Malam sudah larut. Jam di sudut layar monitor menunjukkan pukul 02:45 dini hari. Suara ketukan keyboard mekanikal dan klik mouse yang intens memecah keheningan di sebuah kamar kos yang sedikit berantakan di sudut kota.
"Kiri! Kiri! Rush B, you idiot! Astaga, healer-nya ngapain di situ?!"
Pemuda itu, Ryandika Pratama—atau yang biasa dipanggil Ryan oleh teman-temannya—menggerutu kesal sambil menatap layar monitornya yang kini menampilkan tulisan 'DEFEAT' dengan warna merah menyala. Ia mengusap wajahnya yang lelah, lalu bersandar pada kursi gaming murahannya.
"Kuso... matchmaking macam apa ini? Dikasih tim isinya ampas semua. Yare yare daze..." batin Ryan sambil menghela napas panjang.
Sebagai seorang mahasiswa semester pertengahan yang juga merupakan hardcore gamer dan otaku akut, siklus hidupnya sangat sederhana: kuliah, tidur, main game, nonton anime, dan mengeluh tentang gacha yang ampas. Kehidupan normal di Normal World yang membosankan, tanpa sihir, tanpa naga, dan tentu saja, tanpa waifu yang jatuh dari langit.
Ryan baru saja berniat mematikan PC-nya untuk tidur, ketika tiba-tiba smartphone yang tergeletak di atas mejanya bergetar dengan sangat hebat. Bukan getaran biasa, melainkan getaran panjang yang diiringi layar yang menyala terang benderang.
"Hm? Siapa yang chat jam segini? Orang gila mana yang nge-spam?" gumamnya, meraih ponsel tersebut.
Namun, tidak ada notifikasi dari WhatsApp, Discord, atau aplikasi chat lainnya. Di layar home ponselnya, tepat di tengah-tengah, terdapat sebuah ikon aplikasi baru yang tidak pernah ia unduh. Ikon itu berbentuk pusaran galaksi dengan palet warna hitam dan emas yang elegan, dengan tiga huruf di bawahnya: D.G.C.
Tiba-tiba, sebuah pop-up muncul memenuhi layar.
[Mendeteksi Anomali Ruang-Waktu di Sektor 00-Alpha (Normal World).]
[Kandidat Host Ditemukan: Ryandika Pratama.]
[Aplikasi 'Dimensional Group Chat' (D.G.C) telah diinstal. Apakah Anda ingin bergabung dan mengklaim posisi sebagai Admin Primer?]
[ YES / NO ]
Ryan mengerutkan keningnya. "What the hell? Malware jenis baru kah ini? Atau virus ransomware? Ck, tau gini gue nggak usah klik link sembarangan pas nyari mod Skyrim kemaren."
Tanpa ragu, ibu jari Ryan bergerak untuk menekan tombol [ NO ]. Ia tidak bodoh. Di era digital ini, membiarkan aplikasi aneh mengambil alih ponsel adalah bunuh diri.
Namun, saat jarinya menyentuh layar...
[Pilihan 'NO' ditolak.]
"Hah? Nani?! Ditolak gimana ceritanya?!" Ryan membelalakkan matanya. Ia menekan tombol [ NO ] lagi, kali ini berkali-kali dengan kecepatan taping ala pemain osu!.
[Penolakan diabaikan.]
[Memaksa masuk... Mengikat jiwa Host ke dalam Jaringan Multiverse...]
[10%... 45%... 89%... 100%.]
[Integrasi Selesai.]
Tiba-tiba, ponselnya mengeluarkan kilatan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Ryan secara refleks menutupi wajahnya. Pada saat yang bersamaan, rasa pening yang luar biasa menghantam kepalanya. Rasanya seolah-olah ada sejumlah besar data yang disuntikkan langsung ke dalam otaknya.
"Guaaaah! Sakit! Sakit banget njir! Apa-apaan ini?!" Ryan memegangi kepalanya, jatuh dari kursi dan berlutut di lantai kamarnya.
Di dalam kepalanya, bukan melalui telinga, melainkan langsung bergema di dalam ruang kesadarannya, sebuah suara mekanis yang dingin namun terdengar divine bergema.
YOU ARE READING
Dimensional Group Chat: The Guardians of Multiverse
FanfictionJust a fanfic, nothing new :v
