Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

1

8 1 0
                                        

Suasana di markas besar keluarga Moretti malam itu sangat tegang. James duduk di kursi kebesarannya, memutar-mutar sebuah pisau lipat perak di jemarinya. Di depannya, seorang informan gemetar hebat.

"Katakan sekali lagi," suara James rendah, nyaris seperti bisikan yang mematikan.

"A-Anna, Tuan. Anna dari keluarga Valerius diculik oleh kelompok Syndicate Hitam saat dia dalam perjalanan pulang dari pelabuhan. Mereka membantai semua pengawalnya. Kabarnya... mereka ingin mengirimkan potongan jarinya ke ayahnya besok pagi."

James terhenti. Pisau lipatnya tertancap di meja kayu jati yang mahal. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk membenci Anna Valerius. Mereka pernah mencoba saling membunuh di usia sepuluh tahun, bersaing berebut wilayah di usia delapan belas, dan saling menghina di setiap pertemuan diplomatik antar keluarga. Anna adalah musuh bebuyutannya, target yang harus ia hancurkan sendiri. Tapi, diculik oleh tikus-tikus seperti Syndicate Hitam? Itu adalah penghinaan bagi James.

"Siapkan mobil dan senjata," perintah James sambil berdiri, menyambar jas hitamnya.

"Tapi Tuan... ayahnya adalah musuh kita! Biarkan saja mereka saling bantai," cegat salah satu pengawal setianya.

James menatap pengawalnya dengan mata dingin yang tajam. "Hanya aku yang boleh menghancurkan seorang Valerius. Jika Syndicate Hitam menyentuhnya, mereka bukan hanya mencari masalah dengan ayahnya, tapi mereka menantangku."

.
Di sisi lain..
.

Di sebuah gudang tua yang berbau karat dan amis, Anna Valerius terikat di sebuah kursi besi. Sudut bibirnya pecah, dan noda darah menghiasi kemeja putihnya yang kini koyak. Meski tubuhnya terasa remuk setelah dihujani pukulan oleh dua anak buah Syndicate Hitam, matanya tetap menyala—dingin dan penuh kebencian.

"Hanya ini kemampuanmu?" Anna meludah ke lantai, darahnya bercampur debu. "Ayahku akan menguliti kalian hidup-hidup sebelum matahari terbit."

Seorang pria bertubuh besar di depannya tertawa mengejek, lalu menjambak rambut Anna hingga kepalanya terdongak paksa. "Ayahmu sedang sibuk mengumpulkan uang tebusan yang tidak akan pernah ia bayar karena kamu akan mati lebih dulu, Gadis Kecil."

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Anna, membuat kepalanya terhentak ke samping. Namun, alih-alih menangis, Anna justru tertawa lirih. Suaranya serak tapi tajam.

"Kau memukul seperti seorang amatir," ejek Anna, menatap lurus ke mata pria itu. "Jika James Moretti tahu bajingan kelas teri seperti kalian yang menangkapku, dia pasti akan menertawakanku seumur hidup. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Kesal karena provokasi Anna, pria itu mengeluarkan pisau belati, mengarahkannya tepat ke leher Anna.  "Mari kita lihat apakah kamu masih bisa sombong saat lidahmu sudah tidak ada."

Tepat saat ujung pisau itu menyentuh kulit leher Anna, sebuah ledakan hebat menghancurkan pintu besi gudang tersebut. Debu dan serpihan beton beterbangan di udara.

Asap tebal masih menyelimuti ruangan, tapi telinga Anna sudah menangkap suara kekacauan di luar. Tanpa menunggu sedetik pun, ia memanfaatkan keterkejutan si pria besar yang memegang belati. Saat pria itu menoleh ke arah ledakan, Anna menghantamkan kepalanya sekuat tenaga ke wajah pria itu.

Brak! Hidung pria itu patah seketika. Di saat yang sama, Anna memutar pergelangan tangannya yang terikat kuat ke belakang kursi. Rasa sakit yang luar biasa menjalar karena gesekan tali yang kasar, tapi ia tidak peduli. Dengan satu sentakan paksa yang memuakkan—nyaris membuat bahunya terlepas—Anna berhasil menggapai belati yang jatuh dari tangan pria tadi.

Hanya butuh tiga detik bagi Anna untuk memutus tali di tangannya. Begitu bebas, ia tidak langsung lari. Ia justru menerjang pria yang tadi memukulnya. Dengan gerakan akrobatik yang terlatih sejak kecil, Anna melilitkan sisa tali ke leher pria itu dan menusukkan belati tadi ke paha lawannya agar tidak bisa mengejarnya.

