Shalyza's Point of View
Sejujurnya aku adalah tipe morning person, namun juga orang yang suka begadang ketika tiba-tiba ide muncul berkeliaran di otak didetik-detik aku memejamkan mata.
Posisi ini benar-benar tidak menguntungkan, karena mau jam berapapun aku tidur aku akan selalu terbangun jam 5 pagi dan tidak bisa lanjut tidur lagi, jadi waktu tidurku kadang tidak tercukupi.
Seperti saat ini, bukannya harus tidur karena esok aku harus sudah berada di bandara jam 6 pagi menjemput sahabatku yang baru saja kembali dari liburannya, aku malah masih berkutat dengan pekerjaanku sebagai penulis.
Ide-ide yang baru muncul di dalam otak, harus selalu aku tuangkan secepat mungkin. Jika tidak, maka akan segera hilang, padahal novel yang sedang aku garap masih terlalu lama deadline-nya.
Untuk menenangkan tubuh karena terlalu bersemangat mengetik, aku memutuskan untuk membuat teh hangat, apalahi suasana malam ini cukup dingin karena beberapa hari ini Jakarta diguyur hujan, beberapa wilayah bahkan digenangi banjir.
Ketika berada di dapur sayup-sayup aku mendengar suara tangisan, membuat bulu kudukku seketika meremang, efek terlalu banyak menonton film horor membuat aku jadi paranoid dengan situasi yang aku hadapi kini.
Tapi selama 6 bulan aku tinggal di sini belum pernah terjadi hal-hal mistis, apalagi beberapa hari belakangan ini rumah di sebelah rumahku sudah memiliki penghuni, seharusnya minim sekali terjadi hal mistis.
Namun suara tangisan itu semakin kencang, seakan memanggilku untuk menghampiri. Karena rasa penasaran, aku memutuskan untuk menunda membuat teh. Aku juga sepertinya kehilangan mood untuk melanjutkan tulisan. Jadi aku memutuskan untuk keluar rumah. Kali ini sebut saja aku si cantik dan pemberani.
Rumah tetanggaku ini tidak jauh beda dari rumahku, yang membedakan mungkin hanya halaman depan yang gersang, berbeda dengan halaman rumahku yang dipenuhi tumbuhan yang menyejukkan mata.
Sampai di depan tumahnya, ternyata gerbang rumahnya tidak dikunci. Aku tahu kami tinggal di perumahan yang keamanannya terjaga, tapi tetap saja kan yang menjaga hanyalah manusia yang bisa saja lengah. Teledor sekali pemiliknya.
Aku mengetuk pintu rumah ini dengan segera karena mendengar suara tangisan semakin jelas di telinga. Bukannya apa, takutnya terjadi hal-hal tidak menyenangkan di rumah ini, atau justru tindak kriminal yang korbannya anak kecil, mwngingat tangisan anak ini tidak berhenti sejak 10 menit yang lalu.
Harusnya orang tua anak ini sudah berusaha menenangkannya, bukan malah membiarkan dan mengganggu tetangga yang lain.
Tepat pada ketukan ketiga, pintu tiba-tiba terbuka. Seseorang menabrakku dan memelukku. Kalau saja dulu ketika SMP aku menolak ikut Taekwondo, pasti aku sudah terjerembab jatuh, untungnya aku aktif Taekwondo, jadi aku hanya sedikit oleng akibat tubrukan yang lumayan kuat.
"Ayya takut ..." gadis yang sedang memeluk tubuhku ini bergumam di sela-sela tangisannya.
Sejujurnya aku bukanlah tipe yang pandai menenangkan anak kecil, bahkan ketika kumpul keluarga besar pun aku lebih memilih jadi bagian kebersihan ketimbang menjaga para bocah. Jadi ketika dihadapkan dengan situasi begini, aku jadi bingung harus bagaimana.
"Kenapa Ayya ditinggal sendirian?" lagi-lagi ia bergumam namun kali ini mengajukan pertanyaan.
Aku melihat sekeliling rumah yang masih minim interior ini, memang tidak terlihat ada penghuni lain selain anak yang aku perkirakan berusia 5 tahun yang kini tengah memelukku.
"Kenapa Ayah nggak ada di sebelah Ayya waktu Ayya bangun tidur?"
Kali ini aku tidak bisa berdiam saja, karena jiwa penasaran lebih mendominasi. Aku lalu mengusap kepalanya, berharap ia dapat tenang. Namun tangisnya malah semakin kencang dan dekapannya juga semakin kuat memeluk tubuhku.
YOU ARE READING
Bundadari
RomanceApa jadinya jika kita dipertemukan kembali oleh semesta dengan seseorang yang sudah kita lupakan dari ingatan kita dengan susah payah? Seseorang yang menyakiti dan mematahkan hati kita tanpa perasaan hingga rasanya begitu sakit. Geyana Shalyza , seo...
