"Hey... Himera... bangun woy!!!" Orion menepuk bahuku, tapi aku belum juga bangun.
Kesal karena aku tak kunjung bangun, dia langsung mengambil roti panggang selai cokelat dari microwave portabel dan menaruhnya tepat di depan wajahku.
"HUWAHHH... ENAK BANGET TUH..." Aku langsung terbangun dengan mata terbuka lebar setelah menghirup aromanya.
"BRUH... langsung bangun kau. Makan dulu gih..." katanya sambil menyodorkan roti dengan wajah ceria.
"Bentar lah, sayang. Aku mau menyegarkan diri dulu. Masa langsung sarapan, entar aku malah dibilang bau sama kamu."
Dia mengerucutkan bibir, lalu mengambil lap sekali pakai, sabun wajah, dan parfum badan dari tasku.
"Yaudah deh... aku mantau dulu."
Dia menaruh piring roti, lalu mengambil catatannya dan melihat kondisi alam dari dalam tenda transparan.
Setelah menyegarkan diri dan mengganti pakaian bersih, aku mengambil rotiku dan duduk di sebelahnya.
"Sayang... emm... udah nemu hal baru?" tanyaku sambil bersandar di bahunya, menikmati setiap gigitan.
"Sejauh ini belum ada, sayang. Dari tadi yang kulihat cuma... eee.. padang rumput kuning yang sedang menari sama para Xelov yang berjalan melewati padang rumput. Untung aja si Alien - Alien Tradisional itu nggak bisa melihat tenda kita," katanya sambil menaruh catatannya.
"Yippyyyy!, baguslah. Kita masih bisa bertahan di sini walaupun baru sehari. Jujur aja..." wajahku memelas "Kemarin capek banget setelah usaha kita kabur dari lubang keluar dari Kota Krasui, para penjaga di pintu keluar tuh ketat banget... Untungnya kita menemukan celah yang tepat, hmmmm." Aku menghabiskan rotiku, meneguk air dari botol, lalu kembali duduk di sampingnya.
"Tapi sumpah, selama aku di dalam kota itu rasanya monoton dan membosankan. Bangun, kerja jadi kasir, main game atau nonton series, tidur-itu aja terus. Aku muak sama sistem hidup yang stagnan di sana." Aku menghembuskan napas panjang, terdiam beberapa detik, lalu menatapnya. "Pada akhirnya... aku menemukanmu. Dari hal sederhana seperti kamu yang sering jajan di tokoku, ngobrol pas bayar, sampai kamu yang nemenin aku walaupun nggak beli apa-apa. Aku senang banget, tahu." Aku tersenyum kecil.
"Kamu mencerahkan pikiranku dan menanamkan tujuan baru dalam hidupku, sampai akhirnya kita bisa ada di sini. dan satu hal... selama aku masih bersamamu-" aku mengelus pipinya, "aku akan selalu merasa aman dan nyaman."
Dia ikut tersenyum. Tiba-tiba, "Ehhh..." Dia menggendongku dan mendudukkanku di pangkuannya, dengan posisiku bersandar di dadanya. Aku memegang tangannya dan mengarahkannya untuk memelukku.
"Terima kasih untuk selalu berada di sisiku sayang, dan ya... I love you, selalu." Dia mencium rambutku.
Hatiku langsung meleleh. Aku membalas dengan mencium punggung tangannya. "I love you more, babe." Aku tersenyum manis.
Beberapa detik kemudian, air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.
"Hey hey.... Tidak apa - apa sayang" Dia menggendongku dan memposisikan ku duduk berhadapan dengannya. "Katakan padaku, apa yang kamu pikirkan."
"Emm..." Aku terdiam sambil menangis. "Aku kangen mamah sama papah. Aku pengin tahu apa mereka benar-benar tenang di atas sana. Aku cuma ingin nunjukin ke mereka kalau sekarang aku punya pria ganteng di depanku ini." Aku memegang kedua pipinya. "A-aku... aku nggak tahu harus gimana lagi. Yang bisa kulakuin sekarang cuma bersamamu... selalu. Mereka pasti bangga lihat kita bersama, kan? Iya kan?" tanyaku dengan wajah cemas.
YOU ARE READING
FACING THE FIELDS
Science FictionSetelah berhasil kabur dari dunia bawah tanah Krasui, Himera dan Orion menemukan permukaan bumi yang jauh dari bayangan mereka, yang kini disebut zemirland (dulunya merupakan pulau tanah Jawa). Dengan padang rumput yang luas, makhluk asing yang hidu...
