1

14.6K 795 3
                                        

Ruangan itu gelap dan lembab. Dinding-dinding batu yang dingin seakan menjadi saksi bisu penderitaan Edward di sana. Edward Williams, lelaki yang dulu pernah berdiri tegak sebagai kepala keluarga, kini hanyalah bayangan rapuh dari masa lalunya.

Enam bulan ia dikurung di ruangan sempit itu, tubuhnya menyusut, kulitnya pucat, matanya kehilangan cahaya. Wajahnya dipenuhi lebam dan luka, tanda siksaan yang diberikan putranya kepadanya. Rantai besi yang melingkari pergelangan tangannya telah menjadi bagian dari dirinya, meninggalkan luka yang akan membekas seumur hidupnya.

Hari ini, pintu besi berderit terbuka. Langkah berat terdengar mendekat. Xavier, putra sulungnya, muncul dengan tatapan dingin yang menusuk. 

“Enam bulan,” suara Xavier serak, penuh kebencian. “Enam bulan kau di sini, dan aku masih belum puas melihatmu menderita.” 

Edward mengangkat wajahnya perlahan, matanya berusaha menatap anaknya. Bibirnya bergetar, kata yang sama keluar lirih. 
“Maaf… maafkan aku…” 

Kata itu membuat Xavier tersenyum sinis. Ia mendekat, lalu berbisik di telinga ayahnya. 
“Maaf? Kau pikir kata itu cukup? Kau pikir kata itu bisa menghapus dua puluh tahun luka yang kau tinggalkan?” 

Edward terdiam, tubuhnya gemetar. Ia tahu kata itu tak berarti bagi Xavier, tapi hanya itu yang bisa ia ucapkan. 

Cambuk di tangan Xavier terangkat, lalu menghantam punggung Edward. Suara nyaring memenuhi ruangan. Edward terhuyung, tubuhnya terlalu lemah untuk menahan rasa sakit. Cambuk itu kembali terangkat, kembali menghantam berkali-kali.

“Lihat kau sekarang,” Xavier mendesis. “Pria yang dulu berdiri angkuh, kini hanyalah bangkai yang menunggu mati.” 

Edward mencoba berbicara, suaranya hampir tak terdengar. 
“Aku… aku hanya ingin kalian kuat… jika aku pergi…” 

Kata itu membuat Xavier tersulut emosi. Ia menjambak rambut ayahnya, memaksa Edward menatap matanya. 
“Pergi? Kau pikir dengan meninggalkan kami, dengan membuat kami membencimu, itu akan membuat kami kuat? Tidak, Edward. Kau hanya membuat kami hancur.” 

Cambuk itu terangkat lagi, seolah menantang udara yang dingin dan lembap di ruangan ini. Dalam sekejap, ia meluncur turun, membelah keheningan dengan suara yang tajam.

"CTASS!” Suara itu bergema. 

Edward merasakan kulitnya seakan terbelah, rasa perih menjalar dari punggung hingga ke seluruh tubuh. Nafasnya terputus, dadanya bergetar, dan suara lirih keluar tanpa ia sadari. Namun cambuk itu tidak berhenti. Xavier mengangkatnya lagi, lebih tinggi, lebih kuat, lalu kembali menghantam. 

Edward mencoba bertahan, mencoba menegakkan tubuhnya, namun cambuk berikutnya menghantam dengan keras, membuatnya jatuh berlutut.

Edward lemas, tubuhnya gemetar, matanya berusaha tetap terbuka. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin menjelaskan, ingin meminta maaf sekali lagi. Namun setiap kata yang keluar dari bibirnya tenggelam oleh suara cambuk yang kembali menghantam. 

Xavier berhenti sejenak, menahan dirinya. Ia tak akan membuat ayahnya pingsan sehingga tidak merasakan rasa sakit dari siksaannya. Ia ingin menyiksanya perlahan dan menyakitkan.

Edward yang sudah lemas berusaha menatap Xavier, air mata keluar begitu saja. Edward mencoba bersuara, menjelaskan bahwa ia sangat menyayangi keluarganya, menjelaskan bahwa ia juga tersakiti ketika istrinya pergi. Namun yang keluar bukanlah ucapan melainkan isakan tangis.

Melihat ayahnya yang seperti itu, Xavier justru merasa semakin geram. Tangannya bergerak, meraih kunci besi yang tergantung di dinding. 

Xavier memutar kunci itu perlahan, setiap gerakan terdengar jelas, bergema di ruangan yang dingin. Satu per satu belenggu yang selama berbulan-bulan menahan tubuhnya terlepas, hingga akhirnya berat rantai jatuh ke lantai dengan suara berderak. 

Father's ReturnDonde viven las historias. Descúbrelo ahora