur kelas dengan rasa suka. “Aralie makin cantik aja, ngga mau sama Aa?”
Aralie sudah terbiasa dengan godaan-godaan itu, menurutnya itu candaan karena ia tahu bahwa Nala sudah mempunyai pujaan hati tersendiri—bahkan Nala sering bercerita masalah hati nya itu kepada Aralie.
YOU ARE READING
Lentara
Fanfiction"Hidup tak di hiraukan, Mati pun tak di terima." Aralie adalah gadis kecil yang hanya ingin menumukan arah tujuan hidup nya. Namun rintangan demi rintangan datang bertubi tanpa tahu bahwa ia juga bisa mati. Hidup nya berubah setelah bertemu dengan...
