Chapter 1 : Panggilan Tuhan

19 2 2
                                        


"Kehadiranmu adalah jawaban atas doa-doaku yang paling sunyi, membawa harapan dari tanah jauh ke dalam pelukanku."

-WLS-

Ruangan Rumah sakit Brawijaya sunyi, hanya terdengar suara pelan dari deru AC yang mengalirkan udara sejuk ke seluruh sudut ruangan. Di sebuah meja sederhana yang tertata rapi, Hasna duduk dengan punggung tegak, matanya terpaku pada layar laptop di depannya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, menyusun kata demi kata dengan teliti, menata laporan dengan ketelitian yang menjadi ciri khasnya. Cahaya lampu meja memantulkan bayangan lembut pada wajahnya yang serius namun tenang di balik maskernya.

Di tengah suasana yang tenang itu, pintu ruangannya diketuk pelan. Hasna Soraya mengangkat pandangannya, sejenak terlepas dari layar laptop. Di depan pintu, berdiri Sefira, sang senior yang dikenal luas atas kiprahnya di berbagai kegiatan sosial. Mata Sefira berbinar, "Hasna, kamu punya waktu luang untuk beberapa bulan ke depan?" tanya seniornya, Sefira, sambil duduk di kursi seberang meja kerja Hasna.

Hasna menatap Sefira, penasaran. "Insya Allah ada, Mbak. Ada apa ya?"

Sefira mengambil napas dalam, "Lembaga sosial yang biasa kutangani baru saja membuka program kemanusiaan di Palestina, khususnya untuk membantu anak-anak yang mengalami trauma akibat konflik. Kami butuh psikolog penghafal Al-Quran yang bisa memberikan pendampingan khusus di sana, dan aku berpikir... kamu mungkin tertarik."

Hasna terdiam sesaat. Tawaran itu begitu berat, tapi juga sangat berarti. Menjalankan misi di Palestina adalah sebuah tantangan besar dan sekaligus kesempatan berharga untuk mengaplikasikan ilmunya dalam membantu mereka yang benar-benar membutuhkan.

"Aku... belum pernah ikut misi seperti ini sebelumnya," Hasna berkata dengan nada ragu, meskipun dalam hatinya ia mulai tergerak.

Sefira tersenyum hangat. "Aku tahu ini tidak mudah. Tapi aku yakin kamu punya hati dan kemampuan yang dibutuhkan. Jika kamu siap, aku akan mendampingimu selama perjalanan ini."

Baginya, ini adalah panggilan untuk memberikan yang terbaik dalam membantu orang lain, sekaligus ujian ketangguhan yang akan mengasah kemampuan dan empatinya sebagai seorang psikolog. "Aku izin kedua orang tuaku dulu ya mbak, sama sholat istikharah."

Sefira mangangguk. "Iya, tapi segera hubungi Mbak ya, karena kita gak punya waktu lama untuk persiapan keberangkatan."

Pertama kali mendapat tawaran untuk bergabung dalam misi kemanusiaan. Sebagai seorang psikolog muda, ia merasa panggilan ini lebih dari sekadar tugas—ini adalah kesempatan untuk memberikan dampak nyata pada kehidupan anak-anak yang terluka oleh konflik. Namun, di balik semangat yang membara, Hasna tahu bahwa perjalanan ini memerlukan persiapan matang di berbagai aspek seperti logistik, mental, dan emosional.

Hasna duduk di kamarnya, menatap ponselnya sejenak. Hatinya sedikit ragu, meskipun sudah mempersiapkan segala sesuatunya, ia tahu ini adalah langkah besar yang memerlukan izin penuh dari orang tua dan kakaknya, yang selama ini menjadi sosok pelindung dalam hidupnya.

Hasna menarik napas panjang sebelum menekan nomor sang ayah—Rasyeed. Telinganya mulai berdering, dan tak lama suara ayahnya yang tegas terdengar.

"Assalamualaikum Hasna, kamu sehat, Nak?" suara Rasyeed terdengar serius, seperti biasa.

"Waalaikumsalam Iya, Abi. Alhamdulillah. Tapi, ada hal yang penting ingin aku bicarakan." Hasna mengambil jeda. "Aku mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Palestina bersama tim kemanusiaan. Aku akan memberikan bantuan medis dan psikologis kepada anak-anak di sana," lanjut Hasna dengan suara yang berusaha tenang.

Di sisi lain, Rasyeed terdiam beberapa detik, memproses informasi itu. Lalu, dengan nada yang lebih lembut, Rasyeed berkata, "Kamu yakin dengan keputusan itu, Nak? Palestina itu kan daerah yang penuh dengan konflik dan tantangan. Abi tahu kamu pasti sudah mempersiapkan diri, tapi sebagai seorang ayah, Abi tetap merasa khawatir. Bagaimanapun kamu perempuan yang belum menikah dan dulu abi sangat ingat ketika harus meninggalkan kalian dinas di Lebanon. Kalian menangis dan mendiami Abi selama seharian, padahal esok pagi Abi harus pergi." Hasbi tertawa, mencairkan suasana hati Hasna. "Tapi, kamu sudah dewasa dan Abi yakin kamu bisa mengambil keputusan yang bijak. Kamu harus jaga diri, jangan terlalu berisiko." lanjutnya

Hasna tertawa ringan, mengingat memorinya sebagai anak yang terlahir dari seorang jendral TNI Angkatan Darat. "Insya Allah, Abi. Aku akan hati-hati dan mengikuti semua prosedur dengan baik. Aku juga sudah mempersiapkan mental dan segala hal yang diperlukan. Semoga Allah selalu menjaga kita semua."

"Kamu selalu punya hati yang besar, Hasna," Ujar Rasyeed dengan lembut. "Jaga diri, Nak. Kami selalu mendukungmu. Bagaimanapun ini impianmu ketika memutuskan memilih jurusan Psikologi di Universitas Indonesia. Jangan lupa hubungi Ummi, tapi sepertinya ia masih di rumah sakit."

Hasna mengangguk, "Iya Abi, setelah ini Hasna hubungi Ummi."

Setelah itu, Hasna menghubungi ibunya. Suara ibu yang penuh kehangatan menyapa. "Assalamualaikum Hasna, ada apa? Kenapa telepon? Tumben sekali"

Hasna terkekeh, ia memang jarang menghubungi sang Ibu, ia lebih sering menghampiri ibunya meski memakan waktu 2 jam dari kediamannya sendiri. "Waalaikumsalam Ummi, Ummi masih di rumah sakit?"

"Iya Nak, masih banyak jadwal Operasi Pasien. Memangnya ada masalah apa Hasna? Tidak biasanya."

Hasna terdiam sejenak. "Aku dapat tawaran untuk pergi ke Palestina. Aku ingin membantu anak-anak yang terluka karena konflik di sana. Aku butuh izin Ummi dan doa agar bisa menjalani tugas ini dengan baik."

Ibu Hasna—Zainab, cemas disebrang sana, tapi ia juga memahami betul keputusan anaknya. "Hasna, meskipun hati Ummi berat, Ummi tahu ini adalah panggilan hatimu. Tapi ingat, kamu harus menjaga diri baik-baik di sana. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika ada kesulitan. Kami akan selalu mendukungmu. Hubungi juga kakakmu, bagaimana pun dia pernah tugas di kawasa rentan konflik seperti palestina. Barangkali kamu bisa Tanya-tanya kepada kakakmu."

"Iya Ummi, setelah ini Hasna mau hubungi Kakak. Terima kasih, Ummi. Doakan Hasna, ya. Semoga Allah memberikan kemudahan. Hasna tutup ya Ummi. Assalamualaikum."

"Iya Nak, Waalaikumsalam."

Ketika sambungan terputus Hasna kembali menekan kontak seseorang. Suara di ujung telepon terdengar sangat ramai.

"Assalamu'alaikum, Kak Hanan. Lagi sibuk?" suara Hasna terdengar lembut, mencoba menyembunyikan kecemasannya.

"Wa'alaikumussalam, Hasna. Ada apa? Kenapa telepon malam-malam begini?" jawab Hanan dengan nada santai, meski ada sedikit kebingungan di dalam suaranya.

Hasna menggigit bibirnya sejenak. "Kak, ada hal penting yang ingin aku bicarakan."

Hanan yang sejak dulu sangat protektif terhadap adiknya, langsung merasakan perubahan nada suara Hasna. "Ada apa? Kok kedengerannya serius?"

"Jadi gini, Kak... Aku dapat tawaran untuk ikut misi kemanusiaan di Palestina. Aku akan membantu anak-anak yang trauma akibat konflik di sana. Aku pikir ini panggilan hidupku, dan aku ingin melakukannya. Tapi, aku merasa aku perlu izin dan doa dari Kak Hanan juga, sebelum memutuskan benar-benar berangkat," ucap Hasna, suara terpenting dan ketulusannya jelas terdengar.

Suasana hening sejenak di telepon, Hanan pasti sedang mencerna kata-kata adiknya. Setelah beberapa detik, terdengar suara Hanan yang agak dalam, menimbang setiap kata yang akan diucapkannya. "Palestina, ya? Kamu yakin? Kondisi di sana kan nggak mudah, banyak hal yang bisa terjadi."

"Aku tahu, Kak. Tapi ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagiku. Aku nggak bisa menutup mata pada anak-anak yang butuh bantuan. Dan aku sudah mempersiapkan semuanya dengan matang." Hasna menjelaskan dengan sabar.

Hanan terdiam sejenak, kemudian dia berkata, "Aku nggak bisa melarangmu, Hasna, karena aku tahu kamu sudah sangat dewasa dan berani membuat keputusan sendiri. Tapi... kamu harus hati-hati. Dan jika nanti ada sesuatu yang bikin kamu merasa nggak aman, jangan ragu untuk segera menghubungi kami. Kita selalu di sini untukmu, ya?"

Hasna tersenyum lega mendengar kata-kata kakaknya. "Terima kasih, Kak. Aku janji akan hati-hati dan menjaga diri. Aku juga akan selalu menghubungi Kakak dan keluarga jika ada apa-apa."

Hanan kemudian memberi pesan terakhir, "Semoga lancar semuanya, dan semoga kamu bisa memberikan yang terbaik di sana. Jangan lupa jaga kesehatan. Kalau kamu butuh bantuan, jangan ragu untuk hubungi aku."

"Pasti, Kak. Terima kasih banyak atas dukungannya. Aku akan selalu ingat pesan Kakak. Aku tutup ya Kak, Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam, hubungi kakak jika ingin berangkat."

"Iya." Balas Hasna dengan sumringah pada wajahnya

Keluarga Hasna, meskipun penuh dengan kekhawatiran, memberikan izin dan dukungan penuh untuk langkah besar ini. Dengan restu dari orang tua dan kakaknya, Hasna merasa lebih yakin untuk menjalankan misinya ke Palestina.

WANITA LAKSANA SURGAKUStories to obsess over. Discover now