prolog

24 10 0
                                        

⚠️ PERINGATAN KONTEN ⚠️

Cerita ini mengandung tema posesif, kesadisan, trauma. Mohon di baca dengan bijak.!

*
*
*


Malam itu harusnya menjadi malam perayaan, tapi udara di kediaman Mahendra mendadak terasa dingin dan kaku. ​Aku masih ingat bagaimana denting sendok logam yang beradu dengan piring beling tiba-tiba terhenti oleh suara pintu depan yang didobrak paksa.

Lalu, semuanya terjadi begitu cepat. Seperti mimpi buruk yang diputar dalam gerakan lambat.

Sekelompok pria berpakaian hitam masuk tanpa suara, namun membawa maut di tangan mereka. Ayah berdiri, mencoba melindungi kami, tapi sebuah hantaman gagang senjata membuatnya tersungkur. Aku melihat Ibu menjerit, mencoba merangkul Laura dan Radika, sebelum seorang pria dengan tenang menarik pelatuknya tepat di depan mataku.

Bau bubuk mesiu dan bau amis darah seketika memenuhi ruangan yang dulunya penuh tawa itu.

"Tolong... jangan anak-anakku," rintih Ayah di lantai, tangannya yang gemetar berusaha meraih kaki pria yang berdiri di depannya. Pria itu tidak bicara. Dia hanya menatap Ayah dengan pandangan kosong, seolah nyawa manusia di bawahnya tidak lebih berharga dari debu di sepatunya.

Aku membeku. Di bawah meja makan yang mewah, aku memeluk Radika dan Laura dengan sangat erat. Aku membekap mulut Laura sampai dia sulit bernapas, karena jika dia mengeluarkan satu isakan saja, kami semua akan tamat. Dari celah taplak meja, aku melihat kaki-kaki pria itu melangkah menjauh setelah meninggalkan Ayah yang tak lagi bergerak.

Mereka tidak membakar rumah itu. Mereka sengaja membiarkannya utuh agar kami bisa melihat dengan jelas bagaimana kehancuran kami digambarkan di setiap sudut ruangan.

Malam itu, di lantai yang banjir dengan darah orang tuaku, masa kekanak-kakakanku berakhir. Saat para pembantai itu pergi, aku keluar dari kolong meja. Tanganku gemetar saat menyentuh wajah Ayah yang sudah dingin.

"Ayo pergi," bisikku pada mereka. Suaraku bukan lagi suara remaja lima belas tahun. "Mulai sekarang, jangan pernah percaya pada siapa pun kecuali kita bertiga."

Kami meninggalkan kemewahan itu tanpa membawa apa pun, kecuali amarah yang akan aku pelihara sampai aku bisa menghancurkan setiap orang yang ada di ruangan itu malam ini.

Bunga Di ladang RanjauBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin