PROLOG

2 1 0
                                        


"Karena sudah berakhirnya jabatan gua" teriak Gilang di depan lebih dari seratus anggota yang tengah berkumpul di lapangan markas mereka.

"Gue bakal call out Rangga Bramastyo sebagai captain baru Voldegroz" mendengar itu banyak anggota yang mengangguk setuju tanpa membantah.

Untuk kriteria sebagai captain baru menurut mereka Rangga sudah memenuhi kriteria tersebut. Dari segi strategi, kepemimpinan, skill di arena balapan dan masih banyak lagi.

"gimana menurut lu Ga, apa lu mampu?" tanya Gilang membuat semua perhatian beralih kepada Rangga.

Rangga yang merasa namanya disebut merasa sedikit kaget, karena ia merasa masih banyak senior yang lebih berpengalaman darinya, tapi Gilang malah menyebut namanya sebagai captain baru.

Ia juga melihat sekeliling dan menatap para anggota lain yang menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kepercayaan, bahkan seniornya melakukan itu. Membuat sebuah rasa kepercayaan diri entah darimana asalnya masuk kedalam dirinya.

Rangga berpikir sejenak, namun kemudian ia menegakkan tubuhnya dan menoleh Gilang.

"gua siap dan gua mampu" ujarnya dengan nada tegas.

Semua anggota yang mendengar persetujuan itu bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah.

"Karena terpilihnya gua sebagai captain baru, jadi izinin gua untuk memanggil Wakil Captain sebagai pathner gua"

Para anggota mulai berbisik kira kira siapa yang akan di pilih sebagai wakil captain, siapa yang lagi lahi memenuhi kriteria itu.

"Gua bakal nunjuk Zero, atau yang biasa kalian kenal Reyn, sebagai Wakap gue" mendengar itu para anggota mulai ricuh.

Dan saat itu juga para anggota seperti terbagi kepada kedua kubu, antara setuju dan tidak setunya Reyn sebagai Wakil Captain mereka.

Reyna Yolan Javiera-anggota perempuan terakhir yang masih bertahan di Voldegroz.

Sama seperti Rangga sebelumnya, Reyna tampak terkejut saat namanya itu disebut, tak ada ekspektasi pada dirinya sendiri akan dipanggil sebagai Wakil Captain. Ia menoleh pada kelima teman temannya.

Dika, Bima, Athala, Hendrik dan Gema menatap Reyna dengan senang dan memberikan temannya itu semangat.

"Lo pada yakin gue wakap nya?" bisik Reyna.

"Yakin ga yakin sih Reyn, bismillah aja lo wakap, Voldegroz bakal ke jalan yang lurus" Reyna menatap Hendrik dengan kesal, ia tak tau itu kata semangat atau ejekan untuknya.

"gua gebuk ya lu!"

"gua 2in aja si kata kata lu Her" lanjut Bima sambil terkekeh.

Reyna menatap dua temennya kesal, ia membuang tatapannya lalu fokus dengan pikirannya sendiri. Namun selagi ia terdiam, Dika yang berada di belakangnya menepuk pundaknya sebanyak dua kali.

"lo pantes, lo mampu, lo bisa, dan gue tau itu" bisik Dika.

Reyna reflek menoleh kebelakang ia melihat senyuman Dika yang begitu menyemangatinya, lalu ia juga menoleh kesamping dan disambut dua jempol dari Athala dan Gema.

Setelah teman temannya menyemangatinya ia kembali menatap lurus kedepan dengan kepercayaan dirinya, dan menoleh Rangga sebagai persetujuan menjadi Wakil Captainnya.

Namun.

"Gua tau Zero berpotensi sebagai wakil kapten, tapi apakah make sense kami para anggota dipimpin oleh anggota cewek" ucap salab satu anggota.

"Dan satu lagi, apa alasan lo milih Zero sebagai Wakap ada hubungannya dengan perasaan pribadi,lo harus jelasin itu" sambung anggota lainnya

Reyna dan Rangga spontan menatap kemudian terkekeh pelan.

"Oh bro.. she's my sister.." Rangga merangkul Reyn

"Walaupun bukan sedarah, but she is, and always will be, my sister. Everybody should know that"

Rangga menekankan perkataannya, lalu melepas rangkulan Reyna dan maju dua langkah ke depan.

"Lo bener, Zero memang punya potensi sebagai Wakap. Dan kalo problem nya adalah gender.." Rangga berhenti tepat di depan anggota yang memberikan pertanyaan.

"Lo seharusnya jangan kalah telak dari cewek" lalu tersenyum tipis.

"Cetak rekor balapan tertinggi, nyusun strategi pelarian, jago nge fight, rebut kawasan....dan ah..mulut gua pegel kalo nyebutin satu satu"

"Gue hargai dan terima masukan lo, tapi menurut gue ga ada salahnya milih cewek sebagai wakil Captain selagi ia memenuhi kriteria, lagi pula disini gue sebagai Captain, gue bisa turunin Zero dari Wakap kalo dia ga becus dan ngelarang rules.." semua anggota terlihat terdiam dan mulai merasa apa yang Rangga bicarakan ada benarnya.

"Gue setuju.." ujar Gilang sang mantan captain mengangkat tangannya.

"Disini masih banyak senior tersisa dan kalian para anggota, kita masih bisa berunding kalo dari antar mereka ngelakuin hal terlarang"

"Setuju" para senior perlahan mulai mengangkat tangan mereka diikuti para anggota lainnya.

Sehingga berakhir lah pemilihan penerus baru.

Hari esok akan menjadi hari baru. Karena sekarang sudah terlahirnya masa kepemimpinan baru.

Yang tanpa kita sadari.

keputusan hari itu akan menjadi awal dari runtuhnya banyak hal.


-To be continued-

-To be continued-

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Tungguin terus lanjutan cerita.

Jangan lupa tinggalkan komentar kalian dan klik votenya yaa..

Terima Kasih yang sudah mampir...

REIGN: Last Woman StandingStories to obsess over. Discover now