"Hadeh... Kenapa masalah-masalah begini siapnya lama banget.." gadis itu menghela nafas dan membuang tas kerjanya ke sofa. Lalu berjalan mengunci pintu putih itu.
Namanya Luna Amara. Gadis biasa berumur 22 tahun yang baru saja menyelesaikan masalah kerjanya.
Dulu dia tinggal bersama orang tuanya, namun ketika ketiga adiknya sudah menyelesaikan pendidikannya dan mendapat pekerjaan Luna memilih tinggal sendiri menjadi gadis mandiri. Hanya ingin menikmati hidup dengan caranya saja begitu pikirnya.
Kesehariannya hanya dipenuhi dengan pekerjaannya yang terus menumpuk, atasan atau senior yang sering beradu argumen, dan curhat-curhatan teman-temannya yang harus didengarnya. Tapi tidak kali ini, dia berniat mengambil cuti dan mengistirahatkan badannya.
"lapernya... Tapi nanti saja deh" mengalihkan rasa laparnya ia langsung berbalik dan ingin segera istirahat aja.
"nanti malam beli apa yah.." pikirnya namun segera mengeluarkan handphone yang berada di tas kerjanya, lalu meletakkannya di atas meja.
Setelah selesai menutup pintu dia kemudian mengganti baju kerja dengan baju santai miliknya.
Jam menunjukkan pukul 3 sore. Luna mengambil handphonenya lalu berbaring di tempat tidur.
Dari sakunya dia mengambil sepasang earphone bluetooth yang biasa digunakannya mendengar musik pada saat bekerja.
"Hm... Nonton kali yah? Film udah pada selesai sih.." ia bergumam bingung ingin melakukan apa di hari liburnya ini.
Satu ide terlintas dipikirannya. Seketika jari-jari itu langsung bergerak cepat menggesek-gesek layar di handphone itu.
"Mumpung libur dan aku sudah Hiatus lama di game ini, sekali-kali boleh deh main lagi..."
Dia kemudian mendownload sebuah aplikasi game. Dan mulai memasukkan email yang biasa iya gunakan.
Lalu mengambil posisi baring yang nyaman untuk memainkan game itu.
Tanpa disadari matanya lama kelamaan ingin segera menutup.
"Hamm.... Ngantuk banget yah, tidur bentar bisa kali .." ia kemudian memejamkan matanya dengan cepat.
"Swiiiingh..." Aplikasi yang barusan saja didownload itu terbuka dengan sendirinya. Menampilkan sebuah logo Gamenya.
Cahaya putih memenuhi ruang kamar Luna dan dengan cepat handphone itu mati dengan sendirinya dibarengi dengan Luna yang sudah tertidur pulas.
"Hm...." Mata hijau bercampur merah itu terbuka perlahan. Menampilkan cahaya matahari yang sangat silau. Ia kemudian mengubah posisinya menjadi duduk, dan melotot tak percaya.
"Di..dimana...ini..?"tanyanya bingung sambil melihat sekeliling.
"Aku..aku kan tadi di kamar..?" Dia terus bergumam dengan ekspresinya yang sangat bisa ditebak dari mukanya itu.
Luna kemudian berusaha berdiri dengan kaki yang sama sekali tidak memakan alas apapun itu.
Dia berjalan perlahan dengan perasaan takut dan bingung. Terus berpikir apa yang telah terjadi padanya.
Sambil saling memegang kedua lengannya dia berusaha berjalan walaupun langkah itu begitu lambat.
Cahaya matahari sangat terik sampai menyilaukan matanya.
Luna mengusap matanya yang silau terkena matahari. Dan tanpa disadari dia sudah berada disebuah desa yang ramai akan orang-orang yang sedang berlalu lalang.
"A..apa.. apa ini? Aku...aku dimana?!"
Luna Amara, gadis itu baru saja terlempar ke dunia fantasi yang sangat aneh. Dan terpaksa menjalaninya tanpa tau dia harus apa dan apa tujuannya kemari. Dia masih dengan ekspresi kaget bercampur bingung dengan ekspresi mata yang membelalak itu. Mulut dan pikirannya tak henti beradu pendapat.
Meskipun begitu, dia tetap harus melanjutkan langkahnya.
"ke..kemana hari-hariku yang biasa pergi.." gumamnya sambil terus berjalan lurus kedepan.
Baru saja ingin menjalani kehidupan yang normal namun semua menjadi terbalik 100% dari harapannya.
.
.
YOU ARE READING
Why Me? I'm Not Special!
Fantasy"Lah..kok?" Luna Amara gadis biasa berumur 22 tahun itu baru saja terbangun di tengah hutan dengan ekspresinya yang sangat bingung. Siapa yang tidak bingung, dia hanya gadis pekerja yang baru saja selesai dengan masalah-masalah pekerjaannya dan han...
