Berawal dari Arunika

14 1 0
                                        

Semua hal yang terjadi akhir-akhir ini bermula pada saat Reza Pratama yang harus menjemput tugasnya di rumah dosennya, Pak Kara. Saat itu awalnya ia berpikir untuk menjemput tugasnya, sangat sederhana. Datang, pulang, sudah seperti itu. Namun, sepertinya takdir memiliki rencana lain untuk pemuda berkacamata itu.

"Bibii! Ayah kapan pulangnya?? Aru mau Ayah sekarang.."

Reza sedikit melirik ke arah ruang tamu dimana seorang wanita paruh baya sedang menenangkan anak kecil di gendongannya. Anak kecil itu memiliki surai yang tergerai panjang, merengek keras mengisi ruangan dari banyaknya ruangan di rumah besar itu. Kalau dipikir secara rasional, Reza tak perlu juga untuk ikut campur, ia bisa pulang sekarang. Berjalan menjemput bis, kembali ke kosan, lalu bersiap-siap memasak makanan untuk adiknya, mengerjakan tugas, lalu tidur.

"Mau Ayah, Bibi..." Anak itu menangis semakin keras di dalam dekapan Bibi. Memukul mukul udara sia-sia.

"Halo, cantik?" Anak kecil itu berhenti sejenak. Melongok dari balik bahu untuk mengecek. Ia mendapati pria asing berkacamata mengulurkan tangannnya.

Reza tersenyum hangat, dalam hatinya, anak ini mengingatkan dirinya dengan adik kecilnya dulu, Shena. Dorongan impulsif secara tak sengaja menariknya untuk membantu wanita paruh baya ini menenangkan sang buah hati rumah besar itu.

"Siapa?" Anak itu membalas, kedua permatanya menyipit curiga. Anak kecil itu memanyunkan bibirnya, maminkan jarinya sembari menunggu Reza membalasnya.

Reza kemudian sedikit membungkuk, menyamakan tinggi badannya dengan anak kecil bersurai panjang. "Mas Reza. Kalau nama kamu siapa, ade kecil?"

"Aru," jawabnya terlalu pendek. Sangat wajar. Anak kecil ini ternyata masih menaruh curiga padanya.

Reza mengangguk tanda mengerti, "lalu kenapa ade Aru menangis? Kasian tahu Bibinya," timpal Reza sedikit mengajak anak kecil itu untuk melirik wanita paruh baya yang sedang menggendongnya.

Sang Bibi tersenyum lemah, menimang-nimang anak atasannya. Tangan yang banyak keringat dari tangan siapapun itu mengusap lembung surai milik Aru. "Ayahnya belum pulang daritadi, Mas. Katanya mau keluar sebentar, tapi udah se-jam lebih belum balik juga."

Ruangan besar dari ruang tamu lengang beberapa saat. Pecah kembali oleh raungan anak kelas 4 sekolah dasar. "Kangen sama Ayah! Ayah ngga mau pulang ... Ayah ngga mau main sama Aru." Kedua pertama dari tubuh kecil itu kembali berkaca-kaca. Pinggiran dari kelopak matanya memerah, hidungnya pun sama merahnya dengan kedua permatanya. Reza terdiam sejenak. Mengambil beberapa detik untuk berpikir.

"Mau main sama mas Re dulu nggak sambil nunggu Ayah kamu? Nanti mas Re ceritain sesuatu yang seru buat Aru, mau?" Tawar Reza seraya mengulurkan kedua tangannya, menunggu yang ditawari menerima ulurannya.

Anak kecil bernama Aru itu nampak berpikir sebentar, menimbang-nimbang apakah ia akan ikut bersama orang asing ini atau terus menunggu Ayahnya.

"Ngga mau ikut, ya? Yasudah, mas Re pergi dulu ya." Reza menunduk sebentar ke arah Bibi, lalu melambaikan tangannya ke arah Bibi dan Aru. Sedetik Reza baru akan pergi, langkah kakinya berhenti spontan oleh gelombang suara yang menahannya.

"Mas Re, Aru ikut..." Reza berbalik, mendapati Aru merentangkan tangannya untuk digendong. Reza kembali lagi dengan senyuman cerah, benar-benar mengingatkan dia dengan adik kecilnya dulu, Shena.

Reza dan Aru ditinggalkan oleh Bibi di ruang tengah. Mereka bermain seperti yang dijanjikan oleh Reza. Aru sekarang berada di atas pangkuan Reza dengan buku cerita di depannya. Dibacakan dan dijelaskan oleh yang lebih tua, sesekali ia juga akan bertanya kepada Reza, kenapa bisa begitu. Tawa dari kedua insan berbeda umur itu mengalun bebas memenuhi ruangan tengah yang semulanya lengang. Detik dari waktu terus berjalan, berganti menjadi menit, lalu jam. Sudah sekitar setengah jam Reza membacakan cerita bergambar kepada Aru.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 25 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Senja OlaWhere stories live. Discover now