Minggu pagi itu, udara di kontrakan belakang rumah Adi lebih ramai dari biasanya. Sebuah pikep mini berwarna biru tua parkir di halaman sempit, dengan beberapa kardus dan karung masih bertumpuk di bak belakangnya.
“Adi, tolong bantu Bapak angkatin barang-barang ini ke kamar!” panggil Ayahnya dari teras kontrakan.
Adi yang baru saja pulang dari sekolah mengangguk, meletakkan tas ranselnya di teras rumah utama. Dengan langkah gontai, ia mendekati pikep yang penuh barang. Di sana, seorang pria bertubuh tinggi tengah mengangkat sebuah karung beras dengan mudah.
Demi Tuhan…, pikir Adi dalam hati saat matanya menatap punggung pria itu. Kaos abu-abu tipis yang dikenakannya menempel di kulit karena keringat, memperlihatkan bentuk otot bahu dan punggung yang tebal dan terdefinisi dengan jelas.
“Oh, ini anak saya, Adi,” kata Ayahnya. “Adi, ini Mas Parno, penyewa baru kita.”
Pria itu menoleh, dan untuk pertama kalinya, Adi melihat wajahnya. Kulit sawo matang gelap yang halus, mata teduh, dan senyuman ramah yang langsung membuat suasana terasa hangat. Tapi yang membuat Adi tersedak hampir tidak sengaja adalah apa yang ada di balik celana jeans kerja birunya yang ketat. Di antara kancing celana, terbentuk sebuah gumpalan besar yang membuat Adi harus segera mengalihkan pandangannya ke tanah.
“Salam kenal, Dek Adi,” kata Mas Parno dengan suara berat namun lembut, khas logat Jawa yang medok. Tangannya yang besar dan berotot terulur.
Adi menjabat tangan itu, merasakan kulit yang kasar namun hangat. “Salam kenal, Mas.”
Mereka pun bekerja bersama memindahkan barang-barang. Adi mengamati setiap gerakan Mas Parno. Cara pria itu mengangkat karung tepung terigu dengan satu tangan, otot lengan yang menegang, keringat yang membasahi pelipisnya. Setiap detail tersimpan rapi di memori Adi.
“Terima kasih banyak, Pak, Bu. Dan terima kasih juga, Dek,” kata Mas Parno setelah semua barang berpindah. “Ini niatnya mau jualan bakso keliling. Tapi gerobaknya baru sampai minggu depan.”
“Wah, bakso? Enak tuh!” sahut Ibu Adi dengan riang. “Nanti kita pasti langganan ya, Mas.”
---
Keesokan harinya, hari Minggu.
“Adi, tolong antar ini sarapan buat Mas Parno,” panggil Ibunya sambil menyodorkan sebuah rantang berisi nasi goreng. “Kasihan, dia kan baru pindah, pasti belum sempat masak.”
Adi mengangguk, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Dengan langkah yang agak gugup, ia menuju kontrakan belakang. Pintunya terbuka sedikit. Ia mengetuk pelan.
“Mas Parno?”
Tidak ada jawaban. Dari dalam terdengar suara air. Adi mendorong pintu yang sedikit terbuka itu, berniat meletakkan rantang saja di meja kecil di ruang tamu.
Dan di situlah ia melihatnya.
Mas Parno baru saja keluar dari kamar mandi kecil di sisi ruangan. Tubuhnya yang tinggi besar hanya dibalut handuk putih yang dililitkan di pinggang. Handuk itu basah di bagian ujung, menempel di paha berototnya.
Adi terpana.
Dari leher yang jenjang, turun ke bahu bidang, ke dada berotot yang lebar dengan dua puting berwarna coklat gelap. Perutnya sixpack sempurna, otot-otot itu jelas terlihat bahkan dari jarak beberapa meter. Tetesan air masih mengalir dari rambut hitam pendeknya, menuruni leher, melewati dada, dan menghilang di balik handuk yang melilit di pinggang.
Handuk yang, oh Tuhan, terlihat begitu kecil di tubuh besar itu. Dan di balik handuk basah itu, terlihat sebuah bentuk yang membuat Adi menelan ludah.
“Dek Adi?” suara Mas Parno membuatnya tersentak.
DU LIEST GERADE
TUKANG BASO - MAS PARNO
JugendliteraturAdi, siswa SMA kelas 12 yang sedang berjuang dengan hasrat dan identitas gay-nya, mendapati bahwa Mas Parno, pedagang bakso Jawa berbadan tegap yang selalu menggodanya dengan siluet tubuh dan "barang besar" yang tampak di celana kerja, ternyata adal...
