Prolog

17 0 0
                                        

Hari Jumat, penghujung di hari kerja, gerbang menuju kebahagiaan akhir pekan. Pintu keluar sebuah sekolah dipadati oleh murid yang menyeruak keluar seperti beras yang tumpah dari bibir botol. Pemuda yang sendirian di dalam halte menekan punggungnya hanya untuk menyadari dia sudah berada di posisi mentok. Wajahnya terlihat dingin, tapi dia tidak bisa menyembunyikan kecanggungannya dengan terus menggerakkan kakinya.

Langit abu-abu tebal menutup seluruh langit. Cahaya matahari terhalang untuk menyentuh bumi. Momen demi momen yang terlewati setiap detik mengalir misterius. Seorang pemuda berseragam SMA cemas menunggu kapan datangnya angkutan umum. Melihat teman-temannya yang sudah mendapatkan tumpangan pulang, pemuda itu menghela napas, menyenderkan kepala ke tiang yang menyangga atap halte.

Kenapa dia berhenti memberiku tumpangan? Si Pemuda menghindari semua tatapan siswa yang melewatinya. Di kepalanya terbayang sosok sahabatnya, orang yang sejak kecil dia kenal baik. Seharusnya, dia-lah yang bertanggung jawab untuk mengantar-jemput si Pemuda berangkat dan pulang sekolah. Namun, anehnya orang itu tak menampakkan batang hidungnya sama sekali sejak tadi pagi. Si Pemuda itu enggan mengakui kalau dirinya khawatir. Oleh karena itu, dia hanya mengirim pesan untuk memastikan keadaan orang itu. Sayangnya, pesannya tak dibalas sampai sekarang.

Jumlah murid yang melewati halte semakin banyak. Tiap dari pandangan mereka menelisik ke dalam halte karena mendapati seseorang di dalamnya. Mereka bertanya-tanya orang macam apa yang menunggu angkutan umum ketika mendung sudah gelap dan dipastikan akan hujan deras begini? Mungkin, orang di dalam halte tidak punya uang, atau tidak ada yang menjemputnya. Namun, setelah mengenali siapa yang duduk sendirian di dalam halte, mereka semua berbisik pada orang lain yang paling dekat dengan mereka. Mereka menanyakan apakah orang itu benar seperti yang mereka pikirkan. Dan itu terbukti. Mereka memang benar mengenai identitas pemuda itu.

"Bukannya itu Alex?"

"Hah? Mana mungkin? Eh—"

Si Pemuda bernama Alex itu menatap balik sebuah geng murid yang menyebut namanya, meski sudah berbisik dengan volume terendah.

"Urat mata kalian bisa putus kalau melihatiku tanpa menolehkan kepala begitu."

Perempuan yang menyebut nama Alex dalam geng itu memeluk tangan teman sebelahnya dan menariknya untuk berlari menjauh. Sekumpulan murid di sekitarnya berjalan cepat untuk menyusulnya.

Alex mengernyitkan dahinya mengamati cara geng pertemanan itu berlari pontang-panting. "Apa kata-kataku salah?"

Tetes air mulai turun. Rintik gerimis mulai terdengar. Alex mendongak sambil mengumpat dalam hati. Sungguh disayangkan hujan turun sebelum dirinya sampai rumah. Karena setelah tiba di pemberhentian, Alex masih harus berjalan sekitar 200 meter untuk sampai ke rumahnya. Jika Alex harus berjalan sejarak itu ketika sedang turun hujan seperti ini, bisa dipastikan dirinya akan basah kuyup begitu sampai rumah.

Mengesampingkan hal itu, Alex membuang napas panjang. Dirinya menggeser tempat duduk untuk menghindari tepias air yang masuk ke dalam halte. Butiran hujan turun sederas-derasnya dari kejauhan. Alex bisa melihat dan mendengar suara guyuran dari kejauhan yang memangkas jarak dengan cepat. Sebelum curah tinggi hujan tiba, muncul angin kencang lebih dulu. Pohon-pohon di seberang jalan bergoyang seperti bisa tercabut dari tanah kapan saja.

Angin basah masuk ke dalam halte. Alex mengangkat tangannya ketika melihat kelopak bunga dari pohon di seberang jalan terbang hingga masuk ke dalam halte. Jemarinya melekam kelopak bunga berwarna merah muda yang cantik. Ketika melihat ke pohon di seberang jalan, Alex terdiam.

"Bunga di pohon itu warnanya kuning."

Begitu menatap kembali benda lembut diantara lekaman jari, Alex terperanjat. Matanya berkedip cepat seolah memastikan penglihatannya masih cukup tajam. Jantungnya berdegup tak normal.

Kelopak bunga yang ditangkapnya menghilang begitu saja dari lekamannya seolah tak pernah ada.

Kemana perginya...? Alex menggeleng, memastikan dirinya tidak sedang mengantuk.

Jalan raya dan tanah di sekitar basah hingga sedikit memunculkan genangan. Siswa yang lalu lalang tak terlihat lagi ketika hujan mulai turun. Sementara itu, Alex yang tak tahu apa-apa, tetap menunggu dengan kesabaran dan keyakinan, bahwa dia akan mendapatkan tumpangan dari angkutan umum untuk sampai ke rumah.

Waktu terus berjalan dengan caranya yang misterius. Hujan turun dan membawa kenangan yang sebelumnya tak pernah ada. Perubahan besar sedang menerjang batas jarak dan waktu untuk bisa memperangkap Alex di dalamnya. Meski begitu, Alex terus menatap ke depan tanpa rasa takut.



___________________________________________________________

hahhh akhirnya kuupload juga

kayaknya terlalu muluk2 ya update 3 novel berbeda dalam sehari wkwk. tapi mau gimana lagi, ini buat database cadangan

selamat menikmati SOV revisi kesekian ψ(`∇')ψ


Struggle Of Vigour [REWORK]Stories to obsess over. Discover now