Prologue🌱

15 2 0
                                        

Di tanah suci, yang selalu menjadi tempat pulangnya doa-doa paling sunyi. Di bawah langit Mekkah yang selalu menjadi saksi doa-doa paling jujur. Allah mempertemukan dua insan tersebut tanpa rencana yang sama-sama menyimpan Al-Qur'an di dalam dada mereka. Seorang wanita muda, berusia 19 tahun penghafal Qur'an dengan hati yang masih rapuh. Dan seorang pria matang, berusia 26 tahun penghafal Qur'an yang telah lebih dulu dewasa dalam usia dan pemahaman. Keduanya bertemu dalam sebuah rombongan jamaah umroh yang sama. 

Takdir memilih keheningan sebagai bahasa pertemuan mereka. Hanya tatapan-tatapan singkat yang berpapasan di antara lautan jamaah—lirih, asing, dan terasa salah untuk ditafsirkan. Namun di antara langkah thawaf dan doa yang lirih, tatapan mereka kerap berpapasan, sekilas dan sederhana, seolah hanya kebetulan yang tak mengandung maksud apa pun. Tak ada janji, tak ada niat, hanya hati yang diam-diam saling mengenali dalam sunyi yang suci. Wanita muda itu tak pernah berniat untuk jatuh hati, dan lelaki itu tak pernah berniat mendekat. Namun entah mengapa, di tengah kesucian tempat dan ayat-ayat yang mereka hafal, hati justru diuji dengan rasa yang tak diminta.

Selepas pertemuan singkat itu, jarak yang semula terasa asing perlahan di hangatkan oleh komunikasi yang dijaga sangat ketat. Mereka mulai saling mengenal satu sama lain, namun dengan batas yang jelas—tanpa melampaui adab, tanpa menodai kesucian niat. Setiap kata dipilih dengan hati-hati, setiap pesan ditimbang dengan iman. Keduanya paham, rasa bukanlah dosa, tetapi cara menyikapinya bisa menjadi ujian.

Hingga suatu hari, sang pria tersebut mengucapkan kalimat yang lahir dari keseriusan dan tanggung jawab. Kalimat yang bagi dirinya adalah niat suci, namun bagi wanita muda itu terdengar seperti bahasa asing. Di usianya yang baru menginjak sembilan belas tahun, hatinya belum cukup matang untuk memahami makna janji, arah, dan masa depan. Ia mendengar, tetapi tak benar-benar mengerti. Ia merespons, tetapi tak sepenuhnya menangkap maksud. Perbedaan usia tujuh tahun di antara mereka menjelma menjadi jurang yang tak terlihat, namun terlalu dalam untuk diseberangi. Ketidakpahaman itu membuat hubungan keduanya menggantung—tak sepenuhnya pergi, namun tak pernah benar-benar dimiliki.

Di kemudian hari, lelaki itu memilih diam. Pesan-pesan terhenti, kabar menghilang, dan keheningan kembali menjadi bahasa yang paling sangat menyakitkan. Lalu, datanglah sebuah kabar yang seolah tak di undang namun dengan paksaan yang jelas, menyayat hati wanita muda itu secara perlahan: sang pria tersebut akan dijodohkan dengan seorang gadis di kampung halamannya—pintar, cerdas, cantik, dan siap untuk kehidupan yang serius.

Tak ada amarah, tak ada penolakan. Hanya perasaan yang seolah kalah sebelum sempat berjuang. Wanita muda itu belajar satu hal pahit: bahwa niat baik pun bisa berakhir menyakitkan jika waktu belum tentu berpihak.

Hari-hari setelahnya dipenuhi oleh doa-doa yang tak tahu lagi harus meminta apa. Ia membawa luka yang tak terlihat—kesedihan yang dipendam, ketakutan untuk berharap lagi, dan trauma masa lalu yang kembali membuka dirinya.

Setiap ayat yang ia hafalkan terasa berat, nama lelaki itu seolah bersembunyi di sela-sela huruf hijaiyah. Ia ingin ikhlas, namun hatinya belum selesai berduka. Ia ingin melupakan, namun kenangan terlalu kuat untuk dihapus. Ia takut mencintai kembali, takut mengulang kehilangan, dan takut berharap lalu ditinggalkan lagi. Hatinya menjadi rumah yang pintunya tertutup rapat, bukan karena tak ingin menerima, tetapi karena terlalu lelah untuk kembali hancur.

Di saat hatinya masih tertambat pada masa lalu, takdir kembali mengirimkan seseorang dari arah yang tak pernah ia duga sebelumnya. Seorang pemuda seusianya—teman lama semasa SMA—datang dengan cara yang jauh lebih sederhana. Tanpa janji besar, tanpa kata-kata berat. Ia hadir dengan kesabaran, dengan perhatian kecil, dengan niat yang pelan namun nyata. Namun hati wanita muda itu masih berdiri di persimpangan yang menyakitkan. Antara menunggu seseorang yang tak lagi menoleh, atau membuka pintu bagi seseorang yang tak pernah pergi.

Di setiap sujud panjangnya, ia bertanya-tanya dengan suara yang hampir putus-melemah: apakah cinta memang harus menyakitkan untuk menjadi berarti? Ataukah Allah hanya ingin mengajarinya bahwa yang ditakdirkan tak pernah tertukar—hanya datang di waktu yang berbeda?

















Assalamu'alaikum warhmatullahi, guysss. 👐🏻🫶🏻

Haiii, nama aku Bila👋🏻. Aku penulis baru yang sedang terjun ke dalam aplikasi ini. Sedikit cerita, aku sudah lama menjadi pembaca dari aplikasi ini sendiri, mungkin ya sekitar 2017 sampai saat ini aku masih setia dengan aplikasi ini hehe. kemungkinan banyak typo kata di dalamnya, mohon di maklumi ya guyss🙏🏻

Mungkin ini saja dulu perkenalan singkat dari aku. Dan untuk kalian, salam kenal para pembaca ceritaku👋🏻, selamat membaca dan jangan lupa untuk bab-bab selanjutnya akan ada bawang di dalamnya, siapkan tissue untuk persediaan hehe.

Bagaimana kelanjutan kisah keduanya? Penasaran?

Maka dari itu, pantau terus alkisah mereka dengan cara buku ini kalian masukkan ke dalam perpustakaan kalian. Sehingga kalian tidak tertinggal dengan kisah menarik mereka kedepannya. 

happy Reading, See you next time !!!

Cerita ini tidak bermaksud menormalisasi plagiarisme. Kisah ini terinspirasi dari pengalaman nyata penulis, dengan beberapa tambahan untuk memperkuat emosi dan alur cerita, agar pembaca dapat ikut merasakan perjalanan batin penulis.




Senin, 02/02/2026

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Feb 02 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Tidak Di Takdirkan Oleh SemestaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora