Suara decit sepatu di atas lapangan indoor kampus berpadu dengan dengung papan skor yang menunjukkan angka kemenangan tipis bagi tim Kim Taehyung. Keringat membanjiri tubuh, namun suasana justru mendingin oleh tatapan tajam yang saling beradu. Taehyung menyeringai tipis, mengusap keringat di dagunya dengan gaya provokatif sembari menatap Jeon Jungkook yang berdiri kaku di tengah lapangan dengan napas memburu. Bagi Jungkook, kekalahan ini bukan sekadar angka; ini adalah penghinaan.
"Cuma keberuntungan, huh?" desis Jungkook, tangannya terkepal kuat hingga buku jarinya memutih.
Taehyung tertawa kecil, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa sekian inci. "Keberuntungan atau memang kau yang payah, Jeon? Terimalah, kau pecundang hari ini."
Kalimat itu menjadi pemantik ledakan. Jungkook menerjang, mencengkeram kerah jersei Taehyung dan melayangkan satu pukulan mentah yang mengenai rahang lawan. Tak tinggal diam, Taehyung membalas dengan hantaman keras ke perut Jungkook. Lapangan seketika berubah menjadi arena tawuran singkat yang kacau.
"Woy! Berhenti!" teriak Jimin panik, langsung menerjang untuk memeluk pinggang Jungkook dari belakang. J-Hope dan Mingyu segera membantu, menarik lengan Jungkook yang masih berusaha menendang ke arah Taehyung. "Sudah, Kook! Kendalikan dirimu, ini cuma basket!" bentak Mingyu yang kewalahan menahan tenaga Jungkook yang seperti banteng.
Di sisi lain, Namjoon dan Seokjin sigap mencengkeram pundak Taehyung, menyeretnya menjauh sementara Suga berdiri di depan Taehyung untuk menghalangi pandangannya dari Jungkook. "Cukup, Tae! Jangan jadi kekanak-kanakan di sini," tegas Namjoon dengan suara beratnya. Suga hanya menghela napas panjang, tampak sangat lelah karena skenario ini terus berulang hampir setiap bulan.
"Lepaskan aku! Dia duluan yang mulai!" teriak Taehyung sambil meronta, matanya masih merah menatap Jungkook.
"Bacot! Sini kau kalau berani!" balas Jungkook tak kalah kencang, meski tubuhnya sudah ditarik menjauh oleh Jimin dan kawan-kawan.
Setelah beberapa menit ketegangan yang menyesakkan, kedua kubu akhirnya berhasil memisahkan "dua singa" tersebut. Dengan napas yang masih tersengal dan tatapan benci yang masih menyala, mereka akhirnya bubar ke arah berlawanan membawa luka lebam dan dendam yang justru semakin membara.
.
.
Keesokan paginya, koridor utama kampus yang biasanya bising seketika berubah hening saat dua kelompok paling berpengaruh itu berpapasan. Jungkook berjalan di tengah, langkahnya angkuh meskipun sudut bibirnya masih tertutup plester kecil. Di sampingnya, Jimin, J-Hope, dan Mingyu tampak seperti barikade pelindung.
Dari arah berlawanan, Taehyung muncul dengan jaket kulit hitamnya, didampingi Namjoon, Suga, dan Seokjin. Begitu jarak mereka hanya tersisa dua meter, langkah keduanya terhenti serentak. Atmosfer di koridor mendadak mencekam, membuat mahasiswa lain memilih menepi atau pura-pura sibuk dengan ponsel mereka.
"Wah, lihat ini," Taehyung memecah keheningan, suaranya berat dan penuh nada mengejek. Ia menatap plester di bibir Jungkook lalu tertawa hambar. "Plesternya lucu. Cocok untuk pecundang yang tidak bisa terima kekalahan."
Jungkook maju satu langkah, matanya berkilat marah. "Mulutmu lebih butuh plester daripada bibirku, Kim. Mau aku bantu menempelnya dengan tinjuku lagi?"
"Kook, sudah. Jangan mulai lagi," bisik Jimin sambil memegang lengan Jungkook, matanya melirik waspada ke arah Namjoon dan yang lain.
"Biarkan saja, Jim. Si brengsek ini sepertinya belum kapok," balas Jungkook tanpa melepas tatapannya dari Taehyung.
Seokjin menghela napas panjang, melipat tangan di dada. "Taehyung, kita punya kelas sepuluh menit lagi. Jangan buang waktu untuk urusan sampah seperti ini."
YOU ARE READING
Rival Hearts TAEKOOK
FanfictionKim Taehyung dan Jeon Jungkook adalah dua badboy kampus yang dikenal sebagai musuh bebuyutan setiap pertemuan mereka selalu berakhir dengan baku hantam atau debat sengit, memaksa teman-teman mereka turun tangan dan diam-diam lelah menghadapi permusu...
