pohon dan ranting

11 1 0
                                        

Tahun 2013. Dari dalam auditorium sebuah pesantren, kami berjalan keluar dengan wajah berseriseri. Tawa kami pecah saat itu, seolah kami baru saja memenangkan sebuah peperangan besar. "Hei, kalian lihat tidak? Saat tim dari pondok sebelah kehabisan ide, bangunan mereka malah runtuh di tengah penilaian. Sama sekali tidak bisa menyaingi rancangan kita!" ujar Rozak dengan nada penuh kemenangan. Dika menepuk bahu temannya sambil tersenyum kecil. "Sudahlah, Zak. Sepertinya mereka mengira ini lomba main-main biasa, bukan kompetisi. Jadi sejak awal sampai akhir mereka asal pasang balok tanpa konsep. Benar, kan?" Tawa kami kembali meledak, menyisakan jejak kebanggaan yang sulit disembunyikan. Aku bahkan dari tadi hanya tertawa saat mengingat ekspresi Rozak ketika diumumkan kalau tim kami pemenang Lomba LEGO Building Competition setelah final melawan pondok sebelah. Bagiku pribadi, kemenangan itu terasa lebih istimewa. Sejak kecil aku memang terobsesi dengan LEGO. Dari sekadar bongkar pasang sederhana sampai membuat menara tinggi yang nyaris roboh, semuanya memberiku kepuasan aneh yang sulit dijelaskan. Ayah yang menanamkan itu padaku. Ia selalu bilang bahwa setiap potongan, sekecil apa pun, punya peran penting dalam membentuk bangunan. Bahkan potongan yang terlihat remeh bisa menentukan hasil akhir. Dan hari itu, di panggung lomba, aku baru benar-benar memahami ucapan ayah. Setiap balok kecil yang kami pasang bersama—aku, Rozak, dan Dika—akhirnya menjelma menjadi sebuah rancangan utuh. Bukan sekadar bangunan LEGO, tapi juga simbol persahabatan kami.

 Awal kisah 

 Oh iya, teman teman, hampir saja aku lupa satu hal penting: namaku Juang. Sama seperti namanya, hidupku pun penuh dengan perjuangan. Mungkin itulah harapan orang tuaku—agar aku selalu kuat berjuang. Apakah kalian Kalian tahu ?, cerita tadi adalah salah satu cerita indah yang kumiliki saat aku di pesantren, Kini genap sudah lima tahun aku menempuh pendidikan di pesantren, sekarang memasuki tahun keenam. Waktu terasa begitu cepat berlari, meninggalkan jejak cerita yang tak pernah habis untuk dikenang. Rozak, Dia masih setia menjadi sahabatku sampai sekarang, begitu pula Dika. Tak terasa, pertemanan kami sudah terjalin begitu lama. Tinggal hitungan bulan saja hingga kami semua lulus. Aku bahkan masih ingat jelas, saat pertama kali Rozak mengajakku berteman di depan papan pengumuman, tepat setelah pembagian asrama baru. Begitu pula dengan Dika, yang datang sebagai santri pindahan seminggu setelah kami tinggal di pesantren ini. Semuanya terasa berjalan lancar bagiku. Namun tanpa kusadari, aku sering terlalu egois—terlalu sibuk dengan diriku sendiri hingga tak benar-benar mendengarkan cerita mereka. Terlalu asyik dengan duniaku sendiri, hingga lupa menanyakan masalah apa yang sedang mereka hadapi. Hingga suatu malam, sebuah kejadian merobek seluruh ketenanganku. Malam yang membuat mataku terbuka, malam yang menampar kesadaranku betapa bodohnya aku sebagai seorang teman. Aku terbangun oleh suara lirih dari lorong belakang asrama. Samar terdengar isak yang terputusputus, disusul nada berat penuh ancaman dari seseorang. Langkahku terhenti ketika kulihat sosok itu—Ustadz Galih, pengawas keamanan pondok—mendekap Dika dengan kasar, seolah menjadikan tubuh sahabatku sekadar mainan yang bisa ia kuasai. "Diam! Jangan melawan," desisnya. Wajah Dika memucat, matanya memohon pertolongan yang tak sanggup ia ucapkan. Tangannya bergetar, tubuhnya berusaha menolak, tapi sia-sia. Seakan malam ikut membeku, menyaksikan kekejian yang terjadi. Dadaku sesak. Kakiku lemas. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Aku hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan dunia sahabatku direnggut di depan mata. tiba tiba saja kemarahanku meledak; seluruh nadiku seakan mendidih. Tanpa berpikir panjang, aku meraih besi bangunan yang saat itu berada tak jauh dari ku. dengan tangan yang gemetar, Kutepatkan hantaman itu ke belakang kepala ustadz Galih. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Rasa panik dan amarah mendorongku sampai aku tak lagi menghitung. Aku berhenti ketika tubuh ustadz Galih limbung lalu terkapar tak bergerak, suasana lorong seperti runtuh — hanya ada nafas kami yang tercekat, bunyi lampu remang yang berdengung, dan detak jantungku yang menggema terlalu kencang. Aku menatap tanganku yang berlumuran darah, sementara Dika hanya memeluk lututnya dan menangis. wajahnya masih pucat, matanya menatapku dengan sesuatu yang sulit kubaca. Tubuhku gemetar, bukan hanya karena adrenalin, tapi karena kesadaran penuh atas apa yang baru saja kulakukan. Dan sekarang aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Hingga langkah tergesa terdengar dari ujung lorong. Aku menoleh panik—Rozak muncul dengan wajah terkejut, matanya melebar melihat Galih terkapar lalu menatapku penuh tanda tanya. "Astaga..." bisiknya tertahan. "Ustadz Galih... apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Suaranya nyaris gemetar, meski ia berusaha tegar. Aku tak sanggup menjawab. Bibirku hanya bergetar, sementara darah di tanganku jadi saksi bisu. Rozak menelan ludah, lalu mendekat dengan cepat. "Sudah, jangan berdiri di sini. Kita harus pergi, sebelum para santri lain bangun. 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 03 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

pohon dan rantingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang