Kamar nomor 7 itu kecil, pengap, dan berbau debu yang menahun. Rina menghela napas panjang, menatap tumpukan kardus miliknya yang memenuhi lantai semen yang kusam. Ia sebenarnya benci tempat ini, tapi dengan uang saku yang pas-pasan, ia tidak punya pilihan selain menerima kos-kosan tua yang letaknya terselip di gang sempit dekat kampus ini.
"Maaf ya, Rin. Kamarnya belum sempat saya pel lagi," suara Mbak Siti memecah keheningan dari ambang pintu. Tangannya memegang seikat kunci tua yang gemerincing, matanya menatap tajam ke sudut kamar, seolah sedang memeriksa apakah ada "sesuatu" yang keluar dari sana.
"Nggak apa-apa, Mbak. Saya bisa sendiri," jawab Rina singkat sembari mulai menggeser lemari kayu tua yang tampak sudah rapuh dimakan rayap.
Saat lemari itu bergeser, sebuah benda kecil terlempar dari sela-sela belakang lemari ke arah kaki Rina. Sebuah kaset pita hitam yang sudah berdebu tebal. Labelnya sudah terkelupas, menyisakan satu huruf kapital yang ditulis kasar dengan spidol merah pudar—S.
Rina memungutnya. Ia teringat punya walkman tua milik ayahnya yang tersimpan di kardus. Iseng, ia memasang baterai dan memasukkan kaset itu ke dalamnya.
Klik.
Suara kresek-kresek statis langsung memenuhi telinganya lewat earphone. Rina duduk di tepi ranjang yang berderit. Di balik suara statis itu, terdengar suara tarikan napas pria yang berat, diselingi bunyi detak jam dinding yang lambat.
"Saras..." Suara itu rendah, parau, dan terdengar sangat lelah. "Mereka bilang cinta kita itu dosa. Tapi kalau mencintaimu adalah kesalahan, aku nggak mau benar selamanya."
Rina mengernyit. Suara pria itu terdengar sangat nyata, seolah direkam tepat di depan mulutnya. Tiba-tiba, suara statis di kaset itu berubah menjadi suara gaduh. Hantaman benda tumpul berkali-kali, suara kayu patah, dan erangan tertahan yang menyakitkan.
Deg.
Bulu kuduk Rina meremang. Tepat saat rekaman itu mati karena kasetnya tersangkut, lampu neon di atas kepalanya berkedip sekali lalu padam. Ruangan menjadi gelap gulita.
Rina baru saja hendak meraih ponselnya saat ia mencium aroma yang seharusnya tidak ada di sana: asap rokok kretek yang sangat kuat.
Lalu, sebuah bisikan dingin, lebih jelas daripada suara di kaset, berhembus tepat di tengkuknya.
"Jangan lari lagi, Saras. Sekarang, tidak ada lagi tembok yang memisahkan kita."
Rina membeku. Di kegelapan yang pekat, ia merasakan ranjang tua di bawahnya perlahan amblas di sisi kiri, seolah ada beban tubuh seorang pria yang baru saja duduk tepat di sampingnya. Udara di sekitarnya mendadak terasa padat dan dingin, seakan oksigen di kamar itu kini harus dibagi dua.
Rina ingin berteriak, namun lidahnya kelu saat ia menyadari satu hal—suara itu tidak terdengar seperti bisikan hantu yang jauh, melainkan suara napas nyata yang berhembus tepat di tengkuknya, menunggunya untuk menoleh dan mengakui keberadaannya.
Di ruangan sesempit tiga kali tiga meter ini, Rina sadar bahwa ia baru saja menyerahkan dirinya ke dalam sebuah penjara tak kasat mata.
YOU ARE READING
SEKAMAR
Random"Di ruangan ini, kau tidak pernah benar-benar sendirian." Bagi Rina, Kamar 7 hanyalah kosan murah di tengah penatnya kuliah. Sempit dan lembap, namun tenang. Hingga suatu malam, bisikan parau merayap dari balik tembok, memanggil sebuah nama dari mas...
