Awal

11 0 0
                                        

"Kamu hanya perlu menyediakan senjata disisi mu, biar aku yang berdiri di garis depan"

—Konvergensi

—Konvergensi

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

^o0o^

~Tahun 1968

Malam itu, pertumpahan darah terjadi di berbagai penjuru daerah. Suara pistol menggema di mana-mana, bersahut dengan teriakan kesakitan. Bau amis darah bercampur anyir dan apek memenuhi udara. Runtuhnya gedung serta ledakan terdengar dari segala arah.

Towir Kartadireja, ketua faksi itu, akhirnya berhasil mengalahkan musuhnya hanya dalam kurun waktu satu jam. Dentuman terakhir mereda, meninggalkan keheningan yang dipenuhi bau mesiu dan darah.

Ia meniup ujung senjatanya dengan senyum puas terlukis di bibir. Tubuhnya penuh luka memar akibat perkelahian sengit, napasnya masih berat. Towir lalu menekan tombol komunikasi di alat kecil yang terpasang di telinganya.

“Misi selesai,” lapornya singkat.

^o0o^

Towir merajut langkahnya menyusuri lorong sempit markas bawah tanah itu. Sepatu hitamnya beradu pelan dengan lantai besi, memantulkan gema pendek yang terdengar dingin dan terukur. Tak ada raut lega di wajahnya—hanya ketenangan khas seorang agen yang tahu tugasnya baru benar-benar berakhir ketika ia kembali hidup.

Pintu baja di ujung lorong terbuka otomatis. Cahaya putih menyilaukan sejenak, menyingkap ruang pusat kendali yang dipenuhi layar hologram dan peta misi yang perlahan memudar.

Di salah satu layar, indikator target berubah menjadi netral—tanda keberhasilan mutlak.

“Konfirmasi diterima,” suara berat pimpinan operasi terdengar dari balik interkom. “Semua bukti sudah diamankan. Tidak ada jejak yang tertinggal.”

Towir berhenti sejenak, menoleh ke layar itu. Kilasan misi barusan melintas cepat di benaknya—penyusupan senyap, kode yang dipecahkan dalam hitungan detik, dan satu kesalahan kecil yang hampir saja mengorbankan segalanya. Namun ia berhasil. Seperti biasa.

Di luar markas, hujan turun tipis, menyamarkan jejak keberadaannya saat helikopter hitam tanpa tanda mendekat. Mesin berputar pelan, lalu membawa Towir pergi meninggalkan kota yang tak pernah tahu bahwa malam itu, sebuah ancaman besar telah dilenyapkan dalam diam.

^o0o^

Towir kembali pulang ke rumah saat fajar hampir menyingsing. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang seharusnya menyambutnya dengan kehangatan keluarga. Ia baru saja meletakkan tas misinya ketika naluri lamanya berteriak—ada yang salah.

Belum sempat ia berbalik, ledakan kecil mengguncang halaman belakang. Kaca jendela bergetar, disusul bayangan-bayangan hitam yang bergerak cepat dari segala arah. Musuh. Mereka datang lebih cepat dari perkiraannya.

“Masuk kamar. Sekarang!” perintah Towir dengan suara ditekan saat melihat putra sulungnya, Lucerne, berdiri kaku di ambang pintu.

“Tapi Ayah—”

“Tidak ada tapi.” Towir menggenggam bahu Lucerne kuat-kuat, menatap matanya dalam. “Pergi lewat lorong rahasia. Jangan menoleh. Jangan kembali.”

Lucerne hendak bertanya, namun jeritan ibunya dari ruang tengah memecah keberaniannya. Towir mendorongnya ke arah panel tersembunyi di balik lemari buku. Pintu rahasia terbuka, memperlihatkan lorong sempit yang gelap.

“Ingat ini, Lucerne,” bisik Tauir cepat.

“Hidupmu lebih penting dari apa pun. Jika suatu hari kau tahu kebenarannya… jangan biarkan kebencian menguasaimu.”

Pintu tertutup rapat tepat saat tembakan pertama menghantam dinding. Dari balik lorong, Lucerne hanya mendengar suara benturan, teriakan tertahan, dan dentuman senjata—suara yang akan menghantuinya sepanjang hidup.

Di dalam rumah, Towir bertarung habis-habisan. Ia melindungi istrinya dan orang tuanya dengan tubuhnya sendiri. Namun jumlah musuh terlalu banyak, dan malam itu tak berpihak pada keberanian. Satu per satu, mereka gugur di bawah cahaya lampu yang pecah dan api yang menjilat tirai.

Saat musuh pergi, rumah itu tinggal puing dan kesunyian.

Lucerne selamat.

Ia tidak tahu siapa yang menyerang. Ia tidak tahu alasan darah itu tumpah. Ia hanya tahu satu hal: keluarganya tak pernah kembali.

Hingga tahun demi tahun berganti, hidup membawa Lucerne pada sebuah pertemuan yang tak pernah ia rencanakan. Di antara langkah yang lelah dan masa lalu yang masih membekas, ia bertemu dengan Felisse—seseorang yang hadir tanpa mengorek luka, namun perlahan mengisinya.

Pertemuan itu sederhana, namun berujung pada kebersamaan yang tumbuh seiring waktu. Lucerne dan Felisse saling mengenal, saling memahami, hingga akhirnya memilih berjalan berdampingan. Dari hubungan itulah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.

Ia diberi nama Leontius Kartadireja.

Visual:Lucerna Kartadireja

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.


Visual:
Lucerna Kartadireja

Visual:
Velisse Kartadireja

•••

KonvergensiDonde viven las historias. Descúbrelo ahora