"Sudah kubilang, kan?" bisik Anna di telinga pria yang mengerang kesakitan itu. "Kau amatir."

Anna berdiri tegak, menyeka darah di dagunya dengan punggung tangan, tepat saat sesosok bayangan tinggi muncul dari balik kabut asap pintu yang hancur. Langkah kaki itu terdengar berat dan berwibawa.

James Moretti berdiri di sana. Ia memegang senjata api dengan santai, menatap sekeliling gudang yang kini penuh dengan anak buah Syndicate yang terkapar akibat serangan mendadaknya. Mata James beralih ke Anna yang berdiri di tengah ruangan dengan belati berlumuran darah di tangannya. James menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang selalu membuat Anna ingin menamparnya.

"Kelihatannya aku datang terlalu cepat," ujar James dengan nada mengejek yang khas. "Aku berharap bisa melihatmu sedikit lebih... memelas, Anna."

Anna mendengus, melempar belatinya ke lantai. "Aku tidak butuh bantuanmu, Moretti. Kau merusak rencana pelarianku."

"Rencana?" James melangkah mendekat, mengabaikan mayat-mayat di sekitarnya. "Kau hampir kehilangan lehermu. Kalau aku tidak meledakkan pintu itu, kau mungkin sudah menjadi sejarah."

Suasana mulai memanas antara mereka! Tiba-tiba, suara kokangan senjata terdengar dari lantai atas gudang. Ternyata masih ada sisa-sisa anggota Syndicate yang mengepung mereka dari ketinggian.

Anna tidak membuang waktu. Sebelum James sempat membalas ejekannya, dengan gerakan secepat kilat, Anna menerjang ke arah James. James, yang tidak menyangka Anna akan menyerangnya dalam kondisi babak belur, kehilangan keseimbangan selama satu detik—dan itulah yang dibutuhkan Anna. Dengan teknik pelumpuhan yang ia pelajari dari instruktur tempur ayahnya, Anna memelintir pergelangan tangan James dan merebut pistol Glock-17 dari tangan pria itu.

"Apa yang kau—"

"Diam, Moretti!" bentak Anna sambil menodongkan senjata itu ke arah tangga lantai dua, tepat saat tiga orang penembak Syndicate muncul dari balik pagar besi.

DOR! DOR! DOR!

Tiga tembakan akurat, masing-masing bersarang di dada musuh. Anna menembak dengan dingin, tanpa kedipan mata.

James mundur selangkah, merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat serangan Anna tadi. Ia tidak terlihat marah, melainkan menatap Anna dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kesal dan kagum yang disembunyikan rapat-rapat.

"Senjata itu harganya mahal, Valerius. Dan kau baru saja menggunakannya tanpa izin," ujar James dingin, meskipun ia tahu mereka masih dalam bahaya.

"Akan kukirimkan cek untuk menggantinya. Sekarang, keluar dari jalanku," balas Anna. Ia mencoba melangkah, namun kakinya yang sempat dipukuli hebat tadi tiba-tiba lemas. Ia limbung dan nyaris terjatuh jika saja tangan James tidak dengan sigap menangkap pinggangnya.

"Lepaskan!" Anna meronta, tapi tenaganya sudah terkuras habis.

"Jangan bodoh," desis James di telinganya. "Kau punya lubang peluru di kakimu yang bahkan tidak kau sadari karena adrenalinmu terlalu tinggi. Kau tidak akan bisa keluar dari pelabuhan ini sendirian tanpa pingsan di tengah jalan."

Anna menunduk dan baru menyadari celananya basah oleh darah yang merembes. Rasa sakit yang luar biasa mulai menghantam kesadarannya.

"Aku... aku bisa sendiri..." suara Anna mulai melemah, tapi matanya tetap menatap tajam ke arah James.

James menghela napas panjang, lalu tanpa peringatan, ia mengangkat tubuh Anna dalam gendongannya. "Aku tidak menolongmu karena aku peduli, Anna. Aku menolongmu karena jika kau mati di tangan orang lain, aku tidak punya alasan lagi untuk bangun pagi dan merencanakan kehancuran keluargamu."

James membawa Anna menuju mobilnya di luar gudang. Namun, masalah baru muncul: Di gerbang pelabuhan, iring-iringan mobil hitam milik ayah Anna (Tuan Valerius) baru saja sampai. Tuan Valerius melihat putrinya berada di pelukan musuh bebuyutannya, James Moretti. Apa yang akan terjadi?

To be continue!

Enemies [valerius & moretti]Stories to obsess over. Discover now