The Unfinished Night

2.1K 161 21
                                        

Maafkan dengan alur yang sedikit memaksa ini🤣

~~~

​Malam itu, Seoul seolah menahan napas. Namun, di dalam ruang kerja Hong Beomjun yang terletak di lantai paling atas kediaman megah keluarga Hong, atmosfernya jauh lebih menyesakkan. Aroma kayu cendana yang biasanya membawa ketenangan, kini terasa seperti bau dupa di tengah upacara pemakaman bagi kebebasan Hong Haein.

​Di atas meja mahoni yang dipoles hingga mengkilap seperti cermin, tergeletak sebuah map biru tua dengan logo emas keluarga Baek yang angkuh. Di dalamnya tersimpan profil lengkap seorang pria—sebuah komoditas yang bagi ayahnya adalah "masa depan perusahaan," namun bagi Haein, hanyalah sebuah rantai berlapis emas yang siap menjerat lehernya.

​"Hanya lihat fotonya sekali saja, Haein-ah. Apa susahnya membuka satu lembar kertas?" Suara Hong Beomjun berat, beresonansi dengan otoritas yang tak terbantahkan. Ia menghela napas, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang memicu adrenalin di pembuluh darah putrinya.

​Haein tetap berdiri tegak, punggungnya kaku seperti bilah pedang. Ia tidak sudi menyentuh map itu, apalagi membukanya. Matanya menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota yang terasa jauh.

​"Aku tidak butuh melihat fotonya untuk tahu bahwa aku menolak ini, Ayah," sahut Haein dingin. Suaranya rendah namun tajam. "Menikahi pria asing hanya untuk menggabungkan dua raksasa bisnis? Strategi itu sudah usang sejak satu abad yang lalu. Kita ini sedang menjalankan perusahaan global, bukan sedang membangun dinasti di zaman Joseon."

​Hong Beomjun memutar kursi kebesarannya perlahan. Ia menatap putri tunggalnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebanggaan dan kekecewaan yang mendalam.

​"Ini bukan sekadar transaksi bisnis, Haein. Ini tentang stabilitas jangka panjang Queens Group," Beomjun mencoba melunakkan nada suaranya, meski tekanannya tetap terasa. "Baek Hyunwoo baru saja mendarat di Seoul kemarin sore. Dia menyelesaikan Master di London Business School dengan predikat summa cum laude. Dia jenius, dia tenang, dan dia dididik dengan protokol yang sama ketatnya denganmu. Dia adalah pasangan yang seimbang untukmu secara intelektual maupun sosial."

​Haein tertawa sinis. Sebuah tawa pendek yang terdengar getir dan melukai tenggorokannya sendiri.

​"Seimbang? Ayah, mari kita bicara jujur," Haein melangkah satu tindak lebih dekat ke meja, membiarkan cahaya lampu meja menyinari wajahnya yang pucat namun berapi-api. "Aku sudah bekerja siang dan malam untuk Queens. Aku membangun divisi kecantikan dari nol, menghadapi cemoohan para direktur tua, hingga kita merajai pasar Asia. Dan sekarang, setelah aku berhasil membuktikan nilaiku, Ayah ingin menyerahkan semua hasil keringatku kepada pria yang baru pulang dari London hanya karena dia menyandang nama keluarga Baek?"

​"Tidak ada yang memberikan kerja kerasmu padanya! Ini tentang aliansi strategis!" bentak Beomjun, kesabarannya mulai retak. Ia berdiri, tangannya menekan permukaan meja. "Dia pria yang sopan, Haein. Keluarga Baek sangat protektif terhadapnya. Bahkan media pun sulit mendapatkan fotonya karena mereka menjaga privasinya dengan sangat ketat. Dia bukan sembarang pewaris yang menghabiskan waktu dengan hura-hura di klub malam."

​"Justru itu masalah utamanya!" potong Haein cepat, suaranya bergetar karena emosi yang mulai meluap. "Dia misterius, dia asing, dan dia tidak pernah ada dalam hidupku. Bagaimana bisa Ayah memintaku menyerahkan sisa hidupku, setiap pagi dan malamku, pada seseorang yang wajahnya saja tidak ingin kuketahui? Apakah hidupku hanya deretan angka di laporan keuanganmu?"

​Haein menumpukan kedua tangannya di pinggiran meja kayu yang dingin, mencondongkan tubuhnya hingga ia menatap langsung ke dalam manik mata ayahnya.

​"Katakan padaku, Ayah. Apakah aku ini manusia? Atau aku hanya aset bagi Ayah? Seperti saham yang bisa dipindahtangankan kapan saja saat harganya dianggap tepat?"

The Unfinished NightStories to obsess over. Discover now