Prolog - Aku Tidak Pernah Benar-Benar Pulang

10 0 0
                                        

Aku dulu mengira pulang itu soal alamat.
Satu rumah.
Satu pintu.
Satu tempat untuk menaruh lelah.

Ternyata aku keliru.

Sejak kecil, aku belajar satu hal—
diam sering kali terasa lebih aman daripada jujur.
Di rumahku, suara bisa berubah jadi pertengkaran.
Dan perasaan lebih sering disimpan, bukan dipeluk.

Aku anak pertama.
Yang harus kuat lebih dulu.
Yang dituntut mengerti tanpa pernah benar-benar dijelaskan.
Yang belajar bertahan, bahkan ketika tak ada satu pun yang bertanya,
"Kamu nggak apa-apa?"

Aku mengenal takut kehilangan jauh sebelum paham arti cinta.
Kehilangan rumah yang utuh.
Kehilangan kehangatan keluarga.
Dan perlahan,
kehilangan diriku sendiri.

Aku mencoba mencari rasa aman di luar.
Dalam pertemanan, aku ada tapi jarang dipilih.
Dalam cinta, aku bertahan, meski terluka.
Aku pikir, asal tidak ditinggalkan,
rasa sakit bisa ditawar.

Nyatanya, tidak semua yang tinggal benar-benar menjaga.
Dan tidak semua yang pergi selalu melukai.
Beberapa kepergian justru membuka mata.

Namaku Nara Aksara.
Ini bukan cerita tentang menyalahkan siapa pun.
Ini tentang seorang anak yang terlalu cepat dewasa.
Dan tentang rumah...
yang tak pernah benar-benar bisa ia sebut pulang.

Jika kamu pernah merasa sendirian di tengah keramaian,
mungkin cerita ini juga menyimpan sebagian dari hidupmu.

Dan mungkin,
kamu akan mengerti
kenapa aku tidak benar-benar pergi.

Aku Tidak Pernah Benar-Benar PulangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